Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)

Benny Arnas *
lampungpost.com

Menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Kerja mengarang yang sudah sampai pada titik ini akan menghasilkan karya yang kuat dalam menyajikan (sekaligus menggambarkan) setting, alur, dan (karakter) tokoh. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman estetis-psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra sama nilainya dengan memasuki taman bunga. Merasakan wangi bunga yang partikular. Aroma mawar, melati, anyelir…, mencuat dari dalamnya. Continue reading “Catatan Kaki Tentang Lokal(itas)”

Kematian Narasi Ekologi

M. Fauzi Sukri *
lampungpost.com

Narasi ekologi adalah interupsi. Ia hadir dalam kehidupan manusia yang sibuk dengan diri manusia; manusia yang sibuk mempertanyakan diri sendiri; manusia yang sibuk mengatur diri manusia; manusia yang sibuk mengurus perut manusia; manusia yang sibuk memandang manusia. Dan hutan, pohon-pohon yang ditumbangkan, pencemaran lingkungan, sungai yang mengering, air laut yang meningkat, gunung meletus, lumpur yang menyentak keluar, siapa peduli? Continue reading “Kematian Narasi Ekologi”

Negara Buku

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

KASUS perbukuan di Jepang mungkin bisa dijadikan referensi untuk Indonesia membenahi agenda literasi. Jepang pernah dijuluki “negara buku”. Julukan ini mengacu kepada ambisi perubahan Jepang abad XIX dengan produksi buku sebagai manifestasi pembelajaran dan persaingan dengan negara Barat. Continue reading “Negara Buku”

Afrizal Malna dan Titarubi: Merajut Cinta Yang Hilang

Sabrank Suparno *

Bagi kalangan perteateran dan sastra (puisi), siapa yang tidak mengenal sosok melankolis Afrizal Malna? Tokoh yang disebut-sebut sebagai seniman multidimensi, tajam sebagai seniman, sekaligus peka sebagai sosiolog. Sosok kondang sebagai tokoh kontroversi di era-korup, kolusif terhadap kebijakan orba, sekaligus eksis menjumpai generasi kontemporer setelah rezim orba tumbang. Continue reading “Afrizal Malna dan Titarubi: Merajut Cinta Yang Hilang”

Pembunuhan di Surat Kabar Minggu

Denny Mizhar

Sebenarnya aku tak suka melihat mereka mengolok-olok kawanku yang sudah berani lantang menolak tuduhan yang dikecamkan mereka padanya. Aku melihat kawanku suka menyendiri sejak ia mendapat cibiran dari orang-orang yang sering nongol di hari minggu di koran pagi. Kawanku juga sering berpapasan dengan mereka. Entah bertegur sapa atau saling cemberut sebab potret wajah bergantian terlihat di surat kabar minggu, aku tak melihatnya jelas, aku hanya mendegar cerita dari orang-orang saja. Continue reading “Pembunuhan di Surat Kabar Minggu”

Bahasa ยป