Asarpin

Ada fenomena menarik tentang identitas dan lokalitas belakangan ini. Ada tanda-tanda kebangkitan kembali identitas lokal di sejumlah negara Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri, terjadi proses penguatan identitas seiring dengan proses pembusukan modernitas.

Sejak reformasi hingga diterapkannya otonomi daerah, klaim-klaim tentang identitas, ras, dan prasangka etnis, kian menonjol. Di berbagai panggung dan karnaval politik, ada tanda-tanda menguatnya semangat kesukuan. Bahkan ada fenomena yang tak disangka-sangka telah memunculkan paradoks di sekitar kita: semangat merayakan globalitas justru melahirkan semangat lokalitas.

Ketika wacana modernitas muncul, sebagian orang meragukan apakah modernitas akan menyingkirkan kebudayaan lokal atau sebaliknya. Sekarang, ketika globalisasi kian menunjukkan wajahnya yang gamblang, orang bertanya hal serupa. Sebagian pemerhati budaya mengkhawatirkan jika globalisasi akan menggerus budaya lokal, tapi sebagian lain justru menguatkan yang sebaliknya.

Sejumlah referensi mengenai globalisasi yang pernah saya baca selama ini, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa globalisasi membuat kebudayaan lokal bangkit dan menggeliat di ruang-ruang publik dalam dua puluh tahun terakhir. Mirip seperti tesis Gilles Kepel dalam konteks agama, yaitu ada semacam pembalasan Tuhan. Di bidang politik dan budaya, mungkin bisa ditafsirkan sebagai pembalasan daerah atas pusat.

Giddens adalah salah seorang pemikir yang tidak sependapat dengan anggapan tentang hancurnya budaya lokal sebagai akibat dari globalisasi. Menurut Giddens, sebagaimana dinarasikan I. Wibowo dalam esai Giddens tentang Modernitas, di mana-mana sekarang identitas kebudayaan lokal dihidupkan lagi justru ketika sebagian besar negara sedang memasuki arus globalisasi. Giddens memberi contoh tentang tuntutan kemerdekaan dari negara Skotlandia dan Quebec. Tapi kita juga bisa memasukkan fenomena Aceh dan Papua di mana tuntutan kemerdekaan pernah bergema. Tuntutan itu, kata Giddens, tidak boleh ditafsirkan semata-mata dari latar belakang sejarah.

Rita Abrahamsen juga melihat fenomena kebangkitan budaya lokal justru ketika sebagian besar pemikir kebudayaan sedang mengkampanyekan budaya lokal. Proyek-proyek Bank Dunia di Asia dan Afrika dengan kemitraan swasta selama ini, membuat identitas yang diharpkan terkubur justru menggeliat bangkit dengan tanda-tanda munculnya isu terorisme internasional yang dikampanyekan Amerika Serikat.

Mereka yang selama ini mengkritik idernititas kultural justru menghasilkan semangat yang lebih besar untuk merayakan idenitas kultural. Mereka yang merajut identitas suatu bangsa dan ras justru menghasilkan orang yang memperbesar semangat idetntitas suatu bangsa dan ras.

Dengan globalisasi, identitas mendapatkan intensitasnya, bahkan menemukan momentumnya yang tepat. George Junus Aditjondro dalam Korban-Korban Pembangunan juga menyatakan hal yang sama. Papua pernah memproklamasikan negara merdeka, dan ini terkait dengan kebangkitan identitas. George Junus merekomendasikan untuk merajut identitas kultural secara hati-hati.

Jika sejumlah sinyalemen yang saya lontarkan di muka itu benar, bagaimanakah kita menempatkan ajakan sejumlah kalangan selama ini agar kita mulai menulis dengan bahasa daerah, menggalakkan budaya lokal, menampilkan ciri-ciri identitas kultural, bahkan usulan untuk memperdakan bahasa daerah di lingkungan Pemda agar secara konsekuen pegawai-pegawai Pemda berkomunikasi dengan bahasa daerah?

Tidakkah ajakan semacam itu justru bisa berdampak sebaliknya dari cita-cita mulia yang diharapkan? Apakah artinya ajakan untuk menulis dengan bahasa daerah kalau bukan ingin menunjukkan identitas daerah? Ajakan menggalakkan budaya lokal juga problematis karena apa yang lokal kini sudah tak sejelas dan seterang yang kita bayangkan. Bahkan kita sebut lokalitas, ternyata justru isinya globalitas.

Dalam konteks sastra, ajakan untuk menulis sastra daeah lengkap dengan bahasa dan logatnya, juga menjadi fenomena yang mesti disikapi dengan hati-hati. Saya teringat pesimisme Arif Bagus Prasetya kepada mereka yang terlampau kuat mensosilisasikan sastra lokal. Dalam esai Perihal Tegangan Global-Lokal (Media Indonesia, 15/8/2004)—esai yang semula merupakan makalah yang disampaikan dalam Temu Sastrawan Mitra Praja Utama 2004—Arif mensinyalir gelagat yang tidak sehat mengenai debat budaya lokal selama ini.

Menurut Arif, karya sastra yang mengangkat warna lokal lebih sebagai reaksi terhadap kenasionalan, yang terasa lebih genting daripada sebagai warna global. Suatu saat sastra nasional kita akan mere-kanonisasi konstelasi sastra dunia, seperti kasus sastra Amerika Latin yang fenomenal, akan tetapi resikonya sangat jelas: penciptaan sastra dengan niat semacam itu terlalu mudah untuk jatuh ke dalam “kepatutan politik” (political correctness) yang hanya memungkinkan lahirnya karya sastra yang gagal memperkaya khazanah kesusasteraan di aras manapun, baik lokal, nasional maupun global.

Sastra lokal seperti pisau bermata dua: ia jadi berkah jika tidak salah penggunaan, tapi ia menjadi kerikil tajam bagi bangsa jika salah kaprah. Bisa juga diartikan berkah bagi sastra Indonesia untuk bisa keluar dari kungkungan dikotomis sebagai sastra kelas dua untuk masuk ke dalam sastra kelas dunia. Tapi menjadi kerikil tajam apabila aspek lokal yang dimanfaatkan dalam sastra Indonesia (modern) itu cuma berhenti pada pencarian identitas dalam kerangka globalisme dan pluralisme, yang meniscayakan akan lahirnya primordialisme dalam sastra Indonesia. Indonesia!
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Categories: Esai