Posted by PuJa on April 30, 2011
Denny Mizhar Jangan melawan kekuasaan, nanti akan tumbang. Berbaik-baiklah padanya. Kau akan selamat dalam bekerja. Terpenting bagi hidup adalah isi perut. Bukan idealisme. Sebab idealisme di tempat ini selalu masuk tong sampah. Menjadi tidak berguna. Karena rasa lapar masih ada. Jika kau masih takut lapar, ketika kesewenang-wenangan penguasa berbicara, cukup anggukkan kepala. Itu tandanya seiyasekata. [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Asarpin Rumahku dari unggun timbun sajak Disini aku berbini dan beranak –Chairil Anwar, Rumahku Apa sebetulnya rumah itu sehingga Chairil menyebut sajaknya sebagai rumahnya. Kita tak mungkin bertanya kepadanya karena ia telah lama tiada, bahkan ketika ia masih ada pun bisa jadi kita takkan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi tentu saja ada alasan mendasar mengapa [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Jamrin Abubakar http://www.kompasiana.com/jamrin_abubakar MULANYA tidak begitu dikenal dan dianggap biasa saja, namun ketika Seminar Internasional I La Galigo digelar tahun 2002 yang dihadiri sejumlah seniman, budayawan dan peneliti dari berbagai Negara, praktis Desa Pancana begitu terkenal. Terbilang mengejutkan, sebelumnya tak banyak yang tahu kalau desa itu punya latar belakang sejarah dan budaya yang amat menarik. [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
M.D. Atmaja Konon, hidup seperti sebuah permainan dimana manusia dituntut bergerak di dalamnya. Permainan yang membawa kita untuk masuk ke dalam berbagai keadaan, kadang menguntungkan dan juga terkadang sangat memojokkan sampai membuat kita menangis tersedu, atau marah dalam kekecewaan hebat. Namun, saya hanya bisa menghela napas ketika menghadapi kenyataan lain, kenyataan kolektif yang sungguh menyakitkan. [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Rofiqi Hasan http://www.tempointeraktif.com/ Sebuah buku yang mendokumentasikan dan mengkaji sumbangan para sastrawan Bali pada perubahan sosial dan pencarian identitas budaya diluncurkan di Denpasar. Buku berjudul A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century diangkat dari disertasi dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, Nyoman Darma Putra.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
http://www.balipost.co.id/ Sampit di sampit, orang-orang pernah merayakan pikiran sempit, kota yang lapang menjadi sempit ketika kudatang kudengar suara enggang menjauh di bukit-bukit, jauh di sebalik hamparan sawit lengang mengapung di ladang tambang,
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on April 28, 2011
Rodli TL Adegan 1 Musik gamelan dan rancak bambu Para penari bergerak seperti ular, gerakannya lincah dan menggelombang. Gerakannya nampak indah. Dari tubuh tarian ular itu muncul perempuan cantik menari dengan tarian yang lebih indah, namun tetap seirama dengan kelompok penari lain. Perempuan cantik itu adalah Dewi Sri
Filed under: Naskah Teater
Posted by PuJa on April 27, 2011
Udo Z. Karzi Teknokra Edisi 162, Mei 1996 SEBUAH manuskrip kumpulan sajak bertitel “Pencarian” mampir ke tempat saya. Penulisnya, ZA Mathikha Dewa–yang mengirim sendiri dari Jayapura. Suatu kejutan! Soalnya, seingat saya, bumi Irian Jaya selama ini sepi dari kehidupan kesusastraan, terlebih dalam bidang puisi. Boleh dikatakan, tak ada pengarang atau penyair yang mencuat ke pentas [...]
Filed under: Esai