M.D. Atmaja

Pagi itu, langit cerah membelai kemuning batang padi yang merunduk. Perkasa merengkuh bumi setelah selesai diberangkus kabut. Manik-manik embun berkilauan, menghiasi pandangan letih menatap hari yang semakin membeban berat. Ah, pagi ini terlalu indah untuk merenungi kesialan nasib di hari kemarin, ucapku pelan.

“Ja!” panggil Karman, Paklik Karman petugas pertanian kabupaten yang kebetulan tinggal di samping rumah.

“Pripun, Lik?” tanyaku malas, “Ada apa?”

“Nanti di Kabupaten ada penyuluhan pertanian.” Ucap Paklik Karman sopan, meskipun berbicara denganku, yang petani ini, meskipun pernah dihina setan jahaman yang kini berbakti untuk negeri para koruptor.

“Weh, yang benar, Lik? Wah, Bupati ternyata menepati janji ya. Petani mulai diperhatikan.”

“Jangan seperti itu, Ja, apa selama ini Dinas tidak memperhatikan apa? Capek-capek dari kantor aku keliling ke setiap desa hanya untuk kalian, petani.”

“Hahaha…” tawaku menggelegak. “Lha, Dinas kan tidak pernah menjanjikan apa-apa sama petani, Lik! Yang sering janji-janji kan para calon Bupati itu. hahaha…”

“Halah, piye bisa mewakili Bapakmu?” tanya Paklik Karman.

“Coba lihat nanti, Lik.”

“Wah, kok kami tidak disuruh datang, Lik. Kan lumayan ada makanan gratis, plus, hehehehe…” saut Kangmas Gathak yang baru saja datang dengan Dhimas Gathuk.

“Lha, kalau kalian mau ikut boleh. Ini kan acara untuk petani.” Sahut Paklik Karman dalam senyum senang.

“Mendingan kita ajak seluruh kampung saja, Kang!” sahut Dhimas Gathuk. “Biar Kabupaten bangkrut.”

“Ah, selama ini kami dari Dinas sudah berusaha mengajak petani untuk bekerja sama, tapi mereka selalu bilang kalau tidak perlu acara-acara seperti itu. Daripada uang habis untuk penyuluhan, bagi mereka, lebih baik dialokasikan untuk penyediaan pupuk dan benih.”

“Ya, itu bener, Lik, bener tahi laler enak seger hahaha… Petani itu memang lebih pintar dan bijak ketimbang kalian hahaha…” Dhimas Gathuk terus saja memberondong Paklik Karman yang justru tersenyum.

Paklik Karman sendiri maklum dengan Dhimas Gathuk, sebab mantan aktivis kiri yang terdesak ke pinggir sampai tidak mampu berbuat apa-apa selain menjalankan ideologi petani itu untuk diri sendiri.

“Siapa yang jadi pembicara?” tanyaku.

“Dari Pusat. Juga akan ada si Pak Krie-Krie.”

“Ha?” Dhimas Gathuk kaget, sama sepertiku.

“Lha, Pak Krie-Krie mau ngomong apa? Dia kan bukan petani.” Sahutku.

“Setidaknya beliau ini memiliki suatu kebijakan mengenai pemberdayaan petani.” Ungkap Paklik Karman.

“Perberdayaan untuk diberdayakan dukungannya? Hahaha…” Dhimas Gathuk kembali. “Bagaimana dia bisa memiliki kebijakan baik untuk petani. Gak mungkin! Mbel gedes! Lha wong dia selama ini memperkosa tanah mau bicara soal mengolah tanah. Gombal mikiyo. Ngapusi!”

“Jangan seperti itu, Dhi.” Sahutku, jangan sampai Paklik Karman tersingung.

“Itu urusan dia sendiri. Sejauh dia memiliki visi dan misi yang baik tidak ada salahnya to, Dhi, kalau kita dengarkan.” Sahut Paklik Karman bijak dan terus berusaha mengasuh kami.

“Hahaha… MBEL GEDES! Tidak percaya. Masak bisa seorang pemerkosa tanah, berpikir baik tentang tanah? Lha, di ujung Timur saja dia memperkosa sampai darah pertiwi muncrat. Membuat petani tidak bisa menanam. Membuat petani kehilangan sawah. Terus kebijakan yang mau seperti apa lagi, Lik? Pemerkosa tanah tidak layak bicara soal kebijakan petani yang manusiawi? Ah, MBEL GEDES. Tidak percaya!”

“Terus, mau bagaimana?” sahutku sementara Kangmas Gathak hanya senyam-senyum melihat tingkat adiknya.

“Wes, tidak usah berangkat! Tidak usah didengar omongan gombal mukiyo. Pemerkosa berlagak jadi Dewi Sri. Semprul!”

Studio SDS – masih dalam Perjalanan Pulang, 24 April 2011.

Categories: Cerpen