Cengkih Aroma Rindu

Muhammad Amin
Berita Pagi, 10 April 2011

Lalu kami pun berjalan mengikuti undakan bukit. Dan tampak di hadapan kami bentangan yang luas, sebuah teluk tersambung samudra dan selat Sunda. Juga pelabuhan-pelabuhan yang terbengkalai. Di sanalah kapal-kapal bangsa eropa pernah merapat. Di sebuah kurun waktu, yang tahunnya tak pernah kami catat dalam kepala. Pelabuhan yang diempas waktu hingga berkarat.

Kami duduk-duduk sebentar di sana, di atas bukit yang landai itu. Menatap teluk dan pelabuhan.

“Ai, kapan kita akan ke sana?” Tanyaku pada wanita di sampingku.

“Sekarang pun bisa.” Jawab Aina sambil tersenyum.

Lalu kami pun berjalan mengikuti undakan bukit, menuruni anak-anak tangga yang dibuat di tetebingnya. Beberapa jenak mereka berhenti, memperhatikan seorang lelaki tua mengambil bunga-bunga cengkih di pohonnya yang tak terlalu besar namun kokoh. Kami pun menghampiri si lelaki tua yang masih mengumpulkan satu-persatu bunga cengkih itu ke dalam keranjang yang dilapisi karung.

Setelah memperoleh izin dari pemiliknya, aku meraup segenggam bunga cengkih. Kemudian mengendus di depan hidung. Seolah merasakan kenikmatan luar biasa, mataku memejam. Aku merasakan pikiranku sedang melayang ke suatu tempat.

“Seperti di kampung halaman.” Aku bergumam.

“Kau merindukan kampung halaman?” Tanya Aina.

“Ya, aku merindukan tanah kelahiran yang telah mengasuhku. Di sana juga ada bukit yang landai, laut dan bunga cengkih. Namun tak ada teluk dan pelabuhan.”

Sore itu, kami urung mengunjungi pelabuhan.

* * *

Tanah kelahiranku, dulu, di suatu kurun waktu, adalah ruap aroma rempah tiap jengkalnya. Tanah yang memendam emas dan batu galena. Di sana, beberapa dasawarwa yang telah lewat, bukan di saat kapal-kapal Belanda sedang merapat, harga cengkih melambung. Wajah-wajah peladang tak lagi murung, mendapati nasib yang serba beruntung. Kampung kami berada di dekat laut tapi tak satu pun orang yang menjadi nelayan atau pelaut. Terlebih musim panen telah tiba di depan mata.

Maka orang-orang dari atas bukit-bukit itu turun ke kampung kami, mencari berkah tiap butir cengkih yang jatuh ke tanah. Atau jadi buruh-buruh di ladang-ladang kakek-moyang kami yang tekun bertani. Buruh-buruh yang giat bekerja, yang upahnya dibayar tepat sebelum kering keringat di badan.

Setiap pagi meriap mereka berangkat ke ladang, mendendangkan suka-cita panen raya. Laki-laki perempuan, tua dan muda tak ketinggalan. Kegiatan lain sementara tak masalah ditinggalkan. Hingga sore menjelang. Lalu mereka pulang dengan berdendang, membawa berkarung-karung biji cengkih ke rumah-rumah panggung pemilik ladang. Malamnya digelar di ruang yang lapang, biji-biji cengkih dipilih dan dipisahkan dari tangkai-tangkainya. Tak berhenti hingga larut malam. Tatkala pagi menjelang, mereka mulai berdendang berangkat ke ladang-ladang.

Di setiap tanah lapang dan halaman terhampar biji-biji cengkih yang hijau maupun hitam kecoklatan tersengat terik berhari-hari. Cengkih-cengkih kering dimasukkan ke dalam karung, disimpan ke gudang. Atau ditukar dengan barang atau kertas-kertas berharga.

Keadaan jadi cepat berubah. Dalam hitungan detik sekalipun. Bukan hanya pemilik ladang, buruh-buruh pun ikut merasakan hasilnya. Setiap orang bisa mendadak jadi kaya. Jika si anu hari ini miskin, tak heran jika esok sudah membangun rumah, membeli tanah, memiliki perhiasan, atau bahkan umroh ke tanah Mekkah! Bahkan menunaikan ibadah haji berkali-kali.

Maka tak heran bila kami mendengar dari mulut ayah ibu kami bahwa kakek moyang kami dulu mendapat limpahan harta yang berlebih. Hidup serba berlimpah. Mereka makan makanan enak dengan piring emas. Minum susu, anggur dan madu dengan gelas emas. Tak terhitung perhiasan yang dipakai perempuan dan yang disimpan di lemari. Mereka hidup dengan nyaman dan tenang. Rasa damai dan sejahtera selalu melingkupi kampung kami.

Tak perlu takut pencuri, rampok, garong dan sebangsanya. Tak perlu juga menyewa tenaga keamanan atau rutin ronda malam. Tak perlu! Karena di kampung yang sejahtera merata tak tertanam lagi minat buat mencuri.

Dengan harta yang melimpah itu mereka tak perlu khawatir lagi. Apalagi anak cucu yang telah terbiasa mencicipi manisnya hidup bergelimang harta. Maka saat petaka itu datang, ketika daun-daun cengkeh meranggas tak berbekas batang-batangnya terserang cendawan, itulah titik antiklimaks kejayaan mereka. Inilah akhir dari cerita manis bunga cengkih di kampung kami yang , kelak, masih saja disampaikan oleh ayah ibu kami sebagai cerita pengantar tidur atau dongeng semata.

* * *

Selama ini kami telah terperangkap dalam hiruk-pikuk rimba kota. Hanyut dalam pekerjaan dan rutinitas. Tak pernah sedikit pun terlintas bayangan akan kampung halaman. Setelah meminta seraup cengkeh dari lelaki tua yang kutemui tempo hari, biji-biji cengkih yang selalu kusimpan dalam saku, mendadak aku rindu tanah kelahiran. Aku ingin mengunjungi sesekali ke sana. Meski hanya sekali, tak apa. Paling tidak buat mengobati rindu dan penasaran.

Terkadang di saat merasa jemu aku suka mencium aroma cengkih yang menyenangkan. Entahlah, seolah ada seraut kenangan dalam aromanya. Setiap usai mencium aroma cengkih itu aku teringat kata-kata lelaki tua pengumpul cengkeh itu.

“Kalau kau mencium aroma rempah itu ada ruap kampung halamanmu di sana, sebaiknya kau mengunjunginya sewaktu-waktu. Dari bunga cengkih itu, barangkali ada bayang kampung halaman, ada ingatan tentang rindu tanah kelahiran. Memang tak ada salahnya kau ke sana sekali-kali untuk menuntaskan rasa penasaran, meski tak ada sesiapa, sanak-keluarga, yang bisa kau kunjungi di sana. Paling tidak kau bisa melihat bagaimana keadaan orang-orang kampungmu sekarang.”

Aku terkesiap mendengar ucapan lelaki tua itu. Siapa dia? Kenapa seolah tahu sebagian dari diriku, seolah pernah mengenalku di suatu kurun waktu? Tak sempat aku bertanya karena selepas itu ia cepat berlalu, hilang di kelokan jalan bebukitan.

Di setiap kesempatan, aku selalu membawa beberapa butir bunga cengkih, kumasukkan ke saku baju. Dalam kesibukan kerja pun, tanpa seorang pun melihatku, aku masih suka mencium aromanya. Entahlah, aku seolah kecanduan aroma cengkih. Barangkali aku telah di candu rindu. Ya, rindu akan kenangan yang terbenam di kampung halaman.

Apalagi kenangan masa kanak yang menyenangkan, ketika kami berlarian di halaman dan tanah lapang yang terserak biji-biji cengkih. Kami berlari, dan tidur-tiduran di atasnya. Dan orang-orang tak akan memarahi kami karena kami tak punya lagi cukup ruang untuk bermain. Karena biji-biji cengkeh telah mengambil tempat bermain kami. Sepanjang hari sepanjang malam aroma cengkih menempel di tubuh kami, terbawa ke tempat tidur, menempel ke dinding mimpi. Jadi kami telah karib dengan aroma cengkih.

Namun setelah batang-batang cengkih mati, orang tuaku membawaku ke kota. Kami menjual tanah dan rumah untuk kemudian pindah. Dan kami tak lagi menjadi bagian dari kampung halaman.

“Kamu ingin ke tanah kelahiranmu?” Tanya Aina, karibku sejak kecil. Ketika aku baru tiba di kota ini, kami sudah mulai saling kenal.

“Ya. Aku akan ke sana. Bila perlu aku akan mengajak serta kamu.” Kataku.

“Itu ide bagus. Kebetulan aku sedang ingin jalan-jalan ke daerah sekaligus melihat bagaimana keadaan tanah kelahiranmu yang kerap kauceritakan itu.”

“Tentu saja, aku pasti mengajakmu ke sana?”

“Kapan?”

“Aku sedang memikirkan waktunya. Aku tak ingin pekerjaan di kantor terbengkalai. Aku akan mengatur agenda terlebih dahulu, lalu mengambil cuti selama seminggu.”

* * *

Ketika aku tiba di tanah kelahiran, yang pertama kusaksikan adalah orang-orang yang masih terkepung kemiskinan. Seolah kesengsaraan betah berlama-lama berdiam di sini. Namun mereka masih saja seolah tak menyadari. Tak ambil peduli.

Harta kekayaan melimpah yang dulu mereka miliki kini telah lenyap menjelma kebutuhan-kebutuhan yang minta ditutupi. Sementara hidup perlu kerja, tak bisa mengandalkan apa yang sudah ada. Mereka yang telah terbiasa hidup enak, mencecap manisnya hidup dengan harta melimpah yang diwariskan orangtua, merasa enggan bekerja keras. Mereka menjadi orang-orang pemalas.

Padahal sawah dan ladang yang subur telah tersedia. Laut menyediakan ikan-ikan dan mutiara. Bebukitan batu yang ditumbuhi pepohonan dan belukar di sana memendam emas dan batu galena.

Sebenarnya malu aku menunjukkan ini kepada Aina. Betapa menyedihkan keadaan di kampung halaman, tanah kelahiran yang aku rindukan. Betapa menyakitkan menyaksikan ini. Barangkali bila kami masih menetap di sini, keadaan kami tak akan beda jauh dengan mereka.

Sebelum tiba ke tanah bekas rumah kami, aku mampir ke rumah seorang sahabat lama. Namanya Halizi. Ketika kami tiba di sana, ia sedang menikmati secangkir kopi di beranda rumahnya. Ia menyambut kami dengan ramah.

“Munif… kau rupanya. Hampir pangling aku, penampilanmu sudah beda sekali sekarang. Sejahtera rupanya kau hidup di kota.”

Kemudian kami mengobrol. Rupanya ia sudah beristri. Anaknya sudah tiga. Seorang bocah kecil keluar dari dalam rumah, tampak memprihatinkan: kurus, tanpa memakai baju, kulit gelap, rambut kemerahan, dan ingus meleler di bawah hidungnya.

“Namanya Liza, yang nomer dua.” Katanya.

Kami tak berlama-lama di sana. Aku tak tahan menyaksikan kesengsaraan yang menjerat mereka. Dan orang-orang tua yang seolah tak peduli terhadap keadaan.

Aina tak banyak bicara. Barangkali ia pun merasa miris melihat keadaan kampungku.

“Ai, aku sudah punya rencana. Suatu saat kita akan eksplorasi daerah ini. Membangun proyek pertambangan. Menggerakkan orang-orang agar mau menggarap lahan sawah dan ladang. Supaya mereka bisa hidup dengan layak di tanah yang kaya ini.”

“Benar, Nif. Aku setuju gagasanmu.”

Kami melangkah menuju pantai. Sudah lama sekali aku tak melihat panorama laut yang dulu sering kunikmati di sini. Masih teringat ketika aku dan kawanku diam-diam membawa sampan milik tetangga. Berlayar hingga ke tengah, melihat lumba-lumba. Ketika pulang kami dimarahi. Aku tersenyum sendiri mengingat itu.

“Kenapa?” Tanya Aina.

“Tidak apa-apa. Hanya teringat masa lalu yang aneh dan lucu.”

Ketika kami pulang, yang ada di kepalaku hanya tentang rencanaku membangun kampung. Merencanakan proyek pertambangan. Kami akan membeli tanah-tanah yang berisi bahan tambang. Dan memulai dengan membangun infrastrukturnya. Namun satu hal yang masih mengganggu: apakah mereka, orang-orang kampungku, mau diajak bekerja keras menggarap sawah dan ladang yang terlantar. Jangan-jangan uang pembelian tanah nanti akan habis begitu saja untuk memenuhi kebutuhan tanpa sedikitpun mengeluarkan keringat untuk bekerja.

Selama ini aku terlambat menyadari. Seperti itulah orang-orang kampungku sekarang, sebagaimana keadaan semut yang mati di lumbung gula.

Kota Agung, 23 Oktober 2010