Mulanya *

Nurel Javissyarqi

Seperti biasa, aku mencari data-data dari media massa di Google untuk kuunggah pada web http://sastra-indonesia.com/ yang telah berjalan sejak Juli 2008. Aku nekat membikin situs tersebut dari biaya transport acara sastra di Jakarta. Sepulang dari Ibu Kota, perasaanku seolah sudah menjadi penyair, apalagi membaca puisi sepanggung dengan para jawara sastra, pada malam pengukuhan Guru Besar Abdul Hadi W.M., di kampus Paramadina Jakarta.

Di kereta, dalam perjalanan pulang, aku berpikir mengenai tulisanku, pula karya kawan-kawanku yang tidak tercium media massa. Maka web itu kusengajakan sebagai alat propaganda. Lambat laun aku menyadari kegunaan kekaryaan di luar lingkaran yang kukenal. Oleh sebab itu, kujumput karya-karya mereka. Awalnya aku ragu, apakah itu tindakan ilegal, tapi setelah aku periksa, ternyata banyak juga yang berlaku demikian untuk arsip bersama.

Kata bersama bermakna karena di sana diriku tak mengambil untung, malah setiap tahun keluar biaya kepemilikan. Tak masalah. Andaipun diseret ke pengadilan gara-gara menjumput data media massa, aku kira banyak temannya. Sedang yang dari Blogspot, Facebook, dan jejaring sosial lainnya, aku meminta izin terlebih dahulu kepada si empunya.

Nah, suatu hari aku temukan esai Sutardji Calzoum Bachri: Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair di web Infoanda (bukan Republika). Aku girang kala itu; “Wah, ini tulisan orang beken yang jarang tampak, kecuali di e-book dan semacamnya”.

Tapi kemudian aku tersentak pada ungkapan Tardji: “Peran penyair menjadi unik, karena — sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya — secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”

Saat itu juga aku terusik, terseret ujaran yang biasa dalam masyarakat Jawa Timur: “Meski saya tidak rajin ibadah, melakukan dosa, jangan sekali-kali menghina agama saya, Tuhan saya, Nabi saya, keyakinan saya.” Letupan itu menjelma lembar-lembar yang kini terbukukan.

Sebenarnya, acara Pekan Presiden Penyair telah aku ketahui dari SMS yang dikirimkan Amin Wangsitalaja. Tapi entah kenapa, aku hanya mengucapkan terima kasih atas informasinya.

Rerangkaian itu menyegerakanku menelisiki, apakah benar ungkapan Presiden Penyair tersebut? Anda bisa simak nantinya. Aku masih ingin bercuap-cuap.

Mendadak sekelebat bayangan Tardji melintas di depan laptopku. Kupandang tajam seruntut ingatan dahulu, melotot tatkala kusuntuki. Dan kelopaknya melebar, saat terus kupahami, lalu menjadi pikiran.
***

Hal mudah mengimaji seseorang dibungkus pakaian tak banyak warna; putih, hitam, cokelat, lebih ringan remang, ini didukung dan dilemahkan pencahayaan ruangan. Kuamati sedalam hati, bersebutlah sugesti, atau aku memercayai hadir?

Aku dapat melakukannya tersebab bertemu sebelumnya. Andai tak pernah berjumpa, aku meletakkan bayangan fotonya di antara dinding perasaan sambil menyugesti mataku menyadari, padahal tidak di depanku saat ini.

Jika tak punya perbendaharaan sama sekali, semisal Tuhan yang hanya kukenal lewat firman-Nya, tentu jarak ini suci karena iman, percaya atas hukum-hukum-Nya. Kemudian pikiranku melenceng jauh, apakah Yang Esa seperti makhluknya? Lekas-lekas kuhapus penalaran itu, apalagi aku belum menghatamkan ayat-ayatnya, juga pelbagai pola pengertian, di sisi beban khilaf memberati langkah demi mengetahui Yang Esa.

Ingatanku terlempar ke beberapa tahun silam, memasuki situs Jaringan Islam Liberal. Aku baca kupasan mereka yang tidak menampilkan ajaran agama secara purna. Terpenggal, juga dilandasi penalaran semata dipantulkan para pemikir yang kadar imannya diragukan, atau sebaliknya, berbeda keyakinan. Padahal banyak ulama, tapi kenapa tak mengambil ujaran terdekat, malah yang rendah.

Di web JIL waktu itu ada peraturan; komentar tidak boleh menyinggung sara dan semacamnya, serta dimuat tidaknya tergantung pengelola. Dan sepertinya, komentarku ini sampai kini tak muncul, padahal sanggahan biasa: “Jika Anda punya pendapat begitu, coba bikin buku, biar aku faham keseluruhan penalaran Anda. Jangan lupa kabarkan padaku, tentu kujawab sejumlah hal yang Anda tuliskan“. Tapi karena komentarku tak muncul-muncul, tidak lagi aku perhatikan.

Ingatan tiba-tiba datang dari rendaman masa, kaum terpelajar menamainya refleksi kejadian, mungkin, nanti aku koreksi ulang. Dan perkataan koreksi itu pantulan kesadaran di atas hasil spontanitas yang dipatenkan renungan, jikalau ingin memasuki nalar.

Mendadak terpampang di depanku sosok serupa Donny Gahral Adian. Ya, ia muncul bersama kumis dan jambangnya. Aku ingat betul, ia pernah membela pandangan-pandanganku saat diskusi buku Trilogi Kesadaran, kumpulan esaiku, terbitan 2006, di toko buku dekat kampus UI. Ia mengatakan kurang lebih ini:

Memang corak jalannya filsuf Timur sebagaimana begini“, sambil menunjuk kepadaku. Hatiku sempat bangga, karena disaksikan dua guru besar UI, UGM kalau tak salah, kata Damhuri Muhammad. Dan teringat aku melemparkan kalimat sampai mereka manggut-manggut, entah faham atau bingung tak setuju. Waktu itu aku berkata seperti ini: “Watak seorang bisa terlihat dari kecenderungannya“.

Lalu perasaanku seperti di dalam lingkaran kaum filsuf. Tapi menjadi pertanyaan hingga kini, kenapa belum membikin mazhab filsafat? Biar tidak ikut grubyuk ke Barat; “Padahal Anda semua cerdas sekaligus mampu menulis“.

Dengan sederhana menghimpun tulisan, maka jadilah”. Begitu yang kukatakan.

Lantas kepribadianku terbelah. Ia berkata: “Nurel, bukumu Trilogi Kesadaran banyak salah ketik pun harus dibenahi“. Lalu pecahan pribadiku yang lain berucap: “Ya, kan sudah kurevisi, hanya belum cetak ulang”. Sempalan yang lain lagi menggagas: “Tapi aku masih ragu, kayaknya perlu diserahkan ke editor”. Dan aku biarkan sempalan-sempalan itu membiak berdebat.

Pecahan sosokku mengingatkan istilah Pancasona, judul yang aku rancang meneruskan Trilogi Kesadaran bertitel Pancasona Kesadaran. Salah satu esai yang hendak kumasukkan mengenai Tardji ini. Tapi ketika mengunggah bagian I, Denny Mizhar mengomentari dengan memberi link jadwal Tardji di Malang pada bulan depan. Maka kuputar haluan, kubetot lebih dulu untuk dibukukan. Andai batal acaranya, tak jadi masalah. Toh jika kecewa hatiku tetap sumringah.

Sisi lain ubun-ubunku digerak-gerakkan hawa angin 2001, tatkala bedah bukuku Balada-Balada Takdir Terlalu Dini di Purna Budaya Yogyakarta, sehabis membacakan sajak yang bertitel Balada Jala Suta, yang dibedah Suryanto Sastroatmodjo dan Iman Budi Santosa. Aku teringat ucapan Iman Budi Santosa. Kata-katanya kian terngiang saat merevisi buku ini. Ungkapannya: “Kau ibarat keris, Keris Gandring. Kau membahayakan orang lain dan dirimu sendiri“. Mengenai jawabannya, kusimpan saja dalam hati.

Nyatalah hati penyimpan lebih awet daripada otak. Hati menarik keinginan dalam, mimpi harapan lewat perantara pikir melalui sorot imajinasi, sebelum itu jangan mengiyakan. Apakah imaji seperti cahaya?

Ia laksana energi listrik menghadirkan kilatan, kala bergesekan pikiran atas pertarungan hati dan kondisi melingkupi. Iklim, lebih jauh bacaan-bacaan beredar, seperti menulis juga membaca ingatan. Kejadian hal pertarungan diri kusebut pergumulan, olah batin, serupa kanuragannya jiwa demi letak kesaksian.

***

Sampai mana, ya?

Lupa, timbul karena bertumpuknya ingatan berjubel ingin keluar serempak, tapi karena lubang keluarnya sempit, bagian lain seolah terhapus, padahal hanya mengendap sembunyi. Lubang sempit terjadi atas banyak faktor; kurang merawat ingatan dengan bacaan, perasaan senang berlebihan menimbulkan pembengkakan syaraf, penyempitan rongga udaranya. Ah, ini bisa ditanyakan pada dokter. Kalau memang keliru, maklum cuap-cuap.

Ketika menerangkan lupa, nyata imaji menawarkan pemikiran, atau imaji serupa jala dilempar ke dasar refleksi. Atau sebaliknya, pikiran mendorong imaji merangkai benang pengalaman, tangga tingkatan kesadaran. Undak-undakan ini mungkin dilupakan Tardji, melupa alur keilmuan para pendahulu lantaran hanya bermodalkan berani. Seperti kenekatanku mengenai penyempitan udara dalam otak, yang kusebut di atas.

Maka teguran perlu, perevisian mutlak memperingati jenjang kesadarannya; apakah membumi di jalurnya atau mengapung kelelahan berpikir. Istilahnya mentok, gelagapan hingga yang bergerak sebatas imajinasi, sampai tanggung jawab luput.
***

Ada beberapa kawan kuminta pendapat mengenai terbitan ini. Yang membuatku tak suka, teguran M.D. Atmaja. Ia bilang, Pertama, eman dengan namaku. Kedua, gaya tulisanku yang –katanya- sulit dicerna.

Lalu aku menandaskan kata, “Begini kawan. Caraku menulis pengantar ini tidak lebih sepertimu, yaitu mudah dimengerti dan terus terang. Jalannya serupa sa’i atau lari kecil. Maka tak heran kau produktif, tapi cobalah kurangi kata mubazir yang kau maknai penekanan sekelas iklan. Sebab dalam pengendapan, kesaksian dimatangkan, hasil lawatan membaca alam pun buku dibakukan, agar tidak membosan seperti berita pengantar buku pelajaran.

 

Soal nama, kenapa kau hawatir. Apa lantaran kau tengah meneliti Kitab Para Malaikat yang baru sampai separuh itu? Terus waswas tak bisa bangkit saat aku disangkal? Jika begitu, hentikan saja penelitianmu, toh dari dulu aku bukan apa-apa. Di sini pun aku hanya kurang suka, dengan yang berfaham Tuhan bermimpi, berimajinasi. Semoga kau bahagia sekeluarga kawan”.

 

Ngomong-ngomong keluarga, aku ingat ungkapan anakku kala aku memanggilnya: “Anakku” (bernada menggoda). Dengan sigap, dia biasanya menjawab: “Bukan, anaknya Abah itu buku, laptop, kopi, dan rokok”. Hal ini biasa terdengar dan nyatalah terasa indah, aku bisa memeluknya setiap malam, sambil membaca buku.

Yang kau risaukan lagi, gaya tuturku ruwet, tidak komunikatif. Waktu itu kujawab: “Tapi kau faham Kitab Para Malaikat”. Kau menimpalinya: “Ya Kang, tetapi tidak semua orang mengerti tulisan Sampean“.

Begini Atmaja: “Aku bisa mengudar satu paragraf punyamu pun punyaku, dengan jalan pelan lari kecil semacam ini dalam satu esai kalau mau. Tentu lewat referensi olah rasa dan daya lain yang terkandung dalam diri, pula perpustakaan pribadi. Aku bisa saja mengudar kata-kata darimu dari kejiwaan, filosofinya, dan terserah”.

Kurasa gaya bisa diperdebatkan lebih jauh, minimal jika ada faham puisiku, kumprung kalau tak mengerti esaiku. Hanya pengotak-ngotakkan membuat terjebak dalam kebutaan, maka jangan mengkhawatirkanku kawan.
***

Astagfirullah. Maaf aku ambil air wudu dulu, karena barusan timbul kesembronoan. Ini demi mengurangi berat bentangan sayap-sayapku berkehendak jauh. Aku tuliskan ini pada status Facebook, tentu banyak kawan menggoda. Tapi bagiku biasa, di keramaian pasar pun tak soal, dan mengenai kualitas tentunya siap dipertanggungjawabkan.

Mengenai tanggung jawab, aku petik tulisan almarhum penyair Zainal Arifin Thoha, dalam bukunya Eksotisme Seni Budaya Islam (Khasanah Peradaban dari Serambi Pesantren), diterbitkan Bukulaila 2002, bagian awal Menuju Logika, Estetika dan Dialektika al Qur’an, halaman 15. “Kullukum roo’in wa kullukum mas’uulin ‘an ro’iyyatihi”. Kamu semua adalah pemimpin, dan kamu semua akan dimintai pertanggunganjawaban dari kepemimpinan yang telah dijalankan. Demikian Nabi SAW mengingatkan. Sebuah kepemimpinan, tentu pertama-tama membutuhkan konsep memimpin, dalam konteks inilah eskplorasi tafakur (refleksi dan ijtihad) atas ayat-ayat qauniyah (makrokosmos), dan ayat-ayat insaniyah (mikrokosmos), berdasarkan logika-teologis? Sebab, “Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Q.S. 25:2)”.

Lantas pikiranku meneror pertanyaan kepadaku. Karena aku kurang mampu menjawabnya, aku bertanya kepada kritikus Maman S. Mahayana.

Pak Maman, bulan ini aku ingin membukukan tanggapanku mengenai esai Tardji yang berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair, bertitel: Mempertanyakan Tanggungjawab Kepenyairan Sutardji dan Asy Syu’ara (Para Penyair). Buku tersebut untuk menyambutnya jika ke Malang, Mei nanti. Terus, kalau aku muat esainya, apakah sopan? Ini berguna untuk keseimbangan buku, agar tidak dianggap lempar batu sembunyi tangan, tapi aku khawatir tak diperkenankan, maka mohon pertimbangan. Matur nuwon sebelumnya ….”.

Nurel yang baik. Muat saja esai SCB. Masukkan sebagai lampiran dengan data publikasi sebagaimana adanya. Misalnya, judul, karya, terbit di mana, penerbitnya apa, kapan dipublikasikan. Dalam tradisi ilmiah di mana pun, cara itu diizinkan, meskipun penulisnya keberatan. Jadi bukan perkara sopan atau tak sopan, boleh atau tak boleh. Ini tradisi ilmiah. Sebab, menanggapi tulisan orang hakikatnya kita menghargai (mengapresiasi) tulisan itu, betapapun isinya berupa kritik. Oke, teruslah menulis. Salam. Maman S. Mahayana”.

Demikian pengantar ini, tak lebih sebagai kehausan belajar. Terima kasih kepada almarhum guruku Suryanto Sastroatmodjo. Tak lupa kepada S.W. Teofani dan Imamuddin SA sebagai editornya. Yang tercinta Isti Anisa dan anakku Ahmad Syauqillah, semoga ini bermakna bagi para pembaca.

*) pengantar buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” (kumpulan Esai, karya Nurel Javissyarqi, terbitan PUstaka puJAngga dan SastraNESIA, Mei 2011).

http://pustakapujangga.com/2011/08/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri/