LORONG WAKTU; Melihat Sisi-sisi “DEFERENSI” Iksan Brekele*

M.D. Atmaja**

“Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya” (Samyutta Nikaya).

Tanpa untuk menisbatkan mengenai sesuatu apa pun, saya memang sengaja menggunakan kalimat bijak Nikaya di atas untuk mengawali tulisan ini, yang berusaha untuk membawa petuah itu menjadi penjelasan singkat atas sebuah perjalanan manusia dalam mencapai titik-titik kehidupan manusia yang bertingkat (tingkatan di sini bukan kelas sosial). Satu perjalanan kehidupan manusia, di dalam beberapa keyakinan dianggap sebagai proses belajar dan pemahaman serta ajang ujian yang pada nantinya menentukan kehidupan manusia. Akantetapi, di dalam kalimat yang disampaikan Nikaya di atas, dapat dilihat alur kehidupan yang jelas, bahwa kehidupan manusia bukan hanya sekedar mengenai semangat untuk belajar, untuk memahami atau hanya sekedar sebagai ruang ujian bagi manusia untuk memilih siapa yang paling berprestasi di dalam kebaikan.Penggambaran akan perjalanan kehidupan ini terlihat di dalam karya Iksan Brekele dengan judul Deferensi (2010) yang mengetengahkan alur kehidupan dengan jelas. Sebelum saya menbicarakan Deferensi (2010) saya akan menjabarkan secara sekilas mengenai konsep perjalan kehidupan yang telah diungkapkan oleh Nikaya.

MANUSIA SEBAGAI PEMEGANG OTORITAS

Manusia sebagai pemegang otoritas kehidupannya, yang mana mengajak kita untuk menimbang-nimbang kembali siklus takdir yang seringkali kita jadikan sebagai budak (dan kambing hitam) untuk menjadi tempat dimana kita akan menyalahkan suatu kejadian yang tengah kita rasakan. Dengan mudah sekali, kita (manusia ini) menyalahkan atas penderitaan yang tengah kita rasakan. “Penderitaan ini dari Tuhan,” gumam kita untuk pertama kalinya ketika penderitaan menghujam tikam jantung kita, “ini lah takdir hidup yang memang harus aku jalani atas kehendaknya” ungkap kita selanjutnya untuk mengukuhkan diri bahwa sebenarnya manusia tidak bersalah atas kehidupan yang kita terima.

Namun apa memang benar demikian itu? Ketika di saat mengalami fase kehidupan yang lain dimana memperoleh kebahagiaan, hal yang (biasanya) muncul untuk pertama kali adalah kebanggaan dan keterlupaan pada takdir Tuhan itu sendiri. Manusia dengan mudah melupakan takdir itu, dan menisbatkan diri sebagai pelaku tunggal yang membuatnya mampu mencapai puncak-puncak itu.

Dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas hal ini lebih jauh, hanya sebagai pengantar untuk menyatakan bahwa sebenarnya manusia itu sendiri adalah sebagai pemegang otoritas atas kehidupannya, yang entah itu untuk bahagia atau untuk penderitaan. Manusia itu sendiri yang memiliki hak untuk berusaha mewujudkan apa saja yang ia ingini dan bagaimana kehidupan yang harus dia jalani. Tuhan memberikan kemampuan bagi manusia untuk membangun dan membentuk kehidupannya sendiri. Kalau secara kasarnya, dikatakan bahwa Tuhan melihat bagaimana manusia itu berusaha, kemudian kalau Beliau berkenan, akan langsung meng-acc usaha manusia itu. Untuk kebahagiaan atau pun untuk penderitaan.

Pada babak yang lain, Tuhan telah memberikan bekal manusia yang lebih dari cukup untuk menjadi pelaku otoritas utama bagi kehidupannya sendiri. Otoritas mutlak ini hadir bersamaan dengan jalan pemahaman, perenungan, yang bagi masyarakat Jawa dikatakan bahwa “Urip mung mampir ngombe lan sakdermo anglakoni” yang dapat dijabarkan sebagai proses kehidupan yang sebenarnya. Lalu apa hubungannya dengan otoritas itu? Hubungannya adalah dimana ketika manusia mampu menjalankan sikap hidup yang diungkapkan Nikaya atau pepatah Jawa di atas, kebahagiaan dan penderitaan itu bisa diatur dengan sendirinya, terserah pada manusia bagaimana dia menggunakan otoritas yang dia miliki untuk menentukan hal tersebut.

Karena pada hakekatnya, antara kebahagiaan dan penderitaan memiliki kandungan esensi yang hampir sama, memiliki nilai yang sama apabila hati kita mampu menerima apa yang telah kita dapatkan setelah melalui proses perjuangan yang panjang dan meletihkan. Bahagia atau penderitaan hanya masalah bagaimana kita menerima hal tersebut lalu, otoritas kita sendiri lah yang pada akhirnya menentukan, apakah itu akan menjadi kebahagiaan atau akan menjadi penderitaan.

MENIKMATI OTORITAS MANUSIA DALAM DEFERENSI

Kehidupan itu sungguh kompleks, namun menjadi berasa simple (ringkas) sekali apabila kita melihat garis-garis dalam gambar DEFERENSI yang Iksan Brekele sajikan. Kehidupan itu, seperti yang terlihat secara sekilas, seperti lorong waktu yang menuju kepada suatu titik yang menjadi akhir bagi perjalanan kehidupan manusia. Akantetapi, setelah kita melihatnya lebih jauh, perjalanan yang tertuang di dalam karya Iksan Brekele ini bukan secara utuh sebagai perjalanan dunia nyata yang mana dijalani dengan langkah kaki tubuh kita yang hanya dua ini.

Deferensi (baca: Perbedaan) dalam memandang kehidupan memberikan proses pemahaman yang berbeda, memberikan efek yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Seseorang yang mau melakukan perjalanan, di dalam lorong waktu kehidupannya, dia harus rela untuk melepaskan keberadaannya untuk tenggelam di dalam ketiadaan yang pada akhirnya memunculkan eksistensi diri yang memiliki makna yang dalam. Perjalanan ini (dalam Deferensi) adalah perjalanan batin yang harus ditempuhi dengan kaki jiwa, dalam perjalanan yang lebih melelahkan dari perjalanan di atas dunia realitas namun musti dilakukan dengan kemauan, semangat, dan harapan yang lebih besar.

Hidup selayaknya ruang-ruang yang memiliki banyak pilihan, begitu kata sang seniman di dalam karyanya. Pilihan-pilihan itu adalah di dalam ruang yang berbeda pada babak yang lain dengan babak lainnya lagi, bahkan di ruang yang jauh berbeda di dalam babak yang sama. Lingkaran adalah babak kehidupan manusia yang pada posisi (di lingkaran) yang sama memiliki perbedaan yang jelas yang akan membawa kita (penikmat) pada pertanyaan: Bagaimana kalau kita (si seniman) berada di tempat yang berbeda? Apakah dia akan mampu berdiri untuk memulai? Atau kah sudah terpuruk sebelum memulai?

Di tempat yang sama dan di dalam satu waktu yang sama, seseorang dapat merasakan perasaan dan pemahaman yang berbeda. Setiap sisi dalam perjalanan pemahaman tersebut memberikan nilai dan nuansa tersendiri, tergantung bukan di tempat yang mana kita berpijak namun lebih kepada bagaimana perasaan kita dalam menghayati peran yang musti kita mainkan di ketika itu. Deferensi membidik dengan simbolismenya, antara lingkaran yang menyiratkan akan jalan hidup yang dalam masyarakat Jawa dianggap sebagai Cakra Manggilingan, roda yang selalu berputar untuk membawa nasib manusia pada perubahan-perubahan yang kadangkala tidak disangka, “Kadangkala berada di atas, sebagai manusia yang beruntung, memiliki kekayaan dan kekuasaan serta terhindarkan dari ketakutan-ketakutan. Kadangkala juga berada di bawah yang dipenuhi dengan penderitaan dan perasaan kurang.”

Akantetapi, di dalam perputaran roda itu, perasaan manusia dalam kerelaan dan keikhlasan menerima setiap tempat menentukan bagaimana kondisi tempat tersebut. Apakah itu surga atau neraka. Perbedaan dalam menerima dan merasakan inilah yang menjadi otoritas mutlak manusia dalam menentukan bagaimana dia akan menjalani kehidupannya.

PEREMPUAN, CAHAYA DI DALAM LORONG WAKTU

Tuhan menciptakan manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan berpasang-pasangan. Adam ketika berada di Surga meminta pada Tuhan agar diciptakan seseorang yang mendampingi kehidupannya. Akhirnya, Kun, dan jadilah Hawa, kaum perempuan yang diketika ini berhamburan untuk saling mengisi satu sama lain bersama lelaki.

Deferensi di dalamnya mengandung nilai-nilai keperempuanan, yang tergambar dengan jelas. Perempuan sebagai simbol yang mengandung nilai akan kompleksitas dan misteri yang masih terselubung. Dimana seorang perempuan mampu berubah dari belatung yang dalam prosesnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, sampai akhirnya, dia menjadi seorang “empu”. Hakekat dari simbolisme empu ini memberikan makna yang besar di dalam Deferensi, sebab, perempuan di sana mendapatkan perlakuan yang dapat dikatakan tidak wajar. Pada awalnya, perempuan memiliki semangat yang tinggi di dalam menjalani babak-babak kehidupannya yang pertama. Di fase perkembangan selanjutnya, dia diceritakan mengalami kelelahan, baik lahir maupun batin sampai akhirnya tergeletak begitu saja di tempat yang sama di waktu yang berbeda.

Pada penggambaran ini, terjadi adanya penggambaran akan ketakutan dan kegamangan seorang perupa di dalam menempatkan objek visualnya. Perempuan, yang merupakan perwakilan dari simbolisme akan kelembutan dan kekuasaan, serta di dalamnya mengandung misteri yang besar tidak terpahami dengan baik karena didorong oleh kegamangan dan ketakutan (yang mungkin saja berlebih).

Di pihak yang lain, proses pergantian babak kehidupan yang telah termanifestasikan di dalan deferensi dapat diungkapkan dalam sudut pandang lain. Bahwa simbolisme perempuan dapat direduksi sebagai sibolisme seorang empu, yang mana, empu merupakan manusia bijaksana yang menjalani kehidupannya di jalan spiritual yang tinggi. Empu seorang yang membuat keris (dan benda-benda pusaka yang lain) memiliki kedekatan batiniah (dan spiritual) yang tinggi dengan Kekuatan Kosmos (baca juga: Tuhan YME).

Paradigma ini lah yang mungkin sengaja (atau tanpa sengaja) dibangun oleh sang perupa, bahwa seorang Empu yang memiliki pengalaman spiritual tinggi pun akan sangat mungkin untuk terjebak di dalam ketakutannya sendiri. Bahkan, si perempuan, si Empu itu tergeletak di kondisi yang sama di waktu yang berbeda. Secara singkat, diungkapkan bahwa seorang manusia yang sudah memiliki kedekatan, ilmu spiritual yang tinggi terkadang masih bisa terpelanting di dalam ketidak-berdayaan, kehinaan, kegelapan, ketakutan, kegamaan, atau keterlupaan pada hakekat kehidupan itu sendiri.

Dan di dalam Deferensi pun hadir, adanya guratan-guratan tipis, yang pada akhirnya menuju satu titik hitam. Ini pun menjadi pertanyaan baru, kenapa tidak pencerahan yang berada di ujung perjalanannya? Ah, terlalu panjang dan karena tulisan ini sudah dibatasi, maka, untuk mempersingkat deskripsi yang panjang lebar dan monoton, lebih baik untuk menguraikannya, tulisan ini ditutup dengan mengutup sebait Kebijaksanaan: “Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri seseorang dicemari; oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan; oleh diri sendiri seseorang disucikan. Baik kekotoran maupun kesucian bergantung pada diri sendiri. Tidak ada seorangpun yang disucikan oleh orang lain” (Dhammapada V. 165)
==========

*) Refleksi atas Lukisan dengan judul Deferensi karya Iksan Brekele di atas Hardcolouring 140 x 240 cm.
**) M.D. Atmaja adalah seorang petani yang memegang konsep alon-alon sing penting kelakon dan menjalani hidup dengan sederhana, sebab apa adanya adalah pilihan. Karya yang telah dipublikasikan yaitu Pembunuh di istana Negara (Novel, 2010) oleh SDS Fictionbooks.