YANG DIRENGKUH DAN BERLABUH

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Sebuah roman adat istiadat Jawa yang ditulis alam bahasa Indonesia yang apik oleh Arti Purbani (nama samara BRAy. Siti Partini Djajadiniingrat) berjudul “Widyawati”(1949) mengisahkan seorang gadis jelita dari kalangan rakyat, Widyawati alias Widati, yang memiliki ketabahan luar biasa dan gemar berprihatin buat mencapai cita-cita luhurnya. Dalam istilah “prihatin”, direngkuh dua anasir yang saling melengkapi, yakni : banyak menahan diri, tirakat dan mengendapkan duka, sehingga kehidupan hari nanti diliputi sinar surya. Anasir satunya adalah, bagaimana satu individu memandang manusia bukan menghambakan diri kepadanya, melainkan berusaha untuk menciptakan “rasa bakti nan terindah” dalam sukmanya. Karenanya, kisah cibta—sebagaimana Widati akhirnya sukses dalam kisah cintanya dengan bangsawan Kusumoprojo—adalah untaian bahagia yang disulam pada beludru perenungan masa kini mau mengkaji buku tersebut, kiranya akan banyak nilai yang bisa dipetik, seperti umpamanya kesabaran dalam berharap dan memetik rakhmatNya.

2.
Kelebihan dalam merengkuh, lebih kiranya dibandingkan dengan keberangkatan untuk berlabuh. Merengkuh, artinya menguasai sesuatu dengan sikap seperti melindungi, mengayomi dan membawanya pada gapaian nan sebaik mungkin. Sedangkan dalam istilah berlabuh, maka manusia dengan sendirinya menggalang pelayaran itu darisatu dermaga dengan tujuan pasti. Sedangkan pelabuhan yang dipahatkan di benak bisa disebutkan sebagai hal yang menggapai pulau-pulau terpencil. Kiat dalam perjalanan begini, dapat dipandang sebagai manifestasi sang pencahari yang memerlukan Bandar baru dalam penghidupan. Sekiranya orang memperhatikan, dalam pewartaan Kasih Antara Manusia, senantiasa terasa betapa terdapat sumber keberuntungan nan masih samar. Kita perlu menyelami hakikatnya. Sebuah bangsa, tatkala menuju kematangan, juga bertarung melawan angin rebut, nafsu-nafsi pribadi, bahkan juga egoism dan kenaifan. Tambahan lagi, pertatungan itu relatif panjang. Apalagi, jika yag diperjuangkan adalah pemantapan jatidiri berkebudayaan.

3.
Prof. Dr. Mr. Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan pada forum Kongres Filsafat Internasional (3-9 Januari 1990 di Jakarta), bahwa Indonesia seharusnya dapat mempelopori berdirinya satu institute yang melanjutkna pemikiran tentang kedua masalah ini, dalam rangka menarik minat banyak orang terhadap filsafat. Dikatakan lebih lanjut, teknologi hanyalah alat yang diciptakan manusia untuk kepentingan manusia sendiri, dan perlombaan teknologi akan menghilangkan tanggungjawab masa depan dan tujuan hidup manusia. Kini sudah saatnya manusia kembali pada dirinya sendiri. Filsafat akan mengembalikan manusia pada kedudukannya sebagaimana manusia yang bukan sebagai alat. Tetapi sebagai khalifah atau makhluk yang tertinggi derajatnya dan bertanggungjawab terhadap semua yang ada di dunia ini. Krisis yang paling benar sekarang ini, katanya—adalah dunia modern yang dengan kemajuan teknologinya dapat mencciptakan bom atom yang dapat membahayakan umat manusia. “Kita jangan hanyut dengan tidak punya kemauan, tidak punya pemikiran dan tidak punya tanggungjawab. Tetapi kita harus menentukan tanggungjawab masa depan untuk mencapai satu masyarakat dan kebudayaan manusia yang lebih baik”, turunya.

4.
Melagakan kepentingan—antara kelompok pemikir satu dengan yang lainnya, boleh dianggap wajah dari jaman penuh pergolakan ini. Suatu parade panjang yang melibatkan anak-anak manusia pada perayaan dimaksud, sudah barangtentu membawa serta keculasan yang tidak diharapkan. Tuan dapat juga menceritakan bahwa penentuan rasa berdikari dari suatu kaum, layaknya muncul dari beberapa dialog yang tersusun. Dengan kata lain, dialog ini adalah didorong oleh rasa ingin menjembatani sejumlah latar-kultural sekaligus. Oleh dorongan yang kuatlah maka manusia terbilang untuk masuk serta mengembangkan dimensi-dimensi kolegial. Pada prinsipnya, dengan membingkiskan aduan yang sehat kita bentuk kalangan yang memiliki persepsi humoniora—dan dengan rasa gempita ikut memberikan sumbangsihnnya kepada persada Pertiwi. Secara runtut, manakala dikisahkan tentang tolak-tarik yang memacu orang-orang yang baru memasuki gerbang kejuangan—dan karena itu, terlorong individual yang menjamin kesentausaan bangsa adalah dari dada ini.

5.
Sering kita menyebut tentang restu yang tersenbunyi, karena merasakan bahwa doa serta ucapan yang terlimpah adalah merupakan penunjuk terhadap luapan kasih di hati. Manusia menjalin kepentingan sebagai daulat yang dipertuan, manakala pada segi ini, dirinya benar-benar menjadi tiang, sekaligus atap (dari perumahan maknawi selama ini). Kongkritnya kehidupan, kurang lebih dijelmakan seperti burung rajawalidengan sayapnya, dan kemudian sayap ini meliputi pengertian serabut syaraf yang paling lembut yang diserapnya. Karenanya, jika rajawali terbang megah di angkasa biru, ia mengepakkan seluruh berkas bulu dan urat-urat dahsyat yang menstimulir ruang-ruang di dalam kait-helai peraba yang terpacak di situ. Pada pengertian filsafat suatu nation, maka jika dikatakan tentang alam pikirn serta tanggapan dunia ini, pertama-tama kita bicara tentang struktur budayawi, baru kemudian tentang kemotan-kemotan tradisi dialog yang menyumberinya. Daya-muat yang diendapkan oleh kekuatan filosofisnya benar-benar menyatu dengan kesempurnaan tubuh yang terus berkembang. Alam, selingkingan, gerak-geliat dan rasa yang mendewasa jadi sebingkis pakem di puncaknya.

6.
Barangkali saya boleh mengambil ungkapan, tentang dua figure kepahlwanan, masing-masing Raden Ajeng Kartini dan Tjut Nya’ Dhien yang dewasa ini sering diperbincangkan sebagai produk peradaban Nusantara yang mengkristal dalam sosok bangsawan putri yang melebiji kekuatan situasional. R.A Kartini, dengan segenap karya cipta sastranya, seseungguuhnya pejuang intelektual yang telah berbicara tentang suatu zaman yang seratus tahun lebih awal daripada kehadiran masa bersangkutan. Gerak dan elemen yang menyangkup filsafat hidupnya, terus terang, sarat dengan lambang kawicaksanaan dan kawaskithan, sehingga wujud dari wawasan ini adalah jatidirinya pula. Tjut Nya’ Dhien, kendati tiada berjuang di lapangan intelektual (karena dia tak punya impresi susastra seperti Kartini), toh melakukan krida juang di lapangan pembaharuan masa. Caranya adalah banyak mengikuti arus pembangunan kultur rakyat di mukim-mukim, gampong-gampong, madrasah-madrasah, sehingga perempuan (yang pernah jadi isteri Teuku Umar) ini mengenal lika-liku penghidupan suku Aceh dari dasarnya. Penghampiran (Approach) yang diambilnya—setelah kekuasaan ada di tangan—adalah berasal dari sejumlah bahan rujukan literer kuno, yang mengilhami pembaharuan negeri tersebut. Maka tatkala dia ambil ide mengasah rencong dan kelewang untuk melawan kekuatan kolonial yang bersimaharaja, dia tak terpeleset pada klise-klise sebelumnya. Seseorang yang mampu mengantisipasi lingkungan, tegar selalu!

7.
Maka,manakala saya berharap, bahwa Nusantara Masa kini, bahkan juga dalam istilah “Indonesia Futura” (Indonesia masa datang) adalah refleksi dari laku hidup para pejuangnya, dari gelombang ke gelombang, tiadalah salah kiranya. Pada liputan demikian, seorang pemikir, pejuang dan pemetik kecapi falsafah, berdiri di atas pulau yang terpencil di tengah samudera raya, sementara para pendengarnya nyaris tak terjamah. Tapi, setiap angin dan badai yang bertiup serta dibawa oleh gerak-arus samudra tersebut, kiranya mendukung dari jerit dan lontaran dari bibir sang pujangga. Dalam sisiran bianglal historis, seringkali harus dikatakan, bahwa tiada watas antara kemantapan rakyat “untuk menyergap nuansa-nuansa alamiah” dari kentongan sabda pujangga yang terluncurkan perlahan-lahan, dengan naluri “berpetuah” dari tokoh pemikir yang berdiri sebatangkara di tengah ruwet-kemelut sana. Titik berat ketekunan itu adalah pada sejauh mana dia menertawakan kebenaran yang shahih (bukan otoriter), dan betapa masyarakat menampungnya suara tadi. Tapi memang acapkali, lintasan suara-suara begini tiada sinkron..

8.
Tebalnya gris-garis anggitan dalam percakapan muslim, menurut hemat saya seperti berikut : pertama, bagaimana tiap sudut dalam kalbu kita ini bisa ter-elus oleh bayu yang bertiup, dalam waktu tertentu, hingga segi-segi yang terpagut di situ adalah menjadi ukuran tubuh yang bulat. Kedua, ada daya analisa pada tiap pribadi (yang mendengar dan mewjudkan nilaibudaya) itu, sehingga manusia merupakan situs sejarah dari zamansekarang yang bergerak leluasa dan dinamis ini (jadi: tiada yang kadaluwarsa). Ketiga, atau pungkasan, ada sdalam kefaktaan yang ideal ini, satu aspirasi yang terus menerus tumbuh, meninggi, melingkar, menjembar dan membelantar—sehingga tiada halangan apapun yang takkan bisa diberantasnya. Dan, jika kita tulis riwayat bangsa, aspek ini lekat pada andaran tersebut.

* Tanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]