Remo

Sabrank Suparno *

Winarsih berubah menjadi laki-laki, benar-benar berubah. Ia tampan, gagah, tanggap, cekatan, mengesankan. Busananya pun mentereng, dengan pernik warna-warni elegan, ditambah udeng kepala yang terselip lipatan berujung lancip ke atas, betapa ia seorang ksatria wibawa di medan laga yang kesaktiannya melindungi rakyat jelata. Bahkan lebih cocok jika namanya diganti Joko Galing, Joko Sambang, atau Joko Sembung, sebab gelagat, paras, naluri, kekuatannya tak selembek wanita lagi. Sendainya buah dadanya tak menonjol membentuk gunung kembar yang mengapit jurang, atau sedang tidak mengalirkan sumber merah mentrulasi, agaknya kesalahan takdir terjadi pada Winarsih. Kumis tipisnya jelas, bahwa serumpun rerumputan gelap itu hanya tumbuh di ladang bibir laki-laki.

Demikianlah ketika Winarsih menari remo saat mengawali pagelaran wayang kulit atau campursarian di daerahnya. Ia selalu tampil sebagai peremo ke dua, setelah peremo pertama selesai. Peremo pertama dimainkan oleh wanita yang berdandan layaknya wanita, dengan gerakan lembut, gemulai. Sedang peremo ke dua diperankan wanita yang berdandan laki-laki dengan gerak tari cekatan dan trengginas. Karakter dan kepiawaian Winarsih, cocok jika sabagai peremo ke dua.

Blak, blak, ning, nong, ning, rancak suara gamelan yang ditabuh para pengerawit bagai cericit burung, raungan singa, kepak sayap kelelawar, gemercik air, serta dengung kumbang yang menyatu di rimbaraya. Mereka bersatu dan berputar lingkar menjadi suara dengan kapasitas nada yang diserap oleh kode-kode gerak tarian Wiarsih. Seluruh rimba tunduk kepadanya. Selendang yang meliuk-liuk berloncatan dari ujung kaki ke jemari tangan bak tongkat sang gitapati yang mengacung, menjulang-julang ke angkasa sebagai tanda peralihan nada. Tiba-tiba, ia berubah sesosok pemimpin, tiap geraknya menjadi kebijakan agung yang dianut rakyat seluruh negeri. Namun dalam kerajaan kecil negeri Winarsih, yakni wilayah pementasan, dimana semua perhatian mulai pengerawit, penanggap, apalagi penonton, melotot terhepnotis kelihaiannya.

Tutslah nada peralihan remo pun selesai. Remo dalam pertunjukan wayang atau campursarian diteruskan dengan tembang yang siapa pun diperbolehkan memesan lagu. Berbeda dengan meremo dalam pementasan ludruk, peremo laki-lakinya harus benar-benar laki-laki, kecuali terpaksa, dan seusai meremo tidak melayani permintaan lagu dari penonton atau tamu undangan.

Saat melayani lagu inilah, saat Winarsih panen. Sebab tiap peminta lagu, harus memberi uang yang walau tidak ditentukan jumlahnya, namun harus pantas. Bervariasi cara orang memberikan uang kepada Winarsih saat memesan lagu, ada yang diberikan biasa, ada yang diblusukkan ke dalam jurang di antara bukit kembarnya, ada pula yang iseng dengan menjapit lembaran uang di ujung lidi yang kemudian ditarikulur seperti pancing. Dengan perasaan yang terbiasa menyikapi orang iseng, Winarsih menyabet lembaran uang yang memang sudah menjadi hak untuk mengambilnya.

Pelayanan lagu atau tembang, kadang hingga suara Winarsih serak. Bahkan terkadang molor sampai tiga jam. Pernah suatu saat Winarsih dibatasi oleh tuan rumah untuk menyudahi permintaan penonton, sebab waktu molor hingga jam 12 malam. Andai dilanjutkan, dalang akan kehilangan banyak waktu untuk menggebyakkan lakon wayangnya.

Keringat menetes deras, nafas ngos-ngosan, baju basah oleh keringat, bahkan kumis polesannya rada terhapus, tak dihiraukan Winarsih. Baginya, uang hasil saweran yang dibagi dengan pengerawit, adalah uang tips selain bayaran sebagai peremo. Uang hasil saweran itu kadang lebih berlipat dibanding uang saku pokok. Ketika melihat lembaran uang, mata Winarsih menjadi biru lautan yang keluasannya akan menampung seberapa banyak sampah yang hendak tumpah ke samudera.

Menghadiri pementasan, bagi Winarsih adalah saat pesta dalam hidup. Ia teringat masa kecil ketika diajak ibunya menonton pertunjukan. Winarsih selalu mengulum telanan ludah bila melihat aneka jajan yang dijual sederet pedagang. Apalagi ketika melihat anak sebaya dibelikan jajan oleh orang tuanya. Sementara orang tua Winarsih hidup serba kekurangan, jangankan untuk membeli jajan, tiap hendak tidur saja Winarsih sulit memejamkan mata hingga larut karena lapar. Sedang sehari, hanya makan dua kali dan sesudahnya tak ada nasi lagi.Winarsih pun kerap berangkat sekolah tanpa sarapan pagi, karena ibunya kehabisan beras dan belum menerima gaji.

***

Di bilik rumah bambu yang sudah doyong dan disangga beberapa cagak, Winarsih kecil menjalani hidupnya sebagai anak yang serba kekurangan, tak pernah berpesta sedikit pun. Yang paling ia ingat ialah saat orang tuanya selesai membikin welit, anyaman daun tebu yang dipesan tetangga. Welit itu digunalan sebagai atap pawon sebelum ada genteng. Ongkos pesanan welit yang cukup lumayan meski tak banyak, ibu Winarsih menjanjikan esok hari akan mengajaknya ke pasar untuk membeli baju. Saat itulah Winarsih tak bisa tidur semalaman. Angan-angan tentang keramaian pasar menghilangkan kantuknya. Kepahitan hidup yang mendera, seperti menebalkan besitan hati Winarsih bahwa jika dewasa kelak ia akan bekerja keras agar mendapat uang melimpah. Melihat kenyamanan hidup tergantung pada uang, kehidupan ini bagi Winarsih, Tuhan memang Yang Maha Esa, tetapi uang yang maha kuasa.

Setamat SMP, Winarsih ibarat keluar dari penjara yang memberlakukan jam jatah makan. Ia diajak budenya yang memiliki warung di gunung Pucangan. Maka berpindahlah Winarsih dari desa kelahirannya Pangklungan ke gunung Pucangan, tepatnya di desa Montorogo. Tiap hari bergumul melayani tingkah polah, senda-gurau pembeli, kekebalan mental Winarsih pun menebal. Selama tiga tahun hidup di warung, Winarsih bagai berada di pasar kecil yang tak hanya bertransaksi jual beli, tetapi juga tempat berhamburannya berbagai informasi.

Seiring keluar masuk orang di warung, ada yang pendatang baru, ada pelanggan yang tak pernah lagi singgah selama merantau atau meningal dunia, Winarsih yang dulu gadis kecil kini beranjak dewasa. Setiap berdiri di depan kaca, ia melihat dadanya mulai ada benjolan kian membesar, yang kadang dengan sadar, ingin menunjukkan kepada seseorang tentang seberapa tinggi gundukan itu menjulang. Ia pun melihat pinggulnya kian melebar. Diamati perubahan dalam dirinya dengan berputar-putar, sebab yang tampak dalam cermin tak akan jauh beda dengan aslinya.

Winarsih juga merasa ada yang terbuka dalam dirinya. Tak bisa dikunci namun pasti jelas mempersilahkan seseorang memasukinya, seorang lawan jenis, entah siapa. Jiwanya menjadi hamparan belantara yang disinggahi ribuan petualang cinta.

***

Berbagai obrolan selama di warung, hal paling tak terlupakan dan terus terngiang di telinga Winarsih adalah perbincangan tentang kegaiban Sendang Made, kolam kecil di perbukitan dekat kampungnya, bahwa, barang siapa berpuasa beberapa hari lalu menyepi semalam di sendang itu, bisa mendapat azimat untuk kesuksesan.

Winarsih seperti memetik keberuntungan begitu saja. Kejayaan hari pun memihaknya. Tanpa aral larangan atau sekedar curiga, budenya mengijinkan ketika Winarsih berpamit menginap di rumah teman, di kampung sebelah. Sebuah alasan yang tepat. Sebab budenya tau kalau Winarsih mempunyai teman baik, layaknya saudara kembar selama menetap di kampung itu. Padahal Winarsih merencanakan telasan, menyepi ke Sendang Made setelah berpuasa dino renteng, yakni tiga hari beserta pasaran dalam neptu Jawa yang berjumlah 40, semisal Jum’at Pon, Sabtu Wage, Minggu Kliwon.

Menjelang petang, Winarsih menyusuri jalanan setapak menuju Sendang Made. Ia sengaja mencari waktu agar tidak berpapasan dengan orang, apalagi yang dikenal. Tekatnya yang gempita, menjelma para wanita karier yang sedang naik daun di televisi. Para wanita ternama itu mengulurkan tangan, “ ayolah Winarsih, sebentar lagi kau akan duduk bersanding dengan kami. Dengan harta dan popularitas, kau tak akan diperbudak oleh kehidupan, tak disepelehkan laki-laki.” Ajakan yang membuat Winarsih mempercepat langkah. Namun ketika teringat cerita tentang candi olo, waktu surup, waktu mudalnya para Dedemit, Gondoruwo, para Peri, Wewegombel, Elo-Elo Banaspati, Sundel Bolong, Sundel Bentet, Sundel Buntu, Pocongan, Wedhon, Jerangkong,….., bulu kudu Winarsih pun berdiri. Tak pelak, “grrrr, krusek,” sesosok menyusup ke semak belukar. Winarsih gemetar, lumpuh dan terjongkok hingga terkencing. Setelah diamati, ternyata hanya seekor babi hutan. Ia bergegas meneruskan langkah. Tetapi baru lima puluh meter, “whussy,” kibasan kelelawar raksasa sedang melintas dan hinggap di dahan. Setelah dua kali tergoda bahwa sesuatu yang jika amati betul ternyata yang awalnya menakutkan sesungguhnya bukan hantu, Winarsih kian nekat.

Sesampai di tepian sendang, Winarsih mencari tampat sepi. Ia memastikan bahwa tempat itu tak mungkin dijamah orang. Menirukan apa yang ia dengar di warung, Winarsih pun mencari pupus daun pisang yang ia gelar untuk alas bersila.

Bagi Winarsih, malam itu berbeda dengan seribu malam sebelumnya. Malam yang sungguh-sungguh malam sebagai sosok diri kenapa ia disebut malam. Gelap. Sepi. Sunyi. Kecuali canda binatang malam: siul burung hantu, kecek belalang, lolongan srigala, denging serangga, gesek dedaunan jati yang berguguran.

Winarsih perlahan menyusuri lorong malam. Ia tersadar, kenapa malam disebut tidur, tiba-tiba ia sampai pada lorong kesunyian yang jauh ke dalam sunyi, bahwa suara gembrujuk air terjun yang berada lima puluh meter di dekatnya terdiam. Seluruhnya. Beserta riuh binatang malam, tak bersuara. Padahal air tetap mengguyur ke bawah. Masuk ke dalam malam Winarsih menemukan titik terang yang tak segelap malam, begitu juga menemukan kesunyian di balik gemuruh riuh suara alam jika malam.

Suara kentong terdengar sayup berdenting dua belas kali dari perkampungan jauh. Waktu menunjukkan lingsir. Embun mulai turun dengan dingin yang menusuk tulang. Dingin yang sekaligus menjemput bunyi kentongan bertitir satu pukulan, dua kentong, hingga menunggu tiga ketukan yang masing-masing berarti tanda jam.

Dari bilik sunyi ruang malam, Winarsih mendengar suara-suara aneh. Seperti suara orang berkerumun di pasar, lalu menghilang. Beberapa menit kemudian, suara bayi menangis, lalu menghilang. Berganti lagi suara hewan-hewan yang Winarsih pasti faham suaranya, lalu hilang lagi. Bahkan Winarsih mendengar suara yang tak pernah ia dengar selama hidup, entah suara apa itu. Terakhir Winarsih mendengar suara gamelan bergemontang, persis seolah sedang menonton ludruk atau wayang. Winarsih meraba tangan, kaki, serta raut mukanya. Ia memastikan bahwa dirinya sedang tersadar dan bukan tertidur lalu bermimpi. Sebab ia kini berada di tengah tontonan wayang kulit, ia menonton dengan orang orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Tepatnya bukan pertunjukan wayang yang ditanggap seseorang, namun mirip kompetisi lomba, atau reuni sekolah yang mempersilahkan siapa pun yang hadir untuk menyumbangkan tembang atau tarian. Dari deretan kursi undangan berdiri seorang tua dengan pakaian khas sesepuh Jawa, celana komprang hitam, baju hitam, kaos lorek merah putih, memakai udeng ikat kepala. Rupanya lelaki tua itu tokoh terkenal di antara semua pangunjung. Langkahnya berwibawa dan mengesankan. Ia menghampiri Winarsih di antara kerumunan penonton lain. Lelaki wibawa itu mengulurkan tangan ke Winarsih sambil memberikan selendang. Tak sekedar selendang yang hanya kain sewarna, merah jambu, kuning, atau hijau, tetapi sehelai selendang itu berwarna pelangi hijau dan abang. “Nduk, sekarang giliranmu menari remo, silahkan, kau pasti bisa. Asal syaratnya satu, kau jangan menikah! Kalau kau menikah, maka kau tidak akan bisa meremo lagi dan kebesaranmu akan hilang,” ajak sekaligus nasehat lelaki tua berwibawa itu.

Winarsih kembali meraba tangan, kaki, dan raut mukanya. Ia memastikan kalau dirinya sedang tersadar dan tidak sedang bermimpi waktu tertidur. Sebab semua keramaian gamelan, dengung obrolan ratusan penonton serta undangan tiba-tiba lenyap dari hadapannya. Winarsih kembali menemui dirinya sendirian di tengah hutan, dan, dengan begitu saja ada selendang pelangi ijo-abang tersampir di pangkuannya.

(Tiga bulan kemudian)

Winarsih seperti hari-hari sebelumnya, ia sibuk membantu budenya di warung. Namun beberapa hari ini ia tak tampak di warung. Sudah dimaklumi budenya, ia diminta Tulkiyem membantu membikin kue di rumahnya. Tulkiyem perawan sepantaran Winarsih itu akan menikah. Sudah menjadi tradisi warga desa jika hendak menikah, menyuruh teman atau tetangga untuk membantu segala persiapan perjamuan. Serayanya, pesta pernikahan Tulkiyem bakal ramai, sebab pernikahannya diramaikan pagelaran wayang kulit dengan lakon’Wahyu Cokro Ningrat’ yang dimainkan dalang kondang Ki Sleman.

Pagi, hari’H’pesta perkawinan Tulkiyem, para tetangga yang laki-laki, sibuk mengusung gong, kenong, kendang, kempul, peti wayang dll. Sebab desa Montorogo adalah kawasan perbukitan dengan jalan setapak yang mobil tak bisa masuk.

Setelah perangkat gamelan tertata rapi, para nayoga dan pesinden, memulai ‘giro’sejak jam 9 pagi. Winarsih yang sibuk membungkus aneka kue hidangan menjadi tersentak, ia teringat persis, bahwa suara rancak gamelan yang kini di depan rumah Tulkiyem, persis yang ia alami sesaat ketika menyepi di Sendang Made. Winarsih pun terbayang perihal selendang yang ia sembunyikan dalam almarinya. Ucapan tetua agung saat di Sendang Made, bagai menyembulkan keberaniannya bahwa dirinya pasti bisa menari remo. Winarsih lantas menemui salah satu awak anggota nayoga untuk mengusulkan kalau dirinya ingin menyumbang tari remo nanti malam. Tanpa pikir panjang, nayoga pun mengiyakan setelah berunding dengan orang sekawanan. Begitu pula budenya, malah mendukung keberanian keponakannya yang ia anggap mungkin Winarsih belajar meremo saat sekolah SMP dulu.

***

Menginjak jam 8 malam, para nayoga makan bersama. Pertanda sebentar lagi ‘giro sekaten’ akan dimulai, yakni awal seluruh proses acara berlangsung semalam suntuk. Dua peremo juga sudah datang bersama gurunya Ali Markasa. Bagi kalangan pengerawit dan beberapa warga yang menyukai wayang kulit dan ludruk, tentu mengenal kepiawaian Ali Markasa, seorang pengeremo beken yang pernah menjuarai tinggkat nasioanal. Kebesaran jiwa berkesenian Ali Markasa, menyambut bangga atas keberanian Winarsih yang hendak menyumbang. Winarsih pun dipersilahkan untuk tampil lebih dulu daripada peremo panggilan. Dan, betapa Ali Markasa terpukau menyaksikan tarian Winarsih sungguh-sungguh hidup. Ia benar-benar menyatu dengan alunan musik. Pengerawit pun terserap iringannya ke seluruh gerak gerik detail tarian Winarsih. Mereka tak habis pikir, bagaimana mungkin sosok gadis desa selugu Winarsih mampu mengekspresikan tahap Lumaksana, Tanjak, Iket, Besut Gantungan, Kicatan, Ceklekan, Ayam Alas, Tumpang Tali dan Sembahan dengan begitu sempurna. Tidak hanya itu, ia malah menambahi trik-trik mbeling yang keluar dari pakem tahapan meremo tersebut. “Wow, lahir dari mana anak ini?” desah pukau Ali Markasa. Sejak itulah Winarsih menjadi peremo ulung yang tak henti jobe pementasan menjemputnya. Kabar sepuluh tahun berikutnya ia sudah bisa membangun rumah megah serta menyumbang untuk perbaikan jalan di desa kelahirannya di Pangklungan, dan desa tempat ia menemukan keberuntungan hidupnya, yakni Montorogo Pucangan.

***

Bertahun-tahun keluar masuk terop, kehadiran Winarsih ibarat bumbu pelengkap, kurang sregh rasanya sebuah pesta tanpa kehadirannya. Apalagi ketika ia sedang meremo, liukan selendangnya bagai keloget pelangi saat bidadari meluncur ke bumi mengendarai punggungnya. Atau, ia bagai Murai Batu yang bercericit bersama gelaran sayap dan mekar bulu-bulunya. Sebuah keindahan yang sengaja dipamerkan ke kelopak mata pejantan.

***

Adalah Sukirjo, pemuda asal desa Gongseng, sosok perjaka bersenyum teduh, sorot mata bersinar, ucapan dan gerak geriknya landai tak berpolah mubadzir: kalem, datar, mengesankan bak permukaan air pada kubangan jeruh, tak bergejolak, tak beriak.

Sukirjolah yang menjadi Jaka Tarub dan bersiap menyembunyikan selendang bidadari kala mandi di telaga. Atau menjadi pejantan Batu Murai yang mengerti makna kibasan sayap betina kala berjemur di terik matahari.

***

Malam itu Sukirjo sedang asyik menonton pementasan Ludruk Begidak Massa yang sedang tampil di dekat pondok pesantren. Baginya, menonton kesenian tradisional lebih bernilai daripada menghadiri kampanye PPP, Golkar atau PDI siang harinya. Melihat Winarsih melenggangkan tari remo, Sukirjo laksana melihat kuncup bunga dahlia yang mekar dan bergoyang diterpa semilir angin pagi. Tumbuhlah hasrat Sukirjo untuk memetik sekuntum dahlia itu dan menaruh dalam jambangan jiwanya, agar kehidupan lebih semarak dengan rampak warna-warni dan tak lengung lagi.

Karena kekurangan pemain, Winarsih tak hanya meremo malam itu, tetapi juga berperan sebagai Surti si putri raja dalam lakon Pendekar Joyo Mulyo. Demi mengatasi prahara kelaparan, paceklik, perampokan, penyakit merajalela yang melanda kerajaan, raja akhirnya mengadakan sayembara, barang siapa mampu memulihkan ketentraman kerajaan, ia akan diberi kemulyaan pangkat, serta dinikahkan dengan putri raja. Muncullah Pendekar Joyo Mulyo dari desa Jalinan yang diperankan oleh Pak Ngaidi Wibowo, seniman ludruk kawakan sekaligus kawan Winarsih. Untuk menguji kesaktian Pendekar Joyo Mulyo, raja memberi sarat, kalau pendekar bisa memanah seluruh daun beringin hingga berlobang, maka ia akan dinikahkan dengan putrinya serta diberi kemulyaan.

Sebagai pendekar sakti mandraguna, Joyo Mulyo segera meraih panah ampuh berjuluk Sangkelat Tembus Sukma. Ketika busur disematkan dan melesat dari jemparingnya, tiba-tiba datang berbondong-bondong ribuan para santri dari pondok terdekat. Entah apa sebabnya. Sejak sore mereka curiga kalau ludruk akan membikin lakon yang dipesan untuk berkampanye. Adegan memanah ribuan daun beringin hingga tembus, merupakan sindiran agar dalam pemilu nanti warga nyoblos partai bergambar pohon beringin.

Amarah santri pun membabi buta. Penonton panik dan semburat. Beberapa awak pemain ludruk menjadi bulan-bulanan. Aktor yang biasa memainkan adegan perang, dan memang pandai bersilat, mencoba melawan. Namun para santri agaknya sudah menyiapkan kekebalan tubuhnya. Santri sudah digembleng kiainya sebelum berangkat membubarkan tontonan ludruk tersebut. Cerobong tempat para pemain berias pun diobrak-abrik. Bahkan kerusuhan antara santri dan pemain ludruk, sama-sama mengeluarkan senjata tajam. Namun karena jumlah santri lebih berlipat, para pemain ludruk kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri.

Winarsih pontang-panting ketakutan. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Baginya selama ini meremo atau kadang bermain ludruk hanyalah karena panggilan berkesenian. Ia datang karena dibayar untuk menghibur orang.

Dari hiruk-pikuk penonton, dari sela perkelahian, Sukirjo melompat, menyelinap menghampiri Winarsih. Sukirjo menggandeng tangan Winarsih. “Ayo menyelamatkan diri. Sebagian temanmu ada yang tersabet celurit.” Tanpa pikir panjang, Winarsih pun mengikuti gelendengan tangan Sukirjo. Beberapa santri juga ada yang mengejar sambil mengancam, “kubunuh kau.” Ancaman yang kian membuat Winarsih merinding ketakutan. Alhasil, larilah Winarsih dan Sukirjo merantas ke sawah-sawah. Mereka berdua berlari sejauh-jauhnya, yang penting nyawa terselamatkan. Keduanya jatuh bangun terjungkal di parit. Nafasnya tersengal sembari gemetar.

***

Sejak peristiwa itu, Winarsih kian mengerti bahwa hidup di dunia seni pun diperlukan siasat kepekaan menganalisa sesuatu yang bakal terjadi. Tanpa siasat atau perhitungan, ia bisa dipecundangi siasat itu sendiri. Bahkan nyawa menjadi taruhan.

Sejak peristiwa itu, Winarsih mulai terkagum, kenapa ada sosok yang teramat peduli dengan keselamatan, masa depan karier dan melindunginya saat bahaya. Sementara kawan sepermainan justru sibuk menyelamatkan diri tanpa menghiraukan nasib kawan lainnya.

***

Winarsih dan Sukirjo dipertemukan pada keadaan yang tak terduga. Sukirjo seperti diseleksi alam untuk melindungi serta menyelamatkan harta titipan, sementara Winarsih merasa dirinya berhutang nyawa dari kejamnya politik saat pentas ludrukan sial itu. Selanjutnya pertemuan mereka di sela-sela berkesenian, tak terasa menjelma matador cinta yang mendadung leher keduanya untuk bertekuk lutut pada kerinduan, sebuah ruang putih yang indah dan asyik dibanding rutinitas apa pun.

Sebelum semua terlambat, Sukirjo menjalankan kewenangan sebagai lelaki yang mencintai Winarsih. Saat keduanya menghabiskan senja di tanggul Kali Brantas, di sela-sela padang perdu ilalang, di atas sebongkah batu besar, Sukirjo dengan gugup mengutarakan isi hatinya pada Winarsih. “Dik, setelah kuamati, ternyata aku gelisah jika tidak bertemu kamu, aku juga takut kehilangan kamu, kau selalu menguntit kemana pun kepergianku. Dik, sejak mengenalmu, alam semesta hilang, menjelmamu di setiap pelupuk mata dan degub jantungku. Melihat kawan atau tetangga menggendong anak, bergurau dengan istri, terlintas andai sejoli itu aku dan kau. Kuharap kau menjadi Kali Brantas sang Bengawanjeruh dan aku ikan yang tak hidup tanpa menyelam di kedalamanmu. Mata kita akan berpandangan berabad-abad. Aku merasa kaulah tulang rusukku. Di antara makhluk hidup, kuingin kau sudi mendampingi hidupku sampai usia senja, ikhlas dalam suka dan duka. Aku ingin anakku hanya lahir dari rahimmu. Aku ingin menikahimu.”

Winarsih terperanjat. Ia tertegun bagai gunung di musim hujan, dengan mendung bergelayut dan geluduk menggelegar. Otot dan persindiannya lumpuh, tetesan keringat dingin mengucur sekujur tubuh. Seremeh apapun ucapan lelaki jika dibarengi ketulusan dan kesungguhan, adalah hal sakral bagi wanita. “Aku mengerti bahasa orang menyinta. Aku juga faham arti dicinta. Aku berterimakasih pada setiap huruf dari kata-katamu, keberanian serta kesungguhanmu. Namun,…” Winarsih lalu menceritakan perihal selendang yang membuat dirinya kondang beserta sarat ketika ia menerima selendang itu di Sendang Made dahulu.

Mendengar jawaban Winarsih, perasaan Sukirjo berhamburan bagai ribuan emprit tersentak suara gerombyang kaleng para petani. Emprit yang sedang hinggap di pucuk kuningnya padi.

***

Meski telah sewindu, kata kata Sukirjo di tanggul Kali Brantas tak menyingkir dari selaput gendang telinga Winarsih. Gaungnya terus terngiang melebihi rampak nada gamelan yang mengiringi tariannya ke mana pun. Bergema, dan terus menggema.

Begitu pula Sukirjo. Koor suara santri yang mengaji di pondok belakang rumah. Suara santrinya kian gemontang berkumandang kala berbaur dengan gemercik air dari pancuran kecil diapit tebu diladang sebelah pondok. Suara itu bagai cericit burung perenjak bersautan, burung yang mengabarkan tentang adanya tamu hendak datang. Hari-hari Sukirjo selalu menunggu kedatangan Winarsih.

***

Seusai melewati hari-hari dan mimggu-minggu yang dirundung basahnya hujan, bulan sudah menginjak kalender ke enam. Seperti biasanya, setiap awal pembukaan musim giling tebu, pabrik gula di tikungan kota mengadakan Tayuban dengan menggelar segala kesenian daerah sekitar. Tontonan digelar tak hanya semalam, namun sampai seminggu. Pentas bervaian menjajar, mulai dari Ludruk, Gambus, Jaran Kepang, Ujung, Topeng Sanduran, Samroh-Qosidah bahkan Tahlilan Akbar yang mengundang para kiai sekabupaten. Pesta tontonan itu dimaksudkan agar mendapat keselamatan seluruh karyawan pabrik pada masa giling nanti. Dalam acara skala besar seperti itu, Winarsih pasti diundang.

Di pentas lain yang tak jauh dari pentas ludruk Winarsih manggung, tampak Sukirjo mondar-mandir. Atas nama pondok, ia dan para santrinya diundang pihak pabrik untuk mengisi acara Qosidah. Para santri putra tampak lucu dan menggemaskan dengan pakaian busana muslim, kopyah, sarung dan baju koko. Begitu pula santri putri, mereka kelihatan anggun, molek, menis dengan warna-warni jilbabnya.

Tak kalah dengan pementasan lainnya, terutama para ibu dan remaja putri merangsek berjubelan. Melihat anak sekecil itu berani tampil di atas panggung, para ibu dan orang tua pasti kesemsem. Terdengar suara bergemontang dari MC kecil salah satu dari santri Sukirjo membuka kata-kata penghantar lagu islami mereka, “…asam gendis asam gelugur-ketika asam riang-riang / jasat menangis di dalam kubur-semasa hidup tidak sembahyang.” Seketika penonton senyap sebelum beberapa saat kemudian tepuk tangan riuh menyambutnya.

Entah gravitasi apa yang menarik Winarsih ke pementasan qosidah itu, padahal ia sendiri sedang mempersiapkan tari remo ludruknya yang dimulai jam 9 malam. Di antara desakan penonton wanita lainnya, Winarsih seperti tersodok dadanya. Suara santri kecil Sukirjo bagai virus ganas mematikan. Sumsum dan persendian Winarsih lumpuh. Bagi Winarsih sebaris kalimat MC kecil itu suara halilintar menyambarnya. Ledakan yang berpusat di dalam dada dan getarannya tanpa sadar melelehkan air mata bersama gemuruh tepuk tangan ibu-ibu di sekitar panggung.

Selama bergelimang ketenaran dan kemewahan, Winarsih tak sadar terseret jauh ke dalam keramaian dunia fana, keramaian yang di dalamnya terdapat satu ruang gelap teramat sunyi. Kefanaan yang keras, tajam memanjang bagai pedang Dakstur sedang melintang di leher Nabi Muhammad. “Kalau pedang siap menebas lehermu begini, siapa yang menolongmu Muhammad?” “Alloh” jawab Nabi Muhammad singkat. Namun kata ‘Alloh’ sepertinya Nabi Muhammad hanyalah bibir manusia yang dipinjam Alloh sejenak. Sedangkan yang mengatakan adalah Alloh sendiri, maka tak sanggup siapa pun mendengar, kecuali gemetar.

Begitulah Winarsih. Suara santri kecil Sukirjo, adalah kebenaran yang dititipkan di bibir santri. Gadis seusia Winarsih, mestinya sudah menjadi ibu, ternyata belum mampu menggapai nalar atas kesuksesannya di akhirat kelak, sedang gelimang dunia hanya berakhir sebatas usia.

Winarsih kemudian menemui Sukirjo di belakang panggung yang menjadi sutradara pementasan para santrinya. Pertemuam Winarsih dan Sukirjo kembali bagai gelombang waktu yang terulang. Meski gagap, namuan keduanya merasa terbiasa. “anak-anakmu lucu-lucu ya mas,” sapa Winarsih. “Ah, kebetulan, mumpung diundang Direktur pabrik gula, aku mengajarinya keberanian berekspresi sejak kecil, biar nanti kalau dewasa, mereka tatag seperti kamu. Kalau bisa sih, aku ingin mereka mempunyai ketrampilan seimbang ketika di atas panggung, baik mimik, tekanan suara, ritme dan gerak tubuh. Yang penting, apapun yang mereka lakukan, sekecil apapun energi yang mereka keluarkan, harus berbaur dengan gerak rotasi bumi, gerak revolusi antar planet dan bersandar kepada Alloh. Tanpa itu, ampang rasanya hidup, walau berarti, tapi tak bermakna.”

Winarsih tersentak. Namun, ia menyembunyikan rasa malunya dengan melayangkan pandangan ke sekitar. Ia merasa kehebatannya menari remo selama ini hanyalah bertumpu pada kemampuan bahasa tubuh. Itupun kebanyakan penonton menangkap sebelah mata. Penonton hanya terpesona oleh kemontokan dada, kebahenolan, serta kelangsingan tubuh Winarsih.

“Kenapa matamu berkaca?” Tangkap tanya Sukirjo. Winarsih tak kuasa bergeming. Winarsih, malah menangis. Diantara sesengguk isakan, “Mas, sejak hubungan kita vokum, apakah ada wanita lain yang mengisi hatimu?” Sukirjo terperangah. Ia terkikuk. Burung perenjak yang bercericit tiap hari di belakang rumahnya seperti datang membawa ribuan tamu, dan semua tamu itu ialah Winarsih yang hendak menerima kata cintanya 8 tahun silam. “Belum. Sengaja aku menguncinya. Memang ada banyak wanita, tapi mereka hanya ditakdirkan sekedar melintas di depanku, ada pula yang ditakdir menjadi teman, tapi belum ada yang ditakdir menjadi istri.”

Jawaban Sukirjo menjelma jalan membentang di depan Winarsih. Ia hendak menapakkan kaki menyusurunya walau dengan sedikit keberanian. Yah.., keberanian memang tidak harus berjuang mengacungkan pucuk senapan. Terkadang keberanian cukup hanya melakukan hal sepeleh yang mengandung kepastian. “Mas, menyaksikan qosidah para santri kecilmu, aku merasa bahwa ada nilai berharga dalam dirimu. Entah mengapa, sepertinya aku merasa perlu terlibat menjaganya. Aku ingin menjadi ibu dari mereka, dan ibu dari anak kita.”

Seketika tubuh Sukirjo dan Winarsih gemetar, seperti diguyur anugerah tak terhingga dari langit. Keduanya saling bertatapan mata. Bagi Sukirjo, wajahnya tampak jelas utuh di dalam mata Winarsih, begitu juga Winarsih sedang menyaksikan bulat wajahnya dalam kerling mata Sukirjo.

***

(Dua tahun kemudian)

“Masya’Alloh, subhanalloh, lucunya anakku. Tuhan anugerah macam apa yang kau berikan kepadaku ini, Jombang Kuncoro anakku sedang terbata-bata. Ia hendak berjalan. Ia tertatih, jatuh, bangun dan menangis. Oh anakku, sungguh kau sekuntum bunga yang bermekaran di pelupuk mata, setelah malam-malam lalu engkau mengigaunya. Anakku, kau adalah aku dan ayahmu yang menjelma menjadi kamu.” Demikianlah hari-hari Winarsih dipenuhi kegirangan, kebahagiaan. Setelah 2 tahun berumah tangga dengan Sukirjo terlengkapilah puncak kebahagiaan dengan kehadiran anak pertamanya anak yang diberi nama Jombang Kuncoro, anak dari 2 pertemuan sepasang kekasih dari latar yang berbeda. Ketenaran yang ditinggalkan Winarsih, nyata tergantikan dengan harta tak terniali, sebab ia bersumpah mengubur selendang ajaibnya sebelum duduk di pelaminan bersama Sukirjo yang kini menjadi suaminya.

Jombang, 26 Pebruari 2011, buat: Faza Fauzan Adzima

*) Penulis lahir di Jombang 24 Maret 1975. Menulis esai, puisi, cerpen, cerkak bahasa nJombangan. Redaktur Bulletin Lincak Sastra.