Naskah Monolog Perempuan Harum Kamboja*

Karya: Rodli TL

Adegan 1

Set panggung adalah taman pekuburan. Penuh dengan batu-batu nisan, dan reranting yang daunnya berguguran

Musik dan nyanyian pembuka adegan

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu berjalan mengendap-endap, menerobos semak belukar, menyusup di kegelapan. Cangkul di pundaknya terasa membebani langkahnya. Ia menyisiri batu-batu nisan dengan membelakangi penonton.

Perempuan :
Seperti hari-hari sebelumnya. Ya, seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini sudah yang kesekian kali aku mengunjungi suamiku yang terbujur dalam liang lahat. Seperti hari-hari biasanya.

Musik dan nyanyian terdengar

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu hanyut dalam nyanyian. Ia bergerak mengambil payung yang berada di atas kuburan suaminya. Ia menagis dan mendekapnya.
Nyanyian lirih. Tangisan perempuan makin menjadi. Ia memukul-mukul makam suaminya.

Perempuan :
Suamiku, kalau kau masih mencintaiku dan anakmu, bangunlah, kali ini akau dating dan mengharap kau mau jujur kepadaku. Tak ada orang di sini. Kau harus berani mengatakan kepadaku. Kau harus katakana apa yang telah terjadi saat itu.
Kalau kau masih tidak bergeming dari kebekuanmu, berarti kau menghianati dirimu sendiri. Nak kita tidak pernah sekolah lagi. Hidup kita hancur. Air mataku tidak akan pernah berhenti karena kekejaman yang menusuk mata ini..

Musik dan nyanyian terdengar lagi.
Perempuan itu mulai bangkit dari duduknya. Ia bergerak ikuti nyanyian sambil memainkan payungnya.

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik berhenti.
Berjalan dengan cepat mengembalikan payung papa posisi semula. Lalu ia berdiri tegap di samping makam suaminya.

Perempuan :
Aku sekarang tidak takut. Tetapi kau masih tetap diam. Kalau kau dulu bisa berkata jujur, mengapa sekarang kepada istrimu kau bungkam seribu kata? Sungguh hatiku sedih sekali, kalau iangat berita yang ditulis di Koran tentang kematianmu. Sungguh aku tidak percaya kalau kau berselingkuh dengan istri teman dekatmu.

Musik terdengar sedih.
Perempuan berpindah posisi ke samping depan dengan pelan.
Ia berdiri dengan menarik nafas panjang. Pada raut wajahnya mulai muncul amarah. Ia berkata dengan lantang.

Perempuan :
kalau itu tidak benar mengapa kau diam? Mati harus beralasan. Kau harus menghadap bapak hakim tau polisi dan mengatakan kepada mereka bahwa berita itu hanya rekayasa belaka. Atau kalau kau mau, kau harus menyeret mereka yang telah menyelakakanmu. Mengapa kau tidak berani menantang, seperti kau berani berbicara jujur kepada orang lain, mengapa?

Perempuan bergerak ambil sisi kiri panggung.

Perempuan :
Suamiku, kematianmu membuat orang lain tidak mengerti ikut terseret dalam kubangan setan. Dan ini membuatku dan anakmu menderita. Aku tahu, kau pun tahu, mereka punya uang dan senjata. Mereka bisa saja mengganti otak kita dengan otak kerbau, mencungkil mata kita, mengganti hati kita dengan hati anjing. Kau harus berbuat seperti dulu. Besok pengadilan mengetukan palunya. Kau harus menolongnya, agar mereka tidak teerus-menerus bersorak-sorai dalam kubangan air mata orang lain. (ia mengamil cangkul lalu memainkannya seperti menggali makam suaminya) ayo bangunlah suamiku……… bangunlah! (Perempuan itu mengayunkan cangkulnya dengan membabi buta) aku harus membuktikan bahwa berita itu adalah rekayasa atau bukan. Kau harus berani menghadapiku kalau kau lelaki jujur.

Amarah perempuan meledak dengan diiringi musik perkusi menghentak-hentak. Suara burung gagak-gagak ikut menjerit.

Ia berbicara keras, seakan berdialog dengan orang lain

Perempuan :
Ini kuburan suamiku! Ia harus menghadap ke pengadilan! Ia saksi utama atas kematianya. Ia harus menjelaskan kematiannya di muka pengadilan. Hanya ia yang bisa membela dirinya. Tidak ada alasan untuk mencegahku

Dengan cepat perempuan itu mengangkat cangkul dan mengayunkannya. Saking kalapnya, perempuan itu terrjungkal dan cangkul terlempar jauh.

Perempuan :
Kau menyakitiku. Kau berusaha seperti mereka agar kasus kematian suamiki tidak terbongkar. (menangis)

Isak tangis perempuan itu mulai mereda. Dengan tersendat-sendat ia berkata.

Perempuan :
Suamiku telah mempertaruhkan nyawanya demi menjalankan kewajibannya. Tetapi kematian itu justru membuatnya tidak tenang di pekuburan. Ia difitnah. Ia disudutkan, ia dibunuh dengan keji sekali. Semua pintu tertutup rapat.

Perempuan :
Ini bukan soal pekerjaan yang menyebabkan kematiannya. Tetapi kejujuran yang menyebabkan ia mati.

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik dan nyanyian berhenti

Perempuan itu segera meninggalkan makam suaminya dengan berjalan terseok-seok.

Perempuan :
Nyonya, kalau kekuasaan ada pada puncuk senjata, maka kebenaran ada pada peluruhnya yang setiap saat akan meledak dan menghancurkannya. (menoleh kebelakang dengan dengan barah hati yang terus berkobar) Aku pasti kembali

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Adegan 2

Setting Panggung berubah pada pelataran pengadilan. Perempuan itu berdiri dengan menenteng dua kepala. Yang satu telah menjadi tengkorak sedang yang satunya masih utuh. Darah segar menetes-netes dari lehernya. Perempuan itu tertawa menang dan terus berjalan menujuh pintu ruangan pengadilan. Ia kemudian berdhenti dan berdiri tegap di depan meja persidangan.

Perempuan :
Ini adalah dua mayat yang telah terbunuh. Mereka terbunuh karena menjalankan tugasnya. Tetapi apakah kalian tahu siapa pembunuhnya? (Suara sepih tertujuh pada mata perempuan). Kalau kalian tahu, kenpa tidak ditulis besar-besaran di Koran. Tulis saja!

Perempuan itu terus berteriak-teriak tidak karuan.
Musik beriringan menghentak-hentak
Muncul penjual Koran menawarkan dagangannya

“Koran, Koran-koran. Dua pria dibantai perempuan gila!”

Terdengar suara Ketua Hakim mengetukkan palu tiga kali. Tanda setuju.
Suasana menjadi gaduh dengan iringan musik dan nyanyian penutup adegan.

Salah orang bilang salah
Orang salah bilang salah
Ekskusi suatu hari kemudian

Salah bilang orang salah
Bilang salah salah orang
Ekskusi suatu hari kemudian

Tamat

*Disadur dari cerpen Kesetiaan Sang Istri Karya R. Giryadi

Lamongan, 28 September 2009