Puisi-Puisi Zawawi Se

namamu disebut

tuhan
aku dengar
namamu

disebut-teriakkan
dalam
geram
adakah,

adakah engkau
tertawa-tawa
ditengah-tengah
mereka
dalam
gemuruh
dada
gemuruh
suara

mempertahankan
egonya

Juli 2008

[sajak diatas semula saya posting di milis apresiasi sastra dengan larik-larik yang agak memanjang. lalu mendapat respon dari Hudan Hidayat (novelis dan esais) dengan penataan larik-lariknya menjadi sebagaimana diatas. respon lain adalah bahwa sajak tersebut terlalu verbal, saya disarankan untuk menggunakan metafora-metafora, tapi saya memang belum bisa membuat sajak yang kaya dengan metafora-metafora, baru belajar menulis, semoga dapat dinikmati meskipun terlalu verbal]

Persinggahan
~ belah jiwaku ~

aku rasa beginilah kita
seperti jurang terkikis perlahan
oleh arus deras dan dalam
kita pun diantara tepian
semakin asing memandang
semua peristiwa mengalir
ke muara

sebagaimana detik-detik berlalu
masih kusinggahi perhentian
mengantarku dari waktu ke waktu
melabuhkan segala harap dan cemas
kepadamu.

Juni 2008

Sajak Caci Maki

“hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu”
(Sajak Cicak, Saut Situmorang, otobiografi, 2007)

di tanah kami
caci maki adalah bahasa
sorga. keluar menggelegar diantara dua katup
putih seperti lingkaran asap udut
dari akar hati yang paling mawar

di ranah kami
tak terbiasa bertebu muka
sambil menekuk kata di sebalik dada
menuai luka di akhir cerita

di ranah kami
tak terbiasa bertebu muka
sambil bertepuk dada lalu bersuara
sebagai pewaris tunggal
peradaban dunia

April 2008