Benny Arnas *
lampungpost.com
Menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Kerja mengarang yang sudah sampai pada titik ini akan menghasilkan karya yang kuat dalam menyajikan (sekaligus menggambarkan) setting, alur, dan (karakter) tokoh. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman estetis-psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra sama nilainya dengan memasuki taman bunga. Merasakan wangi bunga yang partikular. Aroma mawar, melati, anyelir…, mencuat dari dalamnya. Continue reading “Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)”
