Dari Novel ke Festival Film Bandung

Cornelius Helmy
Kompas, 23 April 2011

PENULIS serba bisa, Eddy D Iskandar (60), ternyata sering dibuat terkejut oleh tulisannya sendiri. Lewat ”Gita Cinta dari SMA” yang dimuat sebagai cerita bersambung di majalah ”Gadis” pada tahun 1976, Eddy menuai pujian. Bahkan, atas permintaan pembaca, dibuatkan juga sambungannya berjudul ”Puspa Indah Taman Hati”.

”Padahal saya hanya mencoba mengisi kekosongan pembuatan tulisan dan novel bertema remaja. Saya semakin terkejut karena dalam waktu sebulan kumpulan cerita bersambung yang dibuat jadi novel sudah cetak ulang,” tutur Eddy.

Sukses di novel berlanjut pada layar kaca yang mengorbitkan pasangan idola remaja, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novel yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga lantas diangkat dalam sinteron serial dan dibuat drama musikal berjudul ”Gita Cinta The Musical”.

Kejutan berlanjut setahun kemudian. Lewat novel berjudul Cowok Komersil dan Semau Gue, Eddy kembali mendobrak minat pembaca. Lewat pendekatan yang sama, Cowok Komersil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku per cetak. Adapun novel Semau Gue kembali diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman, dan Yenny Rachman.

Dari semua novelnya, ternyata ada satu yang ia anggap sebagai karya fenomenal. Novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik mampu diselesaikan hanya dalam kurun waktu sehari.

”Meski hanya dibuat sehari, saya tidak lupakan kualitasnya. Hal itu terlihat dari catatan penjualan yang berkali-kali cetak ulang. Saya bisa berbuat seperti itu karena semangat untuk membuat novel sedang tinggi,” katanya.

Kepuasan batin

Eddy mengatakan, minat menulisnya justru diawali hobi membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang dipinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orangtuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail, hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dilahapnya.

Tulisan pertamanya hadir secara tidak sengaja saat mengikuti perpeloncoan di salah satu akademi pariwisata di Bandung tahun 1970. Tulisan berjudul Malam Neraka yang menggambarkan suasana perpeloncoan dimuat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak itu ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.

Tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliah di Akademi Industri Pariwisata Bandung, ia nekat pergi ke ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Eddy muda ingin menjadi sutradara. Film dianggap media yang paling mudah memengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Di Jakarta ia tinggal di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa.

Kawah candradimukanya adalah pergaulan dengan berbagai seniman dari segala profesi, juga seringnya menyaksikan beragam pementasan di TIM. Ia juga ikut dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda, seperti El Manik dan Noorca M Massardi. Tulisan-tulisannya didistribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.

”Saya menemukan banyak teman yang saling membimbing dan memberikan masukan dalam setiap karya. Saya mulai bisa menulis kolom dalam surat kabar, berita seni, hingga pembuatan naskah untuk film atau drama,” kata Eddy.

Ketenaran, katanya, tidak membuat dia puas. Ia merasa ada kekosongan batin karena jauh dari kultur asalnya, Jawa Barat. Ia kagum dengan seniman dari daerah lain yang bisa membuat berbagai karya berbasis kearifan lokal.

Kesempatan pun datang saat ia ditawari mengelola koran mingguan berbahasa Sunda, Galura. Ia yakin tawaran ini adalah peluang emas untuk menemukan kepuasan batin yang hilang.

”Meski dari sisi finansial kalah jauh dengan menulis novel populer, kepuasan batin sulit dicari,” ujar Eddy yang terkenal dengan ciri khasnya, yaitu rambut gondrong berwarna putih.

Si Kabayan

Berkecimpung dalam media massa berbahasa Sunda memberikan banyak pengalaman baru. Ia aktif dalam pembuatan karya seni Sunda, antara lain naskah cerita legenda tanah Sunda seperti Kisah Perang Bubat, menggarap pementasan Konser Kecapi Patereman dan Musik Perkusi Marakdungga dalam pergelaran kolosal ”Mahawira Tatar Sunda” hingga mengangkat pamor tembang Bandungan yang sebelumnya sangat jarang dimainkan.

Selain itu, ia juga aktif merangkul seniman agar berani mementaskan dirinya, seperti Paguyuban Pelawak Sunda atau Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat.

Meski sudah terjun dalam pelestarian budaya Sunda, bakat besarnya sulit disembunyikan. Tahun 1989 Eddy diminta menulis skenario film mitos terpopuler Sunda, si Kabayan. Ia berhasil mengangkat tokoh si Kabayan disukai masyarakat Indonesia. Buktinya sekuel Kabayan berjudul Si Kabayan Saba Kota menjadi film berbalut kearifan lokal terlaris di Indonesia.

Salah satu kunci sukses Eddy saat menggarap sekuel Kabayan adalah keberaniannya mendobrak kemapanan dan membawa ide segar dalam film, di antaranya pertunjukan wayang golek atau tokoh jin. Wayang golek dimainkan dalang yang sedang naik daun kala itu, Asep Sunandar Sunarya.

”Penulis harus tahu apa kesukaan masyarakat bila karyanya mau diterima. Bukan hal yang mudah, tapi juga tidak terlalu sulit kalau mau terus belajar,” katanya.

Promosi daerah

Kecintaannya pada film jualah yang mendorong dirinya bersama produser Chand Parwez Servia membidani lahirnya Forum Film Bandung yang rutin menyelenggarakan Festival Film Bandung (FFB) sejak tahun 1988.

”Selain ingin mengangkat kualitas film Indonesia, FFB juga bertujuan mengangkat Jawa Barat sebagai gudangnya semangat dan kreativitas,” katanya.

FFB terbukti kuat menghadapi tantangan industri film. Saat Festival Film Indonesia (FFI) mandek sekitar tahun 1990-an, FFB tetap eksis memilih film terpuji dan sinetron terpuji. Akhir April ini FFB akan digelar untuk yang ke-24 kalinya. Kini di tengah kisruh FFI yang tidak juga henti banyak orang berharap FFB menjadi tempat netral tanpa pretensi apa pun saat memilih film dan aktor terpuji.

”Kami tidak ingin terlibat dalam konflik apa pun. Hanya dengan melakukan penilaian secara obyektif, maka akan terlihat kualitas suatu film,” kata Ketua Umum FFB ini.

Untuk FFB 2011, Eddy mengaku ingin mengangkat potensi daerah melalui film Indonesia. Selain memiliki banyak penonton, film berlatar cerita lokal diyakini mampu memberikan pelajaran hidup positif, sekaligus promosi bagi daerah.

”Semakin bagus pembuatan film, maka semakin banyak wisatawan yang datang ke daerah tersebut. Dengan sendirinya film bukan sekadar tontonan, tapi juga penggerak ekonomi dan wisata daerah. Pembuatan Laskar Pelangi di Belitung sudah membuktikannya,” katanya.

Eddy D Iskandar
• Lahir: Ciwidey, 11 Mei 1951
• Istri: Evi Kusmiati (59)
• Anak: – Dini Handayani (34) – Novelia Gitanurani (31) – Asri Kembangkasih (27) – Andre Anugerah (22) – Cucu: 2 Orang
• Penghargaan : – Penggagas Tembang Bandungan (1985) – Anugerah Budaya Pemerintah Kota Bandung (2010) – Anugerah Seni Budaya Jawa Barat (2010)
• Aktivitas
: – Pemimpin redaksi surat kabar mingguan berbahasa Sunda ”Galura” – Ketua Umum Festival Film Bandung

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/eddy-d-iskandar-dari-novel-ke-festival.html