Jurai

Guntur Alam
http://www.lampungpost.com/

[1]

EBAKku meninggal hanya beberapa purnama saja setelah aku mengoek panjang dari rahim emak. Di pagi kelabu pada tanggal 5 Mei 1987. Pagi yang kelak kucatat sebagai pagi yang paling pekat dalam hidup. Sebuah pagi yang ternyata begitu mahadalam menentukan nasibku.

Mula-mula, pagi itu adalah pagi yang biasa. Serupa pagi-pagi yang datang saban harinya. Berembun. Dingin. Basah. Dan matahari merah sebesar tampah menyeruak dari rerimbun durian rimba di seberang Sungai Lematang, memedarkan warna saga yang menggoda di kilat muka air yang mengalir ke hilir. Lalu, sesuatu bernama jurai membuatnya menjadi pagi yang buta, tertutup, dan gulita.

Ucapan emaklah yang mula-mula (pula) menyiumkanku pada pagi yang gulita itu. Menghadirkan sebuah pagi yang teramat kelam. Ebakmu telah mati dan kau seorang yatim bersamaku di limas ini.

Lukisan wajah emak yang lembut tiba-tiba mengeras, berubah macam pahatan cadas putih di Pengentingan, hulu Sungai Lematang yang berpusar ganas dan lubuk para buaya kumbang. Aku merasa mulut-mulut buaya kumbang itu menganga, memperlihatkan taring-taring mereka yang menguning dan menjijikkan. Mulut buaya-buaya itulah muara jalan yang harus kulewati setelah tamparan keras emak di dada, tamparan yang menyisakan sebuah kesakitan yang mengental dan teramat kental. Dan seolah ada mulut-mulut gaib, terurailah cerita tentang pagi-pagi kelamku.

Juraimu buruk, Bujang. Ebakmu mati muda, di usia kedua puluh delapan. Tak bermusabab, seperti kena tenung dukun-dukun wanita yang merapalkan ilmu setan. Dapatlah kau tengok parasmu yang menghabiskan gurat mukanya. Adalah pantang bagi orang dusun kita, anak bujang membelah pinang dengan ebaknya. Alamat kau pun akan mati muda. Mati tanpa musabab di pagi gulita.

Oi, zaman! Alangkah dingin pagi ingusan ini. Berembun dan mencumbu sumsum. Hendak rasanya aku berlari dan meringkuk dalam telekung emak. Menyumpal cuping rapat-rapat dari ramalan yang diterakan orang sedusun laman atas nasibku yang kelam. Seketika jalan kampung ini serupa jalan penuh bangkai, mengelindapkan bau busuk yang teramat maha, mengental, dan mengaduk-aduk isi perutku dengan riang-gembira. Adalah kepercayaan mereka akan jurai, nasib seseorang yang tertera dari nasib-nasib yang mengukung leluhurnya.

Ebakmu berbini dua. Gampang sekali termakan rayuan janda. Tak pandai menjaga mata, tak cakap menjaga rasa. Oi, dapatlah pula kau rasakan bila kakimu melangkah, Bujang. Serupa telapak jijik yang enggan menjejak tanah. Itu alamat, kau pun akan berbini dua.

Itulah yang membuatmu mendadak benci dengan nasib buruk ebak. Jikalau ia tak mati muda, jikalau ia tak bebini dua, jikalau ia tak menurunkan parasnya, jikalau ia tetap ada, di sini, bersamaku, mengubah pagi gulitaku. Serupa pagi bujang-bujang yang mengurai tawa dengan derai yang rincak.

Dari ebak, kusandang jurai mati yang disematkan orang-orang sedusun Tanah Abang di pedalaman Muaraenim sana. Jurai yang membuat langkahku berat menyongsong matahari merah di pagi buta.

[2]

BILA aku menatap wajah emak yang hitam mengeras, aku seperti terbangun dari mimpi buruk pada malam yang teramat pekat. Emakku seorang perempuan perkasa. Tak banyak perempuan-perempuan di Tanah Abang kuat menjanda dalam bilangan waktu yang teramat lama bahkan seumur hidupnya. Siapa pula yang tahan mendengar gunjingan, cibiran, lebih-lebih tatapan sinis wanita-wanita bersuami gatal. Ada mata-mata penuh selidik, ada cuping-cuping yang menyimak dengan teliti.

Emak-mu perempuan kuat, Bujang. Tengoklah limasmu yang terpancang, menghujam ke kedalaman tanah leluhur kita. Rimba-rimba balam yang diwariskan ebakmu, mengalirkan getah-getah putih yang dipahat tangan kapalan emakmu sejak pagi masih ingusan, sejak kau masih lelap dalam balutan besan kotak-kotak di tengah limas.

Jurai emak yang orang-orang Tanah Abang ceritakan padaku adalah seruas obor bambu berminyak tanah penuh. Sebatang obor yang mengawani derap langkah yang terseok-seok, terantuk dalam gulita pagi yang mataharinya telah mati.

Pada garis tangan emak yang keras, pada telapaknya yang kapalan, aku menetak sekisah orang-orang Tanah Abang akan jurai yang Ebak wariskan padaku. Tentang mati muda, tentang berbini dua, tentang kemalangan yang mengintai dari balik pekat. Dari deru napas emak yang tersengal ketika menggenjot sepeda kumbang berpipa lurus di tengahnya bila mendaki bukit-bukit terjal menuju rimba balam, aku menghirup aroma bunga-bunga. Menghirup denyut yang berdetak menuju kehidupan.

Pada emak aku merajut asa yang hampir tenggelam dalam pusaran ketakutan yang diranakkan malam. Pada emak aku merangkul matahari yang hendak padam. Membawanya berlari menuju pagi, menuju pintu gerbang di ujung gulita tak berpangkal.

Emakmulah yang menjadi muasal atas kematian ebakmu. Emak-mu, wanita berkulit hitam, berwajah keras, dan hati yang serupa cadas di Pengentingan. Ia meminang kesumat pada dukun-dukun wanita yang merapalkan mantera setan di kampung sebelah, merajam ebakmu yang telah menikam hatinya dengan pengkhianatan. Emakmu wanita keras yang memberimu jurai atas sebuah dendam.

Oi, adalah jalan memang penuh onak durinya. Hendak aku terjerembab, lalu meraung, jika perlu melolong-lolong pada kelam raya yang makin gulita. Cerita yang orang-orang Tanah Abang tambahkan pada sebaris riwayat perkasa Emak, membuatku termangu di tengah gelap. Mendadak saja, aku merasa obor di tanganku meliuk lemah, ada kerlip kecil seolah kerakap yang ada di batu. Matahari yang kugendong dalam dekapan, seperti hendak terlepas dan menggelinding, jatuh, ke dalam jurang gelap yang mengangah di sepanjang jalan. Apakah sebuah kesahihan yang mereka terakan? Mungkin pulakah ini hanyalah seuntai cerita yang lahir dari bibir-bibir yang mencecap gula sebuah pergunjingan? Anak-anak dari hati yang dihamili iri atas kesempurnaan emak di mata mereka.

Mataku menemukan segurat wajah emak yang sembab, ketika kusodorkan batang oborku yang hampir saja padam. Tangan Emak yang kasar mengelus hatiku yang masai. Ada kehati-hatian seorang Emak sejati dalam elusannya, elusan yang kian menutup rahasia yang tak kumengerti. Rahasia yang kian kedap, kian gelap.

Emak menyodorkan hatinya yang agung dan tak teraba, seolah hendak membenarkan sekisah orang Tanah Abang, hanyalah titisan sedarah yang dapat membaca ceritanya. Kusimak. Lalu, dadaku mengembang. Pada pagi yang masih gulita, emak menyulut senyumku yang hampir pudar. Darinya kudapat jurai keras tentang dunia.

[3]

ADA dua sisi yang saling berbuntut, bila kuurai jurai yang dilahirkan mulut-mulut orang Tanah Abang untukku, dari benih yang disemai pugoe-kajut. Pada orang tua ebakku ini, kutemukan dua cerita yang bertolak. Laksana sebuah kampung: Satu makmur, satu hitam, menyedihkan.

Pada kajut kutemukan tamasya kampung nan makmur. Seolah aku berada di padang rumput musim semi. Semua kuncup rumput berbunga, menyeruak kuntum-kuntum cerita yang elok disimak telinga.

Kajut-mulah Bujang, yang menurutkan darah tukang cerita ke tubuhmu. Mewariskan hidung bangirnya, mata eloknya, bahkan kecakapan membaca tanda-tanda yang alam sematkan.

Namun, pada padang rumput pun, tak semua kuntum bunga menebar aroma yang rincak di bulu hidung. Ada yang tak berbau, ada yang wangi sayup, ada yang semerbak, pun ada pula yang berbau busuk.

Kajut-mu, Bujang, seseorang yang besar ilmu. Gudang jampi-jampi bulu perindu. Tukang rekat-retak dua orang berbalur rindu-cemburu. Tentulah darah yang mengalir di tubuhmu, tak hanya darah tukang ceritanya, tapi darah penakluk untuk jiwa yang kasmaran atau pun diremuk nelangsa.

Untaian jurai itu membuatku tersengat di antara jaga yang sejaganya. Mendadak perkampungan makmur itu telah dibakar kemarau, kemarau yang seolah turun selama bertahun-tahun, hingga napas kehidupan menjadi layu. Dan, aku pun kembali memuarakan itu kepada emak, memintanya menceritakan kisah titisan sedarah, kisah yang hanya dapat disimak yang bertalian saja.

Kampung jurai pugoe yang memaktubkan kisah orang sedusun akan garis takdirku adalah kampung hitam. Pekat. Gulita. Serupa jurai yang diturunkan ebak untukku. Kusam.

Pugoe-mu itu mantan tentara. Hidup keras di tengah rimba Muaro Bungo sana. Pantaslah bila kau jadi Bujang yang keras kepala, pembangkang, tukang onar, dan seperti tak punya rasa.

Mendengar jurai ini, aku hanya diam. Diam. Diam. Dan diam. Lalu, melangkah dengan ketergesaan yang maha. Keinginan yang lekas usai menyusurinya. Semakin jauh, kian menjauh, menuju denyut kehidupan yang kuyakin akan menyambutku di ujung. Aku merasa ada lambaian sunyi yang sayup, memanggilku untuk gegas meninggalkan jurai yang tak ingin kudekap dengan asyik-masyuk itu.

[4]

PADA sekisah jurai-ku yang ini, tak banyak yang orang Tanah Abang terakan, ramalkan, ataupun duga-duga. Entah. Serupa berkongsi, semua berkatup. Menyumbal mulut, lalu hanya terdengar bisik-bisik yang tak terlalu mengusik.

Tengoklah, Bujang, kulitmu legam serupa arang. Tidakkah kau merasa berbeda dengan sanak saudara yang ada di limas ebakmu yang terpancang? Bila kau susur cerita tentang warna, dapat kau nukil dengan hati lapang, kalau kulitmu adalah turunan dari emakmu yang berdarah Kebon Undang1). Darah itu dialirkan dari pugoe-mu yang bergelar Remuas. Kau pun memiliki tanda, dua tetek yang tumbuh di ketiak, serupa dua tangan Siwa, sebagai pengingat kau pernah lahir pada masa yang silam. Pada reinkarnasi yang dipercaya benar-benar ada.

Jurai-ku dari garis kampung emak, tak banyak terkisah. Serupa kajut yang telah mengejankan emak dari selangkangannya yang memerah di masanya, tak banyak cakap, tak banyak cerita, tak banyak gaung yang didengar. Ia ada, terasa tak ada. Ia seolah embun yang lahir di pagi buta, tak terlalu dilihat orang. Walau dinginnya masih menyungkup di kulit yang mengerut.

Lamat, jurai dari garis itu menyamar, kemudian hilang lenyap seperti tak berbekas, serupa keraton-keraton Kebon Undang yang runtuh pelan-berlahan, mengurai satu-satu hingga rata. Lalu, rumput kanji mengambil peran. Merimbun hijau serupa nanggai, menutup, mengubur cerita tentang jurai dari garis pugoe-kajut-ku itu yang pernah ada. Tak berbekas, tak berpeta, tak mampu kembali untuk bercerita.

[5]

BERMUASAL dari jurai-jurai itulah orang-orang Tanah Abang membacakan ramalan nasibnya akan bujang-gadis yang mengoek panjang di tanah leluhur mereka. Berpasang mata akan berpasat, berpasang telinga akan menyimak, berpasang mulut akan berkisah: Inilah juraimu, Bujang.

Kau akan mati di pagi yang masih gulita, meninggalkan istri dua dengan anak-anak ingusan macam rayap. Hatimu keras laksana cadas, pandai bermain lidah dengan watak yang pemarah. Akan banyak jampi yang berkitar di ubun-ubun kepala. Bila kau selamat dari jurai yang diwariskan ebak, kau akan lahir kembali, menjadi agung, menjadi besar, serupa moyangmu yang pernah memerintah Kebon Undang.

Itulah sekisah, tentang juraiku yang diramalkan orang se-Tanah Abang. Hendak percaya, atau tidak: Sejatinya, aku tak berharap itu nyata.(*)

C59, September 2010—Januari 2011.

——
Guntur Alam, lahir di Tanahabang, Muaraenim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Menyelesaikan pendidikan di Teknik Sipil Universitas Islam ’45 Bekasi. Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.