Bookhandel Tan Khoen Swie

Harta Karun Tan Khoen Swie
Seno Joko Suyono, Dwidjo Maksum, Imron Rosyid
http://majalah.tempointeraktif.com/

TOKO Tan Khoen Swie, Sedia Boekoe Djawa, Melajoe dan Ollanda. Foto tahun 1920-an itu menunjukkan sebuah bangunan di kompleks pertokoan Jalan Dhoho 165, Kediri. Dan tempat yang sekarang dipakai untuk menjual abon, dendeng, dan kerupuk serta menjadi tempat praktek dokter gigi itu dulunya penerbit buku. “Ya, inilah sisa peninggalan kakek buyut saya,” kata Dokter Gigi J. Sutjahyo, yang merupakan cicit Swie.

Naik ke lantai tiga, si tuan rumah memperlihatkan ribuan buku menumpuk. Termasuk yang masih bertulis tangan. Tampak manuskrip Babad Gianti seri I dan II, Kitab Kaweruh Pakih, dan Niti Soerti Watjana yang ditulis Swie dengan tinta hitam.

Boekhandel (penerbit) Tan Khoen Swie bisa disebut lebih dulu berdiri dibandingkan dengan Balai Pustaka di Batavia. Pemerintah Kediri bermaksud mengangkat sejarah Tan Khoen Swie. Penerbit yang dulu populer karena perhatiannya pada khazanah Jawa (primbon, babad, dan pengobatan tradisional) ini tutup pada 1962.

Dari Kedirilah dulu meluncur Serat Kalatidha Ronggowarsito, Wulang Reh Sri Susuhunan Pakubuwono IV, Wedhatama karya Mangkoenagoro IV, karya-karya Yosodipuro dan pujangga klasik Jawa lainnya, bahkan kitab kontroversial Darmogandul dan Gatholoco ke seluruh Jawa.

“Mungkin nama besar para pujangga itu tidak akan muncul tanpa peran Tan Khoen Swie,” kata Kusharsono, ketua tim penelusuran sejarah Tan Khoen Swie dari Pemerintah Kota Kediri, atau menurut sastrawan Sapardi Joko Damono, “Sangat penting untuk acuan studi.”

Tan Khoen Swie lahir di Wonogiri pada 1884 dan dimakamkan di lereng Gunung Klotok, Kediri, pada 1953. Yang menjadi pertanyaan: bagaimana saat itu Tan Khoen Swie bisa menerbitkan serat-serat Jawa yang notabene “milik” keraton?

Mulanya ia bekerja sebagai tukang rakit penyeberangan di Bengawan Solo. Saat tinggal di Solo itulah ia kemudian bisa bersahabat akrab dengan Padmosusastro (1843-1926), pujangga keraton yang juga Kepala Perpustakaan Radya Pustaka. Dari sinilah ia mendapat akses.

Padmosusastro sendiri oleh George Quinn, peneliti Universitas Northern Territory, Darwin, yang menulis The Novel in Javanese, disebut sebagai bapak sastra Jawa modern. Itu karena ia memelopori cara bercerita modern (gagrak anyar) dalam sastra Jawa.

Pujangga yang bergaul akrab dengan peneliti Belanda seperti J.A. Wilkens dan G.A.J. Hazeu ini menerbitkan novel Rangsang Tuban pada 1900. Padmosusastro juga dikenal sebagai jurnalis. Ia pernah memimpin koran Jawa Bramartani dan majalah berbahasa Jawa Jawi Kandha.

Pada 1890, ia melakukan klasifikasi sistematis terhadap serat-serat yang dimiliki keraton. Pengarang buku tata bahasa Jawa Serat Tatacara (1907) ini juga dikenal menulis ulang Serat Pustakaraja dan Serat Paramayoga karya Ronggowarsito dengan versinya sendiri.

Tidak seperti Ronggowarsito yang hanya tinggal di Solo, dia melakukan petualangan ke Belanda dan Batavia, melakukan reportase jurnalistik. “Bila manusianya Ronggowarsito dan Yosodipuro itu manusia mistik, karakter-karakter tokoh Padmosusastro itu manusia Jawa yang berpikir,” kata koreografer Sardono W. Kusumo. “Padmosusastro ibarat dewan redaksi bagi penerbitan Tan Khoen Swie,” ujar Sardono.

Mereka bersahabat akrab. Buku-buku Padmosusastro diterbitkan oleh Swie. Pujangga itu sendiri sering menginap di rumah Tan Khoen Swie di Kediri. Sebagai penerbit, memang Swie menyediakan rumahnya menjadi semacam artist residence. Ia membangun kamar-kamar khusus untuk persinggahan jaringan penulis.

Sastrawan Jawa lain seperti R. Tanoyo, misalnya, sering menginap di situ. Seperti dilihat TEMPO, kamar-kamar bekas para penulis Jawa itu kini masih terawat. Wali Kota Kediri, Drs. H.A. Masut, mengharapkan buku-buku terbitan Tan Khoen Swie diizinkan dicetak ulang. Ia juga berkeinginan rumah asli di Jalan Dhoho menjadi obyek wisata ritual untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Memang loteng paling atas rumah bergaya Cina berukuran 20 meter persegi itu tempat meditasi Swie. Balkon loteng ini menghadap ke arah makam Mbah Poncololegowo, makam yang dikeramatkan warga, yang kebetulan berada di area rumah Swie. Di belakang rumah itu juga ada bekas tempat Swie bertapa, yang dilengkapi patung-patung kecil Buddha.

Pihak keluarga setuju untuk rencana penerbitan kembali, tapi keberatan rumah itu menjadi obyek ritual. “Lebih baik rumah asli menjadi tempat diskusi rutin buku-buku terbitan Tan Khoen Swie. Jangan terjebak mengangkat Tan dalam hal-hal mistis,” ungkap Dokter Gigi Gani. Memang kontribusi Swie bukan pada hal-hal mistis, tapi pada letak kepeloporannya sebagai penerbit lokal di Jawa awal abad ke-20.

Seno Joko Suyono (Jakarta), Dwidjo Maksum (Kediri), Imron Rosyid (Solo)

21 Oktober 2002