Membina Keakraban Balai Bahasa Banjarmasin dan Sastrawan Kalsel

Mahmud Jauhari Ali
radarbanjarmasin.co.id

Beberapa kali saya membaca sejumlah tulisan yang dimuat di salah satu surat kabar lokal di Kalimantan Selatan tentang sastra dan kehidupannya. Tulisan-tulisan tersebut membuat hati saya terenyuh dan otak saya mulai berpikir soal kehidupan sastra di Kalimantan Selatan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, apalagi menyudutkan pihak tertentu. Dalam tulisan ini saya hanya mencoba mengakrabkan jiwa para sastrawan Kalsel dengan Balai Bahasa Banjarmasin. Continue reading “Membina Keakraban Balai Bahasa Banjarmasin dan Sastrawan Kalsel”

Kaitan Antara Teks dan Relasi Kuasa

Zuriati *
http://www.harianhaluan.com/

Saya mengawali tulisan ini dengan sebuah pemaknaan terhadap sebuah teks yang berjudul “Saudagar Penguasa”. Teks itu ditulis oleh Fachry Ali dan dimuat di Gatra, No. 44 Tahun XIII (13-19 September 2007). Kutipan itu berbunyi: “Sebenarnya tidak ada yang istimewa tentang ‘kritik’ Akbar Tanjung atas kinerja Partai Golkar pasca-kepemimpi­nannya. Dengan mengutip seorang ahli politik [cetak tebal dari penulis] dari Universitas Tasmania, Australia, dalam disertasinya, Akbar menyatakan bahwa Golkar dewasa ini telah didominasi kaum saudagar.” Continue reading “Kaitan Antara Teks dan Relasi Kuasa”

Melukis Kekecewaan dalam “Melukis Gonjong”

Elly Delfia
http://www.harianhaluan.com/

“Siak beberapa kali ke istana pagaruyung hanya demi meleng­kapkan bahan lukisan rumah gadang. Siak tidak suka duduk berlama-lama di Istana Paguru­yung yang sudah menjadi objek wisata. Orang-orang berwisata memakai celana pendek ala barat duduk berpasangan berfoto sambil membicarakan tentang ciuman enak di rumah gadang, menikmati duduk resek bersama teman wisata. Continue reading “Melukis Kekecewaan dalam “Melukis Gonjong””

Antara Sastra dan Teknologisasi

Marjohan
http://www.harianhaluan.com/

Prof Dr Mukti Ali (man­tan Menteri Agama RI) pernah menggelindingkan satu adagium seputar seni: “Dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan agama hidup jadi terarah, dan dengan seni hidup jadi indah”. Falsafah ini kemudian jadi populer, karena sering dikutip Buya Hamka dalam banyak tulisannya, dan acap-kali pula disetir KH. Zainuddin MZ dalam pelbagai pertemuan akbarnya dengan umat Islam. Atau bisa didengar lewat kasetnya yang bejibun di ko­munitas umat—di kota dan di desa. Continue reading “Antara Sastra dan Teknologisasi”

Bahasa »