Pak Beye

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Pak Beye, panggilan akrab lelaki tua itu, sedang berbaring di kursi rotan yang dibuatnya sendiri beberapa tahun lalu. Kepalanya terangkat sesuai dengan bentuk kursi. Di depannya ada sebuah televisi kesayangannya sekaligus musuhnya. Ia sayang kepada televisinya kalau muncul acara-acara kegemarannya seperti pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan dan pertukangan, apalagi kerajinan atau pertukangan kursi kayu.

Selain itu ia sangat tertarik pada penayangan wild life, tentang binatang-binatang liar di hutan Afrika, di pegunungan salju dan di padang-padang pasir tanpa air. Duduk meluruskan kaki di kursi kayunyanya, ia begitu asyiknya menyelam ke dasar samudra mengikuti gerak ikan-ikan dan penyu dan lambaian bunga-bunga karang.

Akan tetapi kalau ada warta berita dalam negeri, lalu muncul para pemimpin politik praktis yang memberi komentar tentang krisis ekonomi dan kerusuhan-kerusuhan berdarah di tanahair, ia tersentak duduk dan mula-mula merintih karena tikaman encok di persendian, tulang belikat dan punggungnya lalu meludai kotak ajaib itu berkali-kali, kemudian dibuka kemejanya untuk melap ludahnya di kaca televisi.

Tatkala Pak Beye sedang asyik meludah-ludahi kaca televisinya karena tayangan kerusuhan berdarah di Cikeusik, Pandeglang, Banten istrinya masuk. Sang istri, seorang bidan merangkap perawat yang memimpin sebuah rumah sakit bersalin milik pribadi, melihat tingkah laku suaminya sambil berdecak.

Dengan sabar ia mematikan televisi dan mengambil lap untuk menghapus ludah suaminya. Pak Beye bangun dan dengan tongkatnya ia menuju bale-bale kayu yang datar lalu menggeletakkan badan di atas tikar rotan lalu berkata, “Henny, tolong panggil Pak Tarno.”

Istrinya, bidan Henny, ke luar menuju kamar tunggu Rumah Sakit Bersalin yang bergandengan dengan rumah tinggal mereka lalu tidak lama kemudian datanglah Pak Tarno, tukang pijit buta yang selalu mangkal di kamar tunggu, memijat orang -orang yang mengantar para ibu yang hendak melahirkan.
“Selamat malam, Pak Tarno,” kata lelaki tua itu.

“Selamat malam Pak Beye,”, kata Pak Tarno, tukang pijat buta itu. “Bu Henny melapor, Pak Beye meludahi lagi televisi, ya!” kata Pak Tarno.

“Habis sudah kesabaran saya. Sekarang timbul lagi kerusuhan berlatar belakang agama di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Payah, payah. Besok saya harus jalan ke sana, melihat anak perempuan saya, dokter Sulinah dan menantu saya dokter Paul. Tolong pijat yang enak, biar sehat di perjalanana. Maklum jalan ke sana itu rusak parah,” kata Pak Beye.
“Beres Pak Beye. Apa akan berangkat bersama Bu Henny?” tanya Pak Tarno.

“O, tidak. Istri saya harus mengawasi ibu-ibu yang melahirkan generasi baru yang membawa mulut dari rahim mereka. Tugas saya ke Banten bukannya mengurus mulut. Sudah ada pemerintah dan orang-orang kaya yang akan memberi makan para pengungsi. Saya harus mengurus ampas-ampas badan mereka supaya tidak dibuang di sembarang tempat agar laler penyakit tidak ikut membunuh.

Negeri ini sudah dipenuhi pembunuh. Orang besar membunuh bank-bank, orang kecil disuruh menjadi massa binatang agama yang bertanduk politik dan berekor takut. Takut mati membuat orang memeluk agama, tetapi ia akan menjadi serigala agama manakala ia bertanduk politik. Depolitisasi agama akan membuat negeri ini damai, makmur, bersatu, kuat,” kata Pak Beye.

Bu Henny, membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya di meja. “Kalau si Merah dan Si Hijau, tidak lain, omong soal politik,” kata bidan Henny.

“Sudah, ya. Saya mau tidur. Kalau ketawa jangan keras-keras. Kalau bisa jangan ngobrol macam – macamlah. Sambil dengar musik, nikmatilah seni memijat dan seni dipijat,” kata bidan Henny sambil bergerak mengambil kaset lagu klasik lalu memasukkan ke radio. Keduanya diam menikmati musik.

Kenangan Pak Beye mengalun. Lelaki tua yang oleh masyarakat dipanggil Pak Beye itu, begitu tamat dari SMEA, meneruskan usaha orangtuanya sebagai pengrajin kayu. Ia membuka sebuah toko kerajinan kayu karena ayahnya mewariskan puluhan hektar areal hutan kayu albasia yang subur-subur. Ada kayu berukuran besar, sedang, dan kecil. Ada kayu yang cocok untuk dijadikan kursi, lemari pakaian. Juga ada kayu yang cocok dijadikan meja televisi. Pelanggan hasil kerajinan Pak Beye tersebar meluas. Tan aneh jika apapun yang dijual Pak Beye di tokonya selalu lekas terbeli.

Sebagai pengusaha, ia dapat menggaet seorang gadis cantik yang bekerja sebagai bidan di sebuah rumah sakit bersalin. Keduanya menikah dan beberapa tahun kemudian, keduanya mendirikan sebuah rumah sakit bersalin di samping rumah warisan orangtua yang terletak di atas dua hektar tanah yang telah dihutani kayu albasia. Pada musim kemarau dua puluh tujuh tahun lalu, serumpun kayu berukuran besar dipanen. Kayu-kayunya diambil dan daun-daunnya ditumpuk di kebun menunggu kering untuk dibakar menjadi pupuk yang ditaruh dikantong-kantong plastik dan dijual kepada petani sayuran dan pemelihara tanaman pertamanan. Bangun pagi-pagi, Pak Beye langsung ke kebun kayuy untuk membakar tumpukan daun yang telah kering.

Ketika lidah-lidah api mulai menjilat, terdengar suara bayi yang menangis dalam tumpukan daun kayu albasia itu. Dengan segera ia mengorek tumpukan daun kayu itu dan betapa terkejutnya ia melihat ada bayi yang terbungkus kain batik dan sebuah jeket.

Tanpa menunggu, ia mengambil bayi itu, membawanya ke rumah sakit bersalin dan menyerahkannya kepada istrinya. Bidan Henny menyambut bayi malang itu dan segera mengenal bahwa bayi itu adalah bayi Nurhayati, gadis Madura penjual kue cucur di depan rumah sakit bersalin mereka. Tidak lama kemudian massa berkumpul di rumah sakit bersalin itu. Semuanya ingin melihat bayi dan ibunya.

Lalu seorang oknum polisi datang membelah massa, menyeruduk masuk ke dalam rumahsakit. Ia diterima oleh bidan Henny dan suaminya, Pak Beye. Setelah memandang bayi mungil yang cantik itu, polisi bertanya di mana Nurhayati. Kedua suami istri itu mengantar polisi itu ke gerobak dorong milik penjual kue cucur itu. Ketika pintu di kolong gerobak itu dibuka, tampak gadis Madura itu sedang tidur. Ia dibangunkan kemudian keluar sehat-sehat dan berjalan menuju rumahsakit bersalin. Bidan Henny menggeleng-gelengkan kepala mengagumi kekuatan fisik Nurhayati.
“Melahirkan di kolong gerobak dorong, sendirian?” tanya polisi.
“Tidak. Jam empat pagi saya melahirkan di timbunan daun kayu albasia kering,” kata Nurhayati.
“Di atas daun kayu albasia kering? Tidak gatal?” tanya polisi itu.
“Tidak.
Saya lahirkan bayi itu sambil berdiri,” kata Nurhayati.

“Saya dengar dari langganan yang minum kopi dan makan kue cucur di gerobak saya bahwa wanita Indian di hutan, lahir sambil berdiri, tetapi wanita Indian memegang pohon hutan sedangkan saya memakai gaya berdiri sambil melebarkan paha. Kedua tangan saya memegang pinggang. Lalu meluncurlah bayi saya, jatuh ke daun-daun kayu albasia. Kemudian saya bungkus dengan jaket hadiah Ibu Bidan Henny dan saya timbun bayi itu dengan daun pisang.”

“Wah, Anda lebih kuat dari polwan. Tidak pernah saya dengar ada polwan yang begitu kuat lahir berdiri dan tangan memegang pinggang dengan paha mengangkang. Anda perempuan muda yang sehat, kuat,” puji sang polisi.

“Akan tetapi, Anda harus saya tahan karena percobaan pembunuhan. Anda harus dihukum berat,” kata polisi itu. Nuryahati berdiri, “Saya tidak berencana membunuh anak saya. Saya ingin menyelamatkannya. Saya sering melihat, pagi-pagi Pak Beye ke kebun kayu untuk membakar daun-daun kering. Karena itu saya sengaja meletakkannya di sana agar Pak Beye memungutnya. Habis, jadilah itu anaknya,” kata Nurhayati dengan nafas yang terengah dan mata yang ……

Untuk menjaga perasaan istrinya, Pak Beye memeluk istrinya lalu berbisik,” Dia bohong. Segera periksa gen bayi itu. Cepat.” Mereka membawa Nurhayati ke rumah lalu membaringkan Nurhayati di sofa dan ketiganya duduk menghadapi ibu muda yang malang itu. Setelah minuman dibawa pembantu, polisi mengatakan, “Ini tindakan kriminal. Saya pinjam telpon untuk memanggil ambulans polisi, Bu,” kata polisi itu.

“Tidak usah, Pak. Saya yang menyuruh menyerahkan anak suami saya itu dengan cara begitu. Tidak ada rencana untuk membunuhnya,” kata bidan Henny.

Mata Pak Beye terbelalak. Ia menarik nafas berat dan bertanya dalam hati mengapa istrinya membela seorang wanita muda kriminal.

“Kalau begitu, soalnya jadi lain, tetapi melahirkan anak di atas daun bambu kering, apalagi berdiri sambil memegang pinggang, adalah melahirkan gaya kuda. Bayi itu jatuh ke daun kering seperti bayi kuda. Namun bayi kuda bisa segera berdiri sendiri lalu menyusui induknya,” kata polisi. “Tapi bayi manusia bisa menangis ketika lidah-lidah api di rumpun dedaunan kering menjilat-jilat udara,” kata Pak Beye lalu tertawa terkekeh-kekeh.

“Apalagi ada rencana untuk membakar bayi itu oleh ayahnya sendiri. Waktu Pak Beye menyalakan korek api, tentulah terlintas rencana untuk membakar bayi itu. Tetapi untung ada UUD yang lebih tinggi dari KUHP. Nah, dalam hubungan itu, mari kita berurusan dengan “UUD”,” kata oknum polisi itu.
“UUD 45”. Pak Beye membisik ke telinga istrinya.
“Kok dibawa ke Undang Undang Dasar 45?” Istrinya berbisik membalas, “Ssst, ujung-ujungnya duit”.
“O, begitu maunya,” katanya dalam hati sambil mengangguk-angguk penuh pengertian.
“Pak, kira-kira yang dimaksud dengan empat puluh lima itu, itu…” kata Pak Beye.
“Lima juta rupiah. Bukan dolar. Rupiah saja, semua itu biar ringan.”

Begitulah ceritanya. Nurhayati menyerahkan anaknya kepada suami istri pemilik rumah sakit bersalin itu. Ia ditampung untuk bisa memberikan asi sebanyak-banyaknya dan selama mungkin pada bayinya kemudian pulang ke Madura, kawin baik-baik di sana kemudian merantau ke luar Madura.

Sulinah, nama sang bayi pun diasuh oleh kedua suami istri yang cukup berada itu. Ia bagaikan ratu dalam rumahtangga karena ayah dan ibu angkatnya tidak punya anak. Ia disekolahkan sejak kanak-kanak sampai ke universitas dan lulus menjadi dokter dan begitu ia ditempatkan di pedalaman Bogor, berbatasan dengan daerah provinsi Banten, seorang dokter muda asal Cianjur melamarnya. Keduanya menikah lalu berbakti di sebuah puskesmas yang terletak di tepi sungai.

Pak Tarno, dengan sombongnya menempelkan pantat Pak Beye yang dipijatnya. Ini pertanda tugas pemijatan selesai. Namun yang dipijat mendengkur. Tukang pijat buta itu mengambil tongkatnya serta tas berisi minyak melangkah keluar dengan dagu yang terangkat sehingga hal yang demikian itu membuat Pak Beye menjulukinya pemijat sombong.

Semua orang buta sombong karena berjalan dengan dagu terangkat kata Pak Beye suatu hari ketika pertama kali dipijat si buta itu.

Bangun pagi-pagi dengan tubuh yang agak segar, Pak Beye langsung menuju terminal Bis, membeli tiket dan menumpangi bis ber-AC meluncur ke pedalaman Pandeglang, Banten. Tiba di tempat kerja dokter Sulinah dan suaminya Paul, ia agak terkejut melihat Nurhayati dan suaminya yang sudah dimakan umur sepertinya tinggal bersama Sulinah. Suami Nurhayati adalah polisi “UUD 45” itu, orang Banten yang mengantongi uang tunai lima juta rupiah itu.***