M.D. Atmaja

Menghadapi tumpukan bahan yang disediakan alam semesta, membawa saya pada perundingan. Berkompromi dengan diri sendiri untuk menemukan teknik dan juga solusi dalam usaha menikmati hidup. Banyak dari kita, berhadapan dengan simpang jalan dan kebingungan. Di satu sisi menawarkan gemerlap kenikmatan dan sisi lain menawarkan pemahaman mengenai hakekat. Cara mana yang akan ditempuh menentukan jalan dan gayanya.

Kehidupan manusia modern lebih menghadapi permasalahan yang sulit. Masalah terlalu pelik untuk dipandang sederhana (meskipun kehidupan ini sesuangguhnya teramat sederhana). Saya yakin kalau hasrat manusia yang sebenarnya telah menciptakan berbagai kerumitan, keruwetan. Padahal, manusia dari sisi kebutuhan paling mendasar hanya menyoal: sandang, pangan, dan papan.

Hasrat mendorong adanya pertambahan dan perkembangan kebutuhan manusia, pendidikan dan kesehatan. Kemudian manusia disudutkan untuk memenuhi segala kebutuhan, termasuk yang berbau kenikmatan. Hasrat menggandeng manusia untuk memasuki kerumitan hidup, kesusahan bahkan sampai pada ketertekanan. Membuat hidup begitu jauh berjarak dengan apa yang namanya ketenangan.

Di depan mata ada jalan untuk mencapai bahagia dengan cara yang begitu sederhana. Andaisaja, manusia mau lebih sedikit lagi bersabar, secermat menyimak alam dan kemudian belajar dari sana. Satu dongeng yang seringkali melintas, bahwa negara Indonesia adalah zamrud khatulistiwa. Pun Sunan Kalijaga dalam liriknya: “Li-ilir” menggambarkan kesuburan tanah kita. Lalu apa?

Dari penggambaran “zamrud kathulistiwa” dan kekhasan muatan nilai “Lir-ilir” itu tadi merupakan suatu jalinan simbolisme perjalanan. Judul ini juga saya harapkan hadir sebagai simbolisme, tubuh perempuan telanjang (khususnya Jawa). Wilayah yang subur, menyimpan eksotisme alam (baik kultural maupun magis) yang dapat saya jadikan sebagai GURU.

Kalau ada yang ingin menanyakan landasan simbolisme saya, silahkan membaca tulisan terdahulu: Lubang di Tengah Hutan Itu, Kelamin Perempuan dan Menikmati Indahnya “Gunung Kembar”, Itu Payudaranya? Seumpamanya masih ada yang tidak setuju, tolong berikan argumen dan penjelasan. Dengan senang hati saya akan membaca, kemudian mengkritisi diri sendiri.

Melanjut ke masalah awal, mencermati “alam” untuk belajar dari sana. Memposisikan alam sebagai guru, yang menasehati, mengajarkan ilmu dan juga memberikan petunjuk. Di dunia ini ada posisi manusia yang keberadaannya sangat dekat dengan alam, yaitu petani. Namun sayangya, petani mulai kewalahan didesak kehidupan. Keadaan mengenai petani dapat disimak di HEH, ADA APA DENGAN PETANI?!

Petani sebagai sosok murid alam namun hadir sebagai guru bagi saya. Guru yang bijaksana dan menurut saya layak untuk mendapatkan gelar Profesor Doktor Kehidupan. Petani dalam perilaku, memunculkan nilai keuniversalan manusia baik. Karena bagi saya, mereka adalah kebijaksanaan itu sendiri.

Petani adalah guru, yang juga memiliki konsep edukasi humanis seperti karya sastra (bandingkan di sini). Petani mengajari saya dengan “laku” atau aktivitas keseharian, bukan melalui metode dan teori yang gersang seperti para kalangan akademisi. Bukankah “satu contoh itu lebih baik ketimbang seribu nasehat?”

Proses edukasi petani secara langsung memanfaatkan eksotisme tubuh perempuan telanjang (tanah) sebagai teori dan metode pendidikannya. Melalui penggarapan sawah, nilai agraris dimunculkan di sana. Tabur-tuai, begitu Stephen Covey menyebutkan dalam bahasa seorang urban-industrial. Dalam pandangan kehidupan agraris ini, petani juga memiliki nilai estetika, humanisme, maupun religius yang begitu tinggi. Suatu jalan kehidupan yang ditempuh para Wiku, Biksu, Brahmana, Ulama, Kyai, Pastur, dan sederet lagi istilah manusia bijaksana religius lainnya.

Konsep mendasarnya adalah “menanamlah yang baik agar kelak kita memanen yang baik”. Ini suatu makna fenomenologis yang sangat indah, sarat dengan makna. Duniawi dan surgawi tergenggam dalam laku hidup petani. Tabur-tuai sebagai isi dan sekaligus metode dapat mengajari manusia dakam berbagi, memupuk rasa kemanusiaan dan religiusitas.

Tabur-tuai juga sebagai identitas kehidupan manusia. Dia (tabur-tuai) ada di dalam perilaku keseharian, misalnya, perilaku hidup gotong-royong. Kita akan sangat jarang menemukan, bahkan tidak ada, suatu kondisi di mana petani tega membiarkan tetangganya kelaparan. Pasti, perilaku petani akan saling mengulurkan tangan, saling bahu membahu menghadapi hidup dan bersama-sama mencapai keselamatan, kerukunan, dan keselarasan sosial.

Tulisan ini saya akhiri dengan: Lebih baik mana, jalan hidup petani dengan birokrat?

Studio SDS – 2011

Categories: Canting