Akhirnya

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-2/

Dua esai Tardji sebagai lampiran sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” dari akar-akarnya, yaitu tradisi.

Dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa, ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang, pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru kepada yang dihadapinya. Olah ini mampu membuat bingung sehingga mudah menyerang balik. Biasanya ajian ini dipakai dalam keadaan terjepit. Jika ditampakkan di permukaan menjadi pengecoh. Bahasa sederhananya berpura-pura atau menipu.

Ajian panglimunan sejajar dengan ilmu menghilang dari penglihatan. Mereka tak mampu menembus keberadaan pelaku, maka mudahlah penggunanya memukul atau kabur dari arena pertarungan. Sisi lain, ajian ini untuk melambari dan menutupi ajian yang tengah dirapal, sehingga musuh menganggap enteng. Semisal menggunakan gerak ajian rendah, tapi yang dilebur tingkatan tinggi.

Bentuk keilmuan ini ada bersifat kaca tebal tembus pandang, ada sejenis kabut, pula ada mendiami letak kekosongan. Lawannya seolah berhadapan orang biasa, tidak berilmu kesaktian.

Siasat tersebut berasal dari akar mantra yang dipakai, juga kelihaian dalam menggunakannya. Ini berdekatan dengan kesabaran menapaskannya. Tumpukan pengalaman merapal mantra itu, di atas memahami pamornya.

Selain faedah di atas, ajian panglimunan berguna untuk menyatukan dinaya beberapa mantra dalam satu tarikan pengejawantahan. Selanjutnya ajian ini juga dapat mendampingi ajian lain yang dikeluarkan sehingga yang tertimpa sulit mengetahui jenis ilmu tersebut maupun pelakunya.

Mari kita simak unggahanku dari esai Menulis di Atas Mantra milik Tardji, pada paragraf II dan IV (sebab bagian III, penjabaran dari bagian II):

Saya adalah penyair yang menulis tidak dari suatu kekosongan. Saya menulis di atas kertas yang telah berisi tulisan. Saya menulis di atas tulisan. Tulisan itu adalah hasil budaya dari subkultur yang sangat saya akrabi, yaitu budaya Riau berupa mantra.“, (paragraf 2).

Maka menulis di atas tulisan atau di atas mantra bukanlah sekadar menerima mantra sebagai sesuatu nilai yang siap pakai, tetapi suatu pertemuan atau dialog kritis kreatif yang pada akhirnya memberikan upaya perpanjangan makna bagi mantra lewat kemampuan kreatif dari penyairnya.”, (paragraf 4).

Terpancang jelas, puisi-puisi Tardji adalah turunan kemantraan dari bongkahan batu-batu tradisi yang menghidupi alam ruhaniah Riau. Ia mencantelkan dan mencangkok aura mantra asli dalam kesusastraan Indonesia. Seperti mantra atau wirid dari ajaran Islam yang diterjemahkan, ditafsirkan, dan dilebur dalam bahasa Jawa, tapi tetap bersimpan mana, punya keampuan serupa, sebanding bonggol sebelumnya, meski bungkusnya berbeda-beda.

Lantas dari mana Tardji dapat mengakui puisi-puisinya dikeruk sedari akar mantra yang tumbuh di dataran Riau, padahal sebatas bentukan tubuh iramanya dan keganjilannya mengandalkan keserupaan tanpa digali seluruh atau membangun ulang roh aslinya? Apakah ini bukannya kenes, kemayu, atau bahkan keminter memantrakan aura lama lewat bahasa Indonesia dan gagal karena tak bertuah?

Seandainya ada kritikus yang sudah menunjukkan keampuan puisi mantra Tardji, tentu bukan dari sisi kekuatan gaib, melainkan diletakkan pada fungsi luarnya, misalkan penalaran dari capaian temuan akal kepenyairannya. Di sana aku timbul curiga sekadar akal-akalan mengudar keunikannya.

Bagi yang berakal, apa saja bisa dimainkan, disepadani, disejajarkan, dan dijelentrekkan atas timbangan nalar. Ini serupa belajar memakai otak di dalam menentukan kausalitas. Maka para penyuka jalan akal tak repot mengudar puisi para penyair, seperti juga puisi Tardji. Lebih turun, ia gagal membangun konsepnya. Ah, aku teringat ungkapan Mochtar Lubis; “…bim salabim, nah… keluar kelinci dari dalam topi“.

Sejauh ini, ia memang kreatif mengudar bunyi-bunyian disusupkan ke irama puisinya juga menggali energi vokal maupun konsonan demi puisinya laksana mantra. Tapi sampai tiga puluh tahun lebih, Tardji belum terbukti berhasil mentransfer dinaya mantra ke dalam puisi mantranya. Ia tampak tidak cukup sakti sebagai raja mantra dalam memasuki abjad berdaya yang bisa disebut mantra.

Jika ia menyorongkan abjad dan mantra sebagai konsepnya, semestinya Tardji mengudar huruf A sampai Z atas fungsi guna, misalkan kelemahan, kekuatan, dan hal-hal yang menggagalkan atau membatalkan jikalau dijadikan rajah. Di sini bisa ditengok, kegagalan awal gagasan kalau diteruskan berakibat fatal, antara membebaskan kata dari beban makna di balik mantra sebagai pijakannya.

Di dalam khasanah ilmu kemantraan, memang telah mewujud wajah puitis iramanya, konstruksi gutaran tulisannya manakala dijadikan rajah. Hal itu dipelajari para penyuka menyusuri alam gaib. Mereka tidak sekadar membaca, menyimak, merekam isyarat belajar, tapi juga mempraktekkan, menggali khasiat bagi napas terkait. Mereka menyinauni dari hal terkecil, misalkan gereget niat, ditampakkan bagi yang senantiasa mawas diri, keawasan serta kesabaran, dan syarat perasaan suci. Sebagaimana roh ilmu berangkat sedari akal melalui tangga kehidupan agar tidak dikira prasangka, keragu-raguan dekat kebodohan, dan taklid buta.

Kalau dibenturkan pada puisi mantra Tardji, tampak sekadar permainan kata, lebih rendah main-main bahasa, bahkan dekat dengan sikap meremehkan nilai-nilai tradisi yang diusungnya. Lebih parah mengaku-ngaku Sumpah Pemuda itu puisi, makin jelas mengusung gerbong kosong dengan argumentasi meyakinkan:

Sumpah Pemuda selama ini memang tidak dikenal sebagai puisi. Tetapi jika kita lihat apa yang dikandung dalam teksnya adalah imajinasi yang ditampilkan lewat kata-kata yang padat, ringkas, dan kuat makna. Karena itu, ia memiliki syarat sebagai sebuah puisi, sebagai karya imajinasi yang padat kata dan kuat makna.”

Kami putra-putri Indonesia berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia’. Dalam kenyataannya, pada waktu itu tahun 1928 belum ada atau tidak ada putra-putri Indonesia, yang ada putra-putri Jawa, Sumatra, Sunda, Maluku, Sulawesi dan seterusnya. Juga tidak ada bangsa Indonesia atau tanah air Indonesia, yang nyata ada adalah Hindia Belanda. Tidak ada bahasa Indonesia yang ada bahasa-bahasa daerah dan bahasa Melayu sebagai lingua franca.

Jikalau “…imajinasi… ditampilkan lewat kata-kata yang padat, ringkas, dan kuat makna… itu… syarat… puisi…”, aku kira hampir semua tindakan esaiku lebih puisi daripada Sumpah Pemuda. Inilah kutukan untuk Tardji!

Kini kita tengok yang dikisahkan Asep Sambodja dalam bukunya “Asep Sambodja Menulis”, terbitan Ultimus 2011, bagian Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008)” halaman 13:

“Semangat muda yang dipancarkan Sutan Takdir Alisjahbana itu sebenarnya mengikuti jejak pendahulunya yang menggelar Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam kongres itu Muhammad Yamin yang saat itu berusia 24 tahun, menjadi tokoh kunci kongres tersebut, dan dialah yang menyusun komposisi dari resolusi yang dihasilkan kongres, yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda (Foulcher, 2000: 8 ) Sumpah Pemuda yang disusun Muhammad Yamin berbunyi demikian:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe

bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mangakoe

berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng

bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Dan dalam bagian “Epilog: Kronik Sejarah Sastra Indonesia,” halaman 46, Asep Sambodja memberi keterangan, pada tahun 1928:

“Dalam Kongres Pemuda kedua di Jakarta, 28 Mei 1928, pemuda-pemuda Indonesia mengeluarkan resolusi berupa Sumpah Pemuda. Bahasa Melayu ditetapkan menjadi bahasa Indonesia. Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis terbit. Naskah drama berbahasa Indonesia, Ken Arok dan Ken Dedes karya Muhammad Yamin dipentaskan di Kongres Pemuda”.

Lalu aku teringat kata-kata Taufik Ikram Jamil yang di sini kupakai untuk mendedah Tardji dari kepenyairan sampai hasratnya memasukkan teks Sumpah Pemuda sebagai karya puisi, yang katanya: “Sebagaimana halnya puisi, kandungan teks Sumpah Pemuda adalah imajinasi. Suatu imajinasi yang diungkapkan dengan bahasa yang ringkas, padat, ketat, dan tangkas, suatu hal yang lazim disyaratkan pada puisi“.

Di bawah ini ungkapan Taufik Ikram Jamil:

Untunglah belati yang selalu terselip di kaus kakimu -yang selalu engkau bawa entah untuk apa- tidak sempat “beroperasi”. Di Paris van Java, yang sekarang lebih banyak terdengar cerita-cerita miang membara, orang semula mengenalmu sebagai calon politikus gagal -benar juga, kuliahmu di Fisipol tak selesai. Engkau adalah kata-kata itu sendiri, sehingga ah…”rasa yang dalam”.

Tardji gagal mentransfer dinaya mantra ke dalam bentuk puisinya yang katanya puisi mantra. Ia dangkal mengonstruksi ulang daya mantra, gugur mendempul melupa, menembel menghapusnya, seperti pada paragraf tiga, kegiatan penjabaran:

Dengan atau dari atau di atas mantra itulah saya menulis. Dalam aktivitas menulis, kadang bagian-bagian mantra itu saya pertebal dengan tulisan saya. Kadang mantra itu malah tertutup, terhapus, atau terlupakan karena tulisan saya yang berada di atasnya. Memang salah satu peran menulis ialah upaya untuk menutup atau melupa, yakni melupakan nilai-nilai atau ihwal yang tak lagi relevan untuk masa-masa kini atau masa depan, dengan demikian lebih terfokuskan (tambahan makna) pada bagian-bagian atau nilai-nilai yang masih bermakna untuk masa kini ataupun untuk masa mendatang”.

Setelah merasai puisi-puisi mantranya tak bertuah, tidak mengandung mana, cepat-cepatlah Tardji mencari pegangan sekelas nilai mantra, yakni nilai sumpah. Dalam hal ini, diambilnya Sumpah Pemuda yang alunannya bening berwibawa serta menyejarah tentunya, daripada karyanya.

Dengan ringtone bercanda sekaligus serius dapat dikatakan, Muhammad Yamin lebih penyair daripada Sutardji Calzoum Bachri. Dengan ini runtuhlah konsepnya yang selama ini dipegang kukuh. Kegusarannya kentara, jikalau menarik benang merah ucapan Taufik Ikram Jamil di atas.

Entah masih adakah para kritikus dan penyair bermental buntut mengikuti gayanya. Tentunya, jika ada, mereka juga makin rendah dan dapat dinyatakan tak bertuah pula, sebab tidak menggayuh ruhaniah tradisi dan hanya baju usang terpakai, meskipun terpampang keberhasilan dalam menghibur para sastrawan Indonesia.

Demikian “hujatanku” kepada Sutardji Calzoum Bahri, seorang yang mengatakan Tuhan bermimpi, berimajinasi. Padahal sebaliknya ia suka berimajinasi, senang bermimpi. Karena Tuhan Maha Pengasih, maka angan-angan Tardji pun tercapai menjadi Presiden Penyair dan Raja Mantra. Tentunya, dengan bobot tak faham Ibnu Arabi.

* Nurel Javissyarqi, pengelana dari bencah tanah Jawa, Lamongan.