Pulang

M.D. Atmaja

Malam belum terlalu dingin saat aku menikmati kopi dan tembakau yang sudah terasa menyesakkan dada. Memang belum terlalu dingin, meskipun kulitku berbintik dan kopi yang baru saja diseduh cepat dingin. Tidak apa, aku nikmati saja mumpung masih ada waktu menikmati sebelum deadline memenggal kesantaianku. Bisa-bisa, kalau tidak dinikamati sekarang, kopi bisa tidak terminum, pun rokok pasti tidak akan terhisap juga. Meskipun dalam waktu terjepit, istriku memang tidak pernah ketinggalan menyiapkan kopi nasgitel. Entah, dia sungguh terlalu baik atau aku yang sungguh keterlaluan. Tapi senyumannya itu, terus saja dihadirkan meskipun terkadang aku terlupa memberikan ucapan terima kasih. Tidak mengapa, istri-istriku sendiri. Pun, mungkin dia tidak pernah berani untuk protes. Aku sih maklum saja. Aku terlalu otoriter dan represif sebagai lelaki. Mungkin, memang sudah nasibku seperti ini dan nasib dia yang seperti itu.

Ini enaknya, kalau yang menciptakan kehidupan dipercaya untuk kita, lelaki maksudku, mengatakan, “Aku ini imammu, khalifah,” atau seabrek kata untuk mewakili si nomor satu. Iya tidak, bukankah setiap lelaki senang berada di posisi atas, puncak dari segalanya? Ah, yang bilang tidak, dan mau diatur istrinya, mengaku saja kalau terlalu pengecut untuk jujur pada dirinya sendiri dan terlalu lemah untuk bertindak.

Meskipun aku bukan imam yang baik, entah kenapa lagi, istriku itu lho, selalu saja tersenyum manis. Tapi, siapa juga yang tahu kalau di dalam senyumannya itu, membuatku berdiri dan angkuh. Membodohi diri sendiri, kalau sebenarnya, aku ini bukan apa-apa tanpa perempuan itu. Dia, istriku yang tidak pernah protes, telah menjadi sumsum tulang. Juga, merahnya darah yang membuatku mampu berdiri menatap dunia sampai hari ini. Tapi, aku tetap berusaha sebaik mungkin agar dia tidak tahu dengan semua itu.

Menanggung lelah, menanggung begitu padatnya otak yang terus diisi dengan berbagai persoalan yang tidak mungkin dihindari, aku berusaha menikmatinya. Bersama rokok murah dan kopi hitam murahan juga, aku mulai menyalakan internet. Lalu, ke produk Yahoo Messengger yang sudah membumi di desa-desa di tangan anak-anak sekolah menengah.

Weh, tepat sasaran, di sana aku melihat kawan lama yang baru saja online. Masuk begitu saja, yang membuatku ingat dengan kenakalan, eh, keberanian di masa muda. Bagaimana tidak berani, kalau sampai mengibarkan bendera setengah tiang? Ah, mungkin itu akan terdengar biasa, namun bagaimana kalau Merah-Putih itu kami balik menjadi Putih-Merah?

“Piye kabarmu, Sob?” sapaku dulu, tidak salah bukan saat berusaha menjadi manusia yang ramah. Sob di sini untuk sobat, bukan mewakili nama seseorang lho.

“Hahaha…” dia menyahuti dengan emoticon tertawa terbahak-bahak yang sampai gulung-gulung itu.

“Piye, keluarga selamat semua? Kabarnya tadi gempa.” tanyaku lagi meskipun dia kelihatannya tidak wellcome.

“Assalamu’alaikum.” Tulisnya yang masih tidak menjawab pertanyaanku.

Sengaja aku tidak menjawab salamnya. Memang akan terlihat sombong, namun tidak apa-apa, sedikit jual mahal.

“Hahaha… apa itu?” tanyaku yang berusaha membuat sedikit guyonan.

“Sudah saatnya kembali pulang, Dab. Salam untuk kebaikan dunia akhirat. Ngerti to?”

“Apa maneh kuwi?” sahutku.

“Kamu tidak percaya apa dengan siksa kubur?”

“Di dunia saja ada siksa dunia,” sahutku yang masih berusaha melucu.

“Nah, berarti percaya to?”

“Waduh, aku belum tahu je, baiknya bagaimana?”

“Back to Quran dan Sunnah!” tulisanya di YM itu.

Aku tidak patah semangat untuk mengembalikan pembicaraan agar menjauhi masalah kepercayaan masing-masing manusia, apalagi itu bersangkutan dengan interpretasi teks yang diturunkan Tuhan dalam perantara Lisan. Tiap orang pasti berbeda dalam berinterpretasi itu, jadi ya, itu kan urusan kita sendiri.

“Sob, masih ingat Sarekat?” tanyaku lagi.

“Masih. Itu yang paling harus besar untukku menjadi bahan dalam muhasabah.”

Heh? Kenapa anak ini? Apa organisasi yang dulu pernah membuatnya menjadi kafir dan menuju kejahatan sampai dia harus bermuhasabah karena pernah membangunnya? Eneh, pikirku. Padahal tidak ada orang yang dirugikan, pun, tidak ada korupsi. Tidak ada kejahatan, lantas?

“Ya sudah, Sob, berarti kamu juga tidak mau kenal aku lagi.” Tulisku dan dia lama tidak menjawab.

“Mumpung belum terlambat. Back to Quran dan Sunnah.” Jawabnya lagi dengan begitu ringan.

Semprul, pikirku. Padahal, sempat dia menjadi buronan dan aku yang menyembunyikan dirinya. Toh, pulang juga karena mungkin lelah berlari. Kehabisan uang, maksudku. Terus menikah dengan orang yang disudah dikecewakan, dipermalukan. Ah, mungkin karena uang juga. Lalu, di hari yang lain datang dengan New Panther Turbo dalam dada yang terangkat tinggi. Di depanku, yang petani ini.

Brengsek!! Tidak usah sok alim, sedangkan istrimu yang sekarang ini yang menjahit bendera-bendera perjuangan kita. Dan istrimu juga lah yang telah, ah, sudahlah. Tidak ada gunanya juga. Lebih baik, tetap santai kayak di pantai.

“Hahaha… bagaimana bisa,” tulisku memprovokasi.

“Emang kitabmu apa?”

“Kalau aku pulang, tidak bisa ke Quran dan Sunnah.”

“Jangan sampai menyesal.”

“Ya, kalau aku pulang ya ke rumah, Sob.” Tulisku lagi. “Piye to?”

Pun, dia langsung off. Hahaha… aku tertawa dalam hati sambil senyam-senyum sendirian. Aneh, dari dulu kok tidak pernah berubah. Selalu merasa diri yang paling suci. Suara perjuangan yang dulu pernah diteriakkan pun telah disumpal dengan lembaran-lembaran keuntungan. Bagaimana bisa bicara menyoal akhirat kalau semasa hidupnya dihabiskan untuk memburu dunia. Dan wanita? Ah, aku tidak tahu. Terlalu lelah. Agama itu ada di jalan hidup, bukan manisnya tutur kata yang menjadi topeng, pikirku sambil men-shutdown notebook.

“Sudah malam, Mas, Isya dulu terus tidur. Ingat kesehatanmu itu. Kalau kamu sakit-sakitan,”

“Iya!” potongku. Ah, sialan! Kenapa harus penyakitku ini yang selalu dia jadikan alasan untuk menasehati. Dasar penyakit sialan! Tubuh sialan! Keparat! Ah, tapi tidak apa-apa. Hanya tubuh. Hanya penyakit. Selama hatiku tidak ikut sakit saja, itu sudah cukup. Terima kasih, Tuhan! Selamat Malam, Tuhan!

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 2011.