Ketika para Seniman Mencermati Acara Hiburan di Teve

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Baru-baru ini, Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kajian Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI), mengadakan seminar bertajuk “Anak dan Televisi” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Dimoderatori Sunu Wasono, staff pengajar FIB-UI, sesi pertama yang sangat singkat ini menghadirkan Riris K. Toha Sarumpaet (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya & Pengajar Pengkajian Cerita Anak), Paulus Wirutomo (Sosiolog), dan Eko Handayani (Psikolog) sebagai pembicara.

Acara tersebut mendapat respon cukup bagus dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah cerpenis, para penyair dan seniman lainnya yang belakangan tertarik mencermati acara-acara hiburam untuk anak-anak di televisi.

Dalam materi seminarnya, Riris mengupas tayangan Opera van Java (OVJ) milik Trans 7 dan sinetron SCTV Islam KTP, yang setelah diteliti, ternyata berdampak negatif terhadap pertumbuhan anak-anak.

OVJ dinilai banyak mengandung kekerasan, kata-kata kasar, serta menampilkan peristiwa tidak pantas seperti ngompol. Begitupun Islam KTP, yang memang ingin memberikan pendidikan agama dan moral, namun justru sang tokoh teladan di dalamnya sering mengeluarkan ejekan yang tidak pantas dicontoh anak-anak.

Menurutnya, kedua tayangan ini jelas bukan tontonan anak. Namun kenyataannya, kedua stasiun TV tetap menayangkan program tersebut saat anak-anak masih bisa menonton TV, yaitu pada pukul 20.00-22.00 untuk OVJ, dan pukul 18.00-21.30 untuk Islam KTP.

“Jika kita bicara tentang tontonan anak, maka tontonan itu seharusnya mengasyikkan”, tutur Riris. Jika tayangan tersebut mengandung kekerasan, atau malah berisi terlalu banyak konflik manusia dewasa, tontonan itu tidak akan mengasyikkan bagi anak. Artinya, tayangan tersebut bukanlah tontonan untuk anak.

Lain lagi dengan Paulus Wirutomo yang bahasannya mengenai “Media dan Masyarakat Indonesia”.

Paulus mengatakan bahwa terhadap teknologi yang terus berevolusi, masyarakat belum mampu berevolusi dari aspek sistem nilai, sikap, perilaku, pranata sosial, dan yang lainnya, sehingga masyarakat Indonesia, selain menjadi pemanfaat teknologi, juga turut menjadi korban teknologi tersebut.

“Bukan media yang sebenarnya menjajah kita, tetapi orang-orang di baliknya.,” ujar Paulus penuh semangat.

Sebagai pengakhir sesi, Eko Handayani hadir dengan paparannya, “Dampak Tayangan TV Terhadap Anak”. Ia mengatakan bahwa televisi merupakan salah satu jendela awal bagi anak untuk mengenal dunia. Sayangnya, tidak semua tayangan berdampak positif. Meski televisi membantu meningkatkan daya imajinasi anak sehingga anak bebas berkreasi, namun televisi juga dapat mengakibatkan berbagai gangguan, baik dari gangguan fisik dan kesehatan, hingga gangguan mental dan kognisi anak.

Tak lupa Eko juga memberikan beberapa tips kepada orangtua, seperti, (1) jangan menaruh TV di kamar anak, (2) melakukan pendampingan ketika menonton, (3) memilah dan memilih apa yang layak ditonton anak, serta (4) menambah lebih banyak alternatif kegiatan bagi anak selain menonton TV.

Satu tips yang menarik dan perlu diingat oleh orangtua adalah, jangan egois, karena anak meniru orangtuanya. Jika orangtua melarang anak menonton, namun ternyata orangtuanya menonton, itu sama saja memberi contoh buruk bagi anak. Di akhir materi, ia mengingatkan peserta seminar, terutama para orangtua, jangan sampai anak lebih memilih TV sebagai sahabat, ketimbang orangtuanya sendiri.

Sesi kedua yang dijadwalkan akan dibawakan oleh Arist Merdeka Sirait (ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Titin Rosmasari (Pemimpin Redaksi Trans 7) mendadak berubah. Arist tidak dapat hadir, sehingga waktu diserahkan sepenuhnya kepada Titin sebagai pembicara tunggal.

Dalam hampir seluruh isi pembicaraannya, sayangnya Titin hanya berbicara mengenai program-program anak Trans 7 dan membandingkannya dengan program-program anak di stasiun TV lain.

“Masih ada yang tertarik untuk bekerja di stasiun televisi?” tanya Titin di akhir pembicaraannya. Menurutnya akan sangat baik jika banyak orang yang terjun langsung di industri pertelevisian, sebab hanya dengan cara itulah kita dapat membuat suatu perubahan.

Menanggapi “tawaran” Titin itu, para seniman kemudian ikut bicara. Dwi Rejeki yang selama ini dikenal sebagai penyair misalnya,mengingatkan bahwa mungkin saja para seniman yang selama ini banyak menghasilkan cerita pendek layak ikut “campur tangan” membidani acara-acara siap tayang di televisi. Tentu saja dalam membidani itu tidak saja menyangkut acara-acara khusus untuk anak, tetapi juga acara untuk dewasa agar tidak melulu didominasi warna kekerasan.

Landung, penyair dan cerpenis dari Yogyakarta juga mengingatkan acara hiburan (musik) untuk anak-anak di teve membawa keanehan. Bisa disebut begitu karena musik yang disajikan justru musik untuk orang dewasa. Tetapi kenapa dinyanyikan oleh anak-anak? Jelas itu tidak mendidik.

Belum lagi tayangan kartun untuk anak-anak namunisinya kebanyakan menyuarakan kehidupan orang dewasa. Dalam kaitan itulah, Landung berpikiran, andai para seniman dilibatkan dalam proses penciptakan tayangan untuk anak, mungkin kualitas acara untuk anak itu benatr-benar akan pas untuk anak. Kapankah pihak teve melibatkan para seniman untuk menghasilkan tontonan yang lebih berwarna dan berkualitas? ***

28 Mei 2011