Peperangan boemipoetra VS TUK ‘Tak Kunjung Padam

El Dhamar Waja Bahureksa

Sudah terlalu lama tidak menulis dan membuat sekumpulan kertas kerja membuat saya canggung untuk memilih perbendaharaan bahasa yang sungguh teramat sedikit. Kebingungan itu, terpaksa saja saya tepiskan mengingat seorang kawan tiba-tiba berkunjung dengan gaya yang masih sama dengan bertahun lalu. Kunjungan pertama tidak membicarakan hal-hal penting selain menjadi reuni keluarga yang seolah diberantakkan oleh peperangan. Kunjungan kedua, yang konon sekedar “mampir” dari perjalanan pemuasan hasrat. Nah, dalam kunjungan ketiga itulah kawan saya mulai membicarakan masalah sastra dan budaya yang sudah lama sekali tidak saya singgung atau “menyenggol” saya. Awalnya kok terasa begitu malas, membongkar memori namun setelah mendengar batuk yang semakin basah dan lebih keras dari beberapa tahun lalu, hati ini tergerak juga. Tidak mau membiarkan saudara menjalani kekacauan itu sendirian.Ada senyuman yang khas, dalam bujuk rayu yang juga khas seorang Jawa tulen. Berhasil membawa saya untuk ikut menyimak, berkomentar sedikit dengan tulisan yang sudah saya rasakan semakin kaku. Beberapa saat membacai beberapa tulisan yang sumbernya dikirimkan, saya menyadari adanya peperangan panjang yang belum juga selesai. Hal ini bagi saya bukan hal yang buruk, namun justru menjadi warna-warna indah yang menghiasi kesusastraan Indonesia. Dua warna yang saling bertentangan itu terkadang terasa kontras namun menjadi sangat indah daripada hanya ada satu warna atau bermacam warna yang dikamuflasekan.

Di antara deru debur peperangan itu, memori di otak langsung dibawa menuju pemikiran “Biarkan ratusan bunga berkembang,” juga “Biarkan ratusan aliran pemikiran unjuk-diri” namun “tetaplah hidup berdampingan dan saling mengawasi” (Mao Tse-Tung). Seperti itulah yang memang seharusnya terjadi kalau kita ingin mencapai perkembangan yang bisa membuat kebanggaan. Salah satu contoh yang saat ini kita hadapi adalah “perang” antara boemipoetra yang dipentoli kawan Saut Situmorang dengan Teater Utan Kayu (TUK) yang dibawah asuhan Goenawan Mohammad.

Saya menelusur ulang, apa benar ini perang dalam dunia perpolitikan sastra atau hanya sebatas pada penyerangan sepihak? Apakah ada bedanya? Jelas ada perbedaan yang signifikan. Kalau benar sebagai suatu peperangan maka di dalamnya kita akan menemukan saling meluncurkan rudal penghancur fondasi-fondasi asumsi dan persepsi. Kedua belah pihak saling memantapkan diri kemudian saling menyerang dan tentu saja saling membentengi diri. Sungguh berbeda dengan serangan sepihak, seperti invasi negara zaman dahulu yang berlindung di balik kedok 3 G (Gold, Gospel, and Glory).

Berbatas pada pengetahuan akan pembacaan saya, di sini saya menemukan adanya fenomena penyerangan sepihak, yaitu yang dilakukan kawan Saut Situmorang dengan boemipoetra-nya terhadap TUK. Ada yang janggal, seperti Indonesia melakukan serangan pada Amerika (namun penyerangan Indonesia pada amerika tidak akan pernah terjadi), bisa kita pandang sebagai manusia yang Indonesia-is melawan sekelompok sastrawan kaya yang amerika-is. Memang seperti itu kelihatannya.

Misi penyerangan boemipoetra cukup membuat saya berdiri dan bertepuk tangan. Salut dan kagum ada juga orang yang membela estetika bangsanya sendiri, yang masih harus memperhatikan unsur “kearifan” Keindonesiaan. Yang saya maksudkan dengan “kearifan” Keindonesiaan itu cukup jelas, bahwa bangsa ini bukan bangsa yang dengan terang-terangan mengumbar nafsu birahi. Tidak relevan kalau dikatakan sebagai pejuang emansipasi wanita namun justru membidik ranah seksualitas untuk dikembangkan sebebas-bebasnya, apalagi dalam ranah karya sastra mengingat nilai yang terkandung di dalamnya. Estetika sastra adalah estetika yang tidak serampangan, ibarat permainan seks, estetika sastra sebagai permainan yang cantik dan luwes bukan “gedebak-gedebuk” sampai akhirnya hanya terasa seperti “gedebok”.

Masyarakat Indonesia dengan kearifannya dapat dipandang sebagai masyarakat yang menyimbolkan hal-hal tabu agar tidak dikonsumsi orang yang belum waktunya mengkonsumsi. Dokter saja memberikan resep obat sesuai dengan takarannya, dipertimbangkan dari kondisi pasien dan umur, masak sastrawan kalah dengan estetika dokter? Lantas merekakah yang diucap-sebut sebagai segolongan sastrawangi itu? Kalau membicarakan masalah “gawok”-isme atas pengumbaran seksualitas yang serampangan masak iya langsung bisa disebut “wangi”? Bukankah sewangi-wanginya kemaluan tetap seperti itu baunya? Khas.

Bagi kawan Saut Situmorang dan boemipoetra-nya perang yang dilakukan untuk mengembalikan sisi keindonesiaan dan serta lebih jauh lagi sisi kemanusiaannya. Beberapa pokok yang digaris bawahi adalah masalah estetika yang tidak boleh melandaskan diri pada pengumbaran nafsu-birahi penulis dalam sastranya. Pokok yang lain berusaha menghalau intervensi kebudayaan asing melalui kerja kebudayaan anak bangsa sendiri. Ternyata masih ada orang semacam kawan Saut Situmorang ini, yang konon telah menolak berbagai penghargaan yang diberikan.

Beberapa pandangan lain tentang “perang”-nya boemipoetra dinisbatkan pada peperangan tempo dulu, antara Manikebu dan Lekra. Tunggu dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Beberapa orang di boemipoetra memang ada yang secara tegas mengakui sebagai Marxis namun tidak lantas juga kalau boemipoetra mewakili suara Lekra. Meskipun demikian, lalu bagaimana dengan Goenawan Muhammad? Yang saya tahu, Manikebu tidak serampangan membela atau mengijinkan adanya pembumian seksualitas di negeri ini, mengingat sastra yang dihasilkan juga dinikmati kalangan luas, remaja generasi bangsa.

Apakah TUK itu berusaha untuk menjadikan perempuan-perempuan yang masih kempling menjadi “perek” seperti yang disebutkan Ayu Utami si sastrawangi? Atau Ayu Utami sendiri berpijak dikakinya sendiri, tidak beratas nama TUK? Kalau begitu, karena sastra yang bebas nilai perlu kita pahami kalau si subjek kreator bertanggung jawab penuh atas efek yang dihasilkan dari karya sastranya. Kalau sampai terjadi “perek”isasi dalam kehidupan remaja putri yang masih kempling itu, smenurut saya Ayu Utami harus ikut bertanggung-jawab. Kecuali kalau Ayu Utami lalu mengekor pendapatnya si Sutardji Calzoum Bachri (konon menisbatkan diri sebagai Presiden Penyair; gajinya berapa ya? Kapan ada pemilihan umum?) yang mengatakan kalau penyair (sastrawan) tidak perlu bertanggung jawab atas karyanya, karena membuat karya semacam Sutardji Calzoum Bachri semacam mimpi. Aspek yang tidak bisa dituntut pertanggung jawabannya. Lalu, kenapa juga kita harus membaca puisi (sastra) yang hanya igauan tidak karuan. Seperti itu khasanah permimpian.

Tidak akan habis untuk merunut peperangan antara boemipoetra VS TUK karena peperangan mereka tidak juga kunjung padam. Mau berpihak pada siapa, pasti lebih membingungkan sampai akhirnya membuat kita menjadi penonton yang kadangkala terbengong-bengong. Kemana pun arah tujuan dari peperangan ini, saya secara pribadi mengatakan perlu, sebab khasanah sastra Indonesia adalah medan bagi para petarung. Dan karena itu, bukankah “Laut yang tidak tidak akan melahirkan nelayan yang tangguh?” Semoga peperangan ini dapat melahirkan sastrawan dengan predikat yang baik, berestetika yang baik sampai akhirnya doa Aristoteles yang menempatkan sastra sebagai katharsis dapat terkabulkan.

Yogyakarta, Kantor Lama BK – SSI, 13 April 2011.

Sumber bacaan:

Abrams, M.H. 1985. A Glossary of Literary Terms. Orlanda: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.

Boemipoetra. Manifiesto boemipoetra. http://boemipoetra.wordpress.com/manifesto-boemipoetra/

Mills, C. Wright. 2003. Kaum Marxis: Ide-ide Dasar dan Sejarah Perkembangan. Diterjemahkan dari judul asli The Marxists oleh Imam Muttaqien. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.