Mencari Warna Setelah Tsunami

Utami Widowati
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Tanah Aceh, nyeri kami nyeri daging dan tulang kami nyeri darah dan tangis kami nyeri gigil nyeri perih…”

INILAH sepenggal puisi Fikar W. Eda, penyair dan wartawan koran Serambi Indonesia di Jakarta, yang dimuat dalam buku Maha Duka Aceh. Antologi puisi dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, ini terbit pada Januari 2005, hanya sebulan setelah bencana.

Buku ini memang bukan satu-satunya madah duka nestapa selepas bencana dahsyat itu. Belasan buku bertema serupa-bukan hanya buku-buku puisi-terbit sepanjang tahun ini. Namun, buku khusus kumpulan puisi punya keistimewaan, yaitu mampu menjadi wadah beragam ungkapan hati para penyair.

Dalam Maha Duka Aceh, misalnya, 193 penyair mengungkapkan belasungkawa” mereka kepada korban bencana tsunami dan dampak susulannya. Secara kuantitas, kegalauan, kesedihan, dan tanda duka sastrawan Indonesia tampaknya cukup terwakili dalam kumpulan puisi ini,” kata Mustafa Ismail, yang puisinya tercantum di buku ini.

Buku sejenis adalah antologi puisi Ziarah Ombak yang terbit pada 15 September lalu di Universiti Kebangsaan, Malaysia, dilanjutkan di Banda Aceh, akhir bulan ini, kemudian di Jakarta, Yogyakarta, Bali, Lampung, Padang, dan Pekanbaru. Tujuan lain buku berisi 110 sajak dari 41 penyair ini ialah ingin melihat warna sastrawan Aceh.

Sayangnya, upaya itu gagal. Akhirnya, dengan mendengar saran beberapa teman, kami masukkan juga beberapa karya penyair seperti Taufik Ismail, Rendra, dan Siti Zainon Ismail dari Malaysia,” kata Sulaiman Tripa, sastrawan yang tinggal di Aceh, editor antologi ini.

Mengangkat karya-karya penyair Aceh untuk menemukan kembali warna sastrawan Tanah Rencong mungkin memang penting. Warna asli syair Aceh yang terbuka dan blak-blakan belum tampak dalam beberapa kumpulan puisi. Mati surinya warna itu tak lepas dari suasana represif akibat bertahun-tahun menjadi daerah operasi militer.

Tak jarang, karya para penyair asli Aceh tak dapat diterbitkan di tanah mereka sendiri. Kumpulan puisi Fikar W. Eda, Rencong, bisa dijadikan contoh. Setelah tsunami, kesempatan para penyair Aceh untuk kembali muncul dan menunjukkan gaya mereka sebenarnya besar.

10 Oktober 2005