Selamat Jalan Sastrawan Sunda!

Budi Setiyono*
Pikiran Rakyat, 10 Maret 2007

BELUM genap 40 hari berjalan. Timbunan tanah di pemakaman masih juga belum kering; menyisakan bunga-bunga bertaburan, juga karangan bunga dari “seorang lawan” Goenawan Mohamad.

Belum ada “rumah” permanen bagi yang pergi, juga papan nama. Masih ada sisa duka dan kesedihan, serta kenangan yang memang tak sepenuhnya utuh. Sastrawan itu, A.S. Dharta sudah berpulang sejak 7 Februari 2007, sekitar pukul 05.30 di rumahnya di Cibeber, Cianjur, setelah dua minggu terbaring karena sakit paru-paru dan komplikasi jantung. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga, tak jauh dari rumahnya.

Setelah setahun berdiskusi dengannya, sekali ini saya menengok kamarnya. Gelap. Pengap. Lemari penuh buku. Koran-koran bertumpukan. Di dalam sebuah kardus, saya menemukan tumpukan kertas usang seribuan halaman: Kamus Bahasa Sunda-Indonesia, yang dia bikin untuk menyambut permintaan Atje Bastaman dan Moh. Kurdi alias Syarief Amin –keduanya tokoh Sunda dan bekerja di Percetakan Sumur Bandung. Inilah kerja terakhir Dharta yang belum usai. Kelak, pihak keluarga berharap, ada yang berkenan meneruskan enam abjad terakhir dari kamus itu yang belum selesai.

Saya tak begitu menguasai bahasa dan sastra Sunda. Tapi saya sudah membaca banyak karya A.S. Dharta. Dan karenanya, mari kita bicara karya, ketimbang pengalaman personal yang tak bisa dibantah yang empunya nama.

A.S. Dharta memang “sosok seribu nama”. Endang Rodji adalah nama sebenarnya. Masih ada teman masa kecil almarhum di kampungnya, selain keluarga, yang bisa ditanyai. Tak perlu berandai-andai. Apakah karena nama Rodji itu, dia mau menuntut teman karibnya, Boejoeng Saleh, saya tak mau berandai-andai. Kelak sejarah akan menjawabnya. Tapi nama itu memang menyimpan sisi kepedihan masa kecilnya. Dia sendiri menulis namanya di KTP: Adi Sidharta. Nama Klara Akustia lebih sering dipakai dalam karya-karyanya.

Dalam kamarnya, masih ada surat dari Ajip Rosidi, seorang “dewa” Sastra Sunda, tentang penerbitan Ensiklopedia Sunda. Isinya tentang permintaan biodata Okayaman (Barmara), orang yang berjasa bagi kamekaran urang Sunda. Okayaman pernah memimpin mingguan Bidjaksana di Pandeglang, sebelum pindah ke Cirebon awal tahun 1930-an. Dia juga pernah membuat buku tembang Cianjuran dengan nama Barmara sekitar tahun 1950-an. Okayaman adalah ayah angkat A.S. Dharta. Wajar, jika Ajip meminta biodata itu kepadanya. Tapi, dalam jawabannya, Dharta menolak memenuhi permintaan itu. Alasannya, masih ada orang yang berhak memberikannya, yakni Letjend Mashudi (almarhum), yang pernah menjadi gubernur Jawa Barat dan juga sesepuh Sunda.

Sebuah buku tebal-fotokopian masih tergeletak di meja. Judulnya Kantjungkundang, Prosa djeung Puisi Sunda sabada Perang, dipilih serta disusun oleh Ajip Rosidi dan Rusman Setiasumarga (Djakarta, P.N. Balai Pustaka, 1963). Dalam buku ini, ada sejumlah karya A.S. Dharta: “Poe Anyar” dan “Lagu”, “Kidung Sundayana”, serta “Talatahna Anepakeun”–di luar buku itu, saya juga menemukan sajak-sajak Dharta dalam bahasa Sunda. Dengan terpilihnya karya-karya itu, ada pengakuan bahwa A.S. Dharta adalah salah satu sastrawan Sunda. Semestinya pembicaraan tentang karya dan sosok sastrawan Sunda inilah yang kita harapkan dari Ajip Rosidi, dalam pembicaraan soal “Akhir Hidup Pengarang Lekra”, sehingga akan lebih memperkaya bahasa dan kesusastraan Sunda.

Saya juga menemukan surat pribadi A.S. Dharta dari wartawan-cum-sastrawan Sunda Rachamatullah Ading Affandie (biasa disingkat R.A.F.) yang karya-karyanya juga dimuat di Kantjungkundang, tertanggal 8 Januari 2001. Isi suratnya dalam bahasa Sunda yang indah, agak bersajak. Isinya hangat, penuh persahabatan, dan mencerminkan kerinduan untuk bertemu dan mengulang kenangan indah masa lalu.

R.A.F. mengenal nama A.S. Dharta saat Kongres Bahasa Sunda di Jalan Naripan Bandung. Kondisi kesehatan Dharta waktu itu tidak begitu bagus, tapi dia mampu menghipnotis peserta yang hadir. Sampai-sampai sastrawan Utuy Tatang Sontani bilang, “Heran, pikiran orang yang sakit kok diikuti.”

R.A.F. mengenal Dharta sebagai orang yang jago debat, tapi profesional. Dia pula yang kali pertama mendeklamasikan sajak (bebas) Sunda dalam sebuah pertemuan. Sajak-sajak Kis. Ws, Afiatin, dan Kusnadi pernah dideklamasikannya dengan gaya modern. Bahkan sajak R.A.F. sendiri dikomentari Dharta: “Sajak-sajak R.A.F. itu dalam, tapi R.A.F kurang mementingkan keindahan. Sementara di dalam sajak, keindahan itu menjadi faktor utama…”

Dalam surat itu, R.A.F. menulis, dalam perkembangan bahasa dan sastra Sunda setelah perang, A.S. Dharta tergolong orang yang mencintai bahasa dan sastra Sunda. Ia sejajar dengan Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, Rusman Sutiasumarga, Rustandi, hingga Ajip Rosidi, yang sekarang menjadi “dewa” yang memegang kiblat sastra Sunda. “Tah ‘mimitina mah’ ka rengrengan sastra Indonesia eta (dina basa & sastra Sunda) dumukna A.S. Dharta teh. Ngan henteu nerus Dharta mah, ‘titik berat” aktivitasna leuwih museur dina pulitik,” demikian bunyi surat R.A.F.

Dari R.A.F. inilah kita mendapat gambaran sosok A.S. Dharta sebagai sastrawan Sunda.

Karyanya

NAMA A.S. Dharta memang lebih dikenal dengan karya-karyanya dalam bahasa Indonesia. Bentuknya sajak, cerita pendek, catatan perjalanan, esai, dan kritik sastra. Bukunya memang satu: Rangsang Detik. Selebihnya masuk dalam antologi puisi bersama sastrawan lainnya. Ada juga naskah drama Saidjah dan Adinda, adaptasi dari novel Multatuli Max Havelaar terjemahan Bakrie Siregar, yang pernah dipentaskan pada 1950-an. Ada juga novel yang tak pernah selesai, Keringat, karena keburu dimusnahkah pemerintah militer Jepang. Cerita bersambungnya, “Tirtonadi Mengaku”, pernah juga dimuat di surat kabar. Inilah sejumlah karyanya yang bisa dibedah, dikritik, tanpa harus mendengar pembelaan si penulis.

Bisa juga membicarakan soal apa yang memperkaya pengalaman batinnya sebagai sastrawan dan anak zamannya. Ketika remaja, dia turun ke medan pertempuran. Usai kemerdekaan, tak ada hari dilewatkannya kecuali untuk kerja. Menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogya, memimpin sejumlah serikat buruh, ikut dalam organisasi pemuda dan buruh internasional, PEN Club-Indonesia, serta sejumlah lembaga kebudayaan. Kerja, bukan hanya berkata-kata.

“Dalam kerja itu kita melakukan genesis, melahirkan kita kembali, lieber create man,” ujarnya.

A.S. Dharta sudah menulis sajak masa Jepang. Tapi namanya makin dikenal sejak esainya pada 1949, “Angkatan ‘45 Sudah Mampus”, menggemparkan kesusastraan Indonesia. Sejumlah sastrawan ikut menanggapinya, antara lain Sugiarti, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, Anas Maruf, Achdiat Karta Mihardja, M.S. Azhar, Asrul Sani, dan H.B. Jassin.

“Seorang sastrawan tidak mungkin dan tidak bisa berdiri ‘netral’, terlepas dari pengaruh lingkungannya,” tulisnya dalam “Kepada Seniman Universal”, menanggapi tulisan kritikus sastra H.B. Jassin yang memajukan konsep humanisme universal. “Antara Bumi dan Langit” adalah sebuah sajaknya yang ditujukan untuk H.B. Jassin. Kita berdua sama-sama tidak bebas/kau terikat pada dirimu/aku pada Manusia dan zaman kini.

Realisme sosialis atau realisme aktif menjadi pegangan A.S. Dharta, terutama dalam sajak-sajaknya. Keindahan sajak-sajaknya terletak pada pemikirannya (beauty of thought) dan relasinya dengan rakyat, dengan manusia. Berpadu dengan keindahan emosi dan intuisi, bersumber pada rasionalitas, bersenyawa dengan derita manusia-manusia yang tertindas. Realisme sosialis juga dipegang, tapi tidak dipaksakan, oleh sastrawan dan seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang kelak secara salah kaprah selalu dianggap sebagai organ Partai Komunis Indonesia (PKI). Dharta adalah salah seorang pendiri Lekra, bersama M.S. Azhar dan Njoto, pada 17 Agustus 1950. Dharta pula yang ditunjuk sebagai sekretaris jenderal (Sekjen) dan redaktur Zaman Baru, penerbitan resmi milik Lekra.

Sebagai gerakan kebudayaan, Lekra sendiri perlahan tumbuh. Dalam empat tahun saja, Lekra bisa begitu mapan, meski tanpa sistem keanggotaan. “Lekra adalah fenomena unik dalam sejarah dunia. Menurut saya, berdasarkan penelitian saya, cukup jelas bahwa Lekra berkembang karena cara membangunnya sangat organik dan sesuai kondisi lokal,” ujar Stephen Miller, yang sedang riset tentang Lekra untuk tesis doktoral di Australian National University, dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Bandung selalu menjadi kota yang menarik hatinya. Pada 1951, dia menjadi salah seorang pembicara dalam Kongres Kebudayaan Indonesia II, bersanding dengan Hamka. Sebagai Sekjen Lekra, dia mendorong pembentukan Lingkaran Sastra Bandung. Sementara sebagai anggota Konstituante, dia mendorong penetapan otonomi daerah dalam konstitusi yang sedang digodok. Untuk Bandung pula, dia menjadi salah satu anggota Komite Perdamaian, semacam “kabinet pribadi” Presiden Soekarno, untuk ikut menyukseskan pelaksanaan KAA.

Pada akhirnya A.S. Dharta dikeluarkan dari Lekra karena telah melakukan “kemesuman borjuis” –istilahnya sendiri. Pada 1958, jabatannya sebagai Sekjen beralih ke tangan Djoebaar Ajoeb. Juga keanggotaannya di Konstituante –masuk sebagai calon-tak-berpartai lewat PKI.

Aktivitasnya

A.S. DHARTA bukan orang yang berhenti di satu jalan. Dia selalu bergerak. Pada 1960-an, jika di Jakarta dia ikut membentuk Masyarakat Seni Djakarta Raja, di Bandung dia mendirikan Universitas Kesenian Rakyat. Presiden Soekarno, yang meresmikannya mengatakan bahwa inilah universitas yang pertama di Indonesia dalam bidang humaniora. Dan peristiwa G30S-lah, peristiwa terkelam dalam sejarah Indonesia, yang mengakhiri semua aktivitasnya. Dia masuk penjara Kebonwaru, Bandung, dan keluar pada 1978. Sejak itu, kesehatan mengganggu aktivitasnya. Pendengarannya terganggu. Tapi dia masih bisa melakukan sesuatu. Kekayaan warisan orang tuanya, dia sisihkan untuk kegiatan sosial. Sebuah rumahnya dipakai sebagai kantor dan pusat kegiatan yayasan.

Orde Baru juga telah memasungnya, juga jutaan orang Indonesia. Dia praktis tak bisa melakukan aktivitas apa pun karena larangan-larangan. Orde Baru pula yang menanamkan stigma dalam benak masyarakat Indonesia. Sejak reformasi, stigma itu perlahan dikikis meski tak sepenuhnya berhasil.

A.S. Dharta telah berpulang. Ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya ketika memasuki kamarnya. Coretan kapur dan spidol dalam kertas-kertas menunjukkan keprihatinannya pada banyak hal. Salah satunya, yang saya ingat betul, adalah torehannya di pintu kamar, pada secarik kertas: “Awas! Bahaya kedangkalan logika berpikir”. Itulah kenyataan yang kini kita hadapi.

Melalui karya, juga sosoknya, A.S. Dharta telah membuka pikiran dan mata hati banyak orang yang mendambakan kebaruan dalam perspektif yang benar.

Oleh teman-temannya, A.S. Dharta dinilai sebagai orang yang sulit dicari gantinya. Dia jenis manusia yang tak bisa diperintah, teguh pendiriannya. Dia membangunkan dan memengaruhi sastrawan era 1950-an. Pergaulannya luas, tapi dia tak henti-hentinya mencari generasi muda terbaik. Pramoedya Ananta Toer, novelis tetralogi Bumi Manusia, satu di antaranya.

A.S. Dharta sudah berpulang, dan saya percaya sudah tersenyum manis di sisi Sang Kekasih meski tanpa iringan ucapan selamat jalan dari “seorang kawan”.

Selamat jalan sastrawan Sunda: A.S. Dharta!

* Budi Setiyono, pengurus Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah di Semarang dan Pantau di Jakarta.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/selamat-jalan-sastrawan-sunda.html