Sinopsis Seri Buku “Modern Library of Indonesia”

Benny Benke
http://suaramerdeka.com/

Berikut adalah sinopsis sepuluh karya sastra Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam seri Buku Modern Library of Indonesia; Never the Twain adalah terjemahan novel Salah Asuhan, karya Abdoel Moeis. Pertama kali diterbitkan tahun 1928 sebagai alegori perjuangan masyarakat Indonesia dalam menemukan identitas kebangsaan pada masa pra-kemerdekaan.

Cerita perjuangan ini bergulir melalui kisah Hanafi, seorang pemuda pribumi yang mendapat pendidikan Barat serta telah jatuh cinta pada budaya Barat dan seorang gadis Eropa, Corrie du Buse. Pertentangan Hanafi dan keluarganya yang masih berpegang kuat pada adat Timur bahwa sebagai pribumi, terdidik sekalipun, Hanafi tidak pernah benar-benar bisa masuk sepenuhnya dalam kalangan Eropa totok. Betapa pilihan ini kadang memunculkan wajah masyarakat yang sudah tak lagi berpijak di Timur, namun juga belum sepenuhnya diterima menjadi Barat.

Shackles adalah terjemahan dari novel Belanggu Armijn Pané, pertama kali diterbitkan pada tahun 1940. Melalui konflik sederhana tentang kisah cinta segitiga, penulis mampu memunculkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat pada masa itu. Persoalan yang paling utama adalah ketika sebagian perempuan mulai menempuh pendidikan tinggi, yang memengaruhi sikap mereka dalam kehidupan berkeluarga serta cara pandang mereka terhadap perempuan kebanyakan yang masih berada dalam jalur perilaku tradisional.

The Fall and the Heart karya S. Rukiah, (Kejatuhan dan Hati), terbit tahun 1950, adalah salah satu karya terkuat yang ditulis oleh penulis perempuan sebelum tahun 1970-an, namun kurang dikenal publik karena persoalan politis. Berkisah tentang seorang perempuan kelas menengah yang hidup pada masa revolusi 1965, pemikiran, emosi, dan interaksi dengan keluarga, kekasih, serta lingkungan sosial. S. Rukiah mungkin satu-satunya penulis yang berkisah tentang dampak negatif revolusi terhadap sebuah hubungan personal.

Mirah of Banda, novel yang ditulis oleh Hanna Rambe (Mirah dari Banda) ini, terbit tahun 1986, berlatarkan keindahan Pulau Banda. Novel ini mengungkapkan sisi gelap dan tragedi kemanusiaan akibat perang dan perbudakan oleh penjajah Belanda dan Jepang. Tak hanya luka dan trauma yang dialami oleh para perempuan yang dijadikan peliharaan atau pemuas nafsu secara paksa, namun juga cinta dan pertemuan yang membahagiakan.

Family Room, merupakan kumpulan cerita pendek Lily Yulianti Farid, yang edisi bahasa Indonesianya belum dibukukan ini ditulis antara tahun 2008-2009. Menampilkan mosaik ruang-ruang keluarga yang menggambarkan seperti apa bangsa Indonesia dari waktu ke waktu. Ruang keluarga adalah tempat sisi gelap sosial-budaya dan politik didramatisasi secara brilian. Adalah dapur, tempat kaum perempuan mengaduk mimpi, ketakutan, dan intrik politik agar menjauh. Lalu ruang tidur, tempat bayi dilahirkan dan sosok ibu meninggal. Di ruang-ruang domestik dan feminin ini, hubungan keluarga dan politik dimainkan secara tajam dan intensif.

And the War is Over (Dan Perang pun Usai) ditulis oleh Ismail Marahimin pada 1977. Berkisah tentang pelarian tentara Belanda yang menjadi tahanan perang tentara Jepang di daerah pedalaman Sumatera. Betapa pelarian itu sia-sia karena pada saat itu, Perang Dunia II telah berakhir dan sesungguhnya Jepang telah takluk, namun berita tentang itu terlambat diketahui. Kisah sejarah tersebut dijalin dengan kisah cinta yang memiliki alur serupa. Karya ini menerima hadiah sastra Pegasus (1984), sebuah hadiah sastra dari Amerika Serikat bagi karya-karya bagus dari negara-negara yang karya sastranya masih jarang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

The Pilgrim (Ziarah) adalah karya maestro sastra Iwan Simatupang, yang memiliki ciri penulisan yang tidak biasa atau absurd. The Pilgrim merupakan campuran kompleks, lirik puitis, sekaligus meditasi tentang hidup, mati, dan seni. Melalui tokoh seniman dan opseter pekuburan, penulis menyampaikan pemikiran-pemikiran filsafat dan pandangan terhadap fenomena masyarakat di masa itu dengan cara unik. Pada saat pertama kali terbit, tahun 1969, novel ini dianggap sebagai pelopor gaya baru dalam penulisan sastra di Indonesia. Menurut sebagian besar ahli, The Pilgrim dianggap karya puncak Iwan Simatupang. Pernah memenangi hadiah sastra ASEAN pada 1977.

Sitti Nurbaya (Siti Nurbaya), bernarasi tentang kisah kasih tak sampai sepasang kekasih, tercermin pemikiran penulis bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, sekaligus keinginan untuk melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi anak muda untuk menyatakan pendapat atau keinginan mereka. Dalam Sitti Nurbaya (Siti Nurbaya), telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita, agar kaum wanita mulai memikirkan hak-haknya -apakah ia hanya akan menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) atau mempertahankan kehendaknya-. Cerita yang sangat menggugah dan meninggalkan kesan mendalam, sehingga kisah roman yang ditulis pada tahun 1922 itu hingga kini pun masih menjadi ikon tentang pemaksaan tradisi, terutama perjodohan yang berakhir tragis.

Telegram (Telegram) adalah karya Putu Wijaya yang terbit tahun 1973, dianggap tonggak penting dalam sastra Indonesia, karena keberhasilannya membuat sintesa antara realitas dan fantasi. Walaupun banyak mengandung unsur “teror mental” dan semacam disorientasi psikologis, buku ini merupakan potret Jakarta pada awal 1970-an dan refleksi tentang Bali yang sedang dicekam perubahan sosial besar. Novel ini memenangkan hadiah pertama sayembara yang diadakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional tahun 1972.

Supernova: The Knight, The Princess and the Falling Star (Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh) dinilai sebagai pembaharu pada perkembangan sejarah sastra Indonesia modern. Ditulis oleh penulis berusia muda, sebagai karya intelektual yang mengambil bentuk pop-art dan berlatarkan dunia realistis. Gabungan antara sains, spiritualitas, dan cinta. Buku ini merupakan buku sastra generasi pertama yang bisa menjangkau kalangan pembaca secara luas (bahkan pembaca non-sastra) dan bisa terjual hingga ratusan ribu eksemplar. Buku ini merupakan episode pertama dari rangkaian karya yang direncanakan terdiri atas enam novel.

22 Mei 2011