Berpikir Ilmiah dan Tidak Ilmiah

Asarpin

Saya bukan termasuk orang yang mendewa-dewakan pendekatan ilmiah. Malah sebaliknya. Saya adalah orang yang mencintai puisi dan prosa, menjadi pembaca buku-buku sastra Indonesia yang lumayan bagus, dan sesekali juga buku filsafat. Maka tak mungkin saya membela mati-matian cara berpikir ilmiah karena ia bertentangan dengan yang saya cintai.

Tapi entah mengapa, saya tiba-tiba terpanggil untuk mengorek pendekatan ilmiah kembali. Lalu saya baca buku-buku ilmiah yang saya pinjam dari Perpustakaan Daerah Lampung. Tapi ternyata apa yang ilmiah dan tidak ilmiah itu tipis sekali perbedaannya. Sama dengan perbedaan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, atau antara fakta dan fiksi.

Tapi bukan berarti tidak ada celah sama sekali untuk mengetahui perbedaannya. Coba perhatikan kalau ada orang-orang yang sedang asyik berbincang, sebagian besar isi perbincangannya mungkin tidak terkait dengan hal-hal yang ilmiah. Bahkan ketika orang itu diminta untuk mencoba memilah mana yang ilmiah dan mana yang tidak ilmiah, ia langsung terbahak. Aneh, katanya.

Ada sebuah cerita tentang orang-orang yang tidak tertarik membincangkan hal-hal yang ilmiah dan tidak ilmiah. Mereka adalah orang-orang yang spontan dan cepat mengambil pendapat. Apakah pendapat yang mereka keluarkan itu ilmiah atau tidak, itu tak pernah jadi bahan pikiran mereka. Bahkan terlintas di benak pun tidak.

Pada suatu hari saya mendengar sebuah kisah tentang seorang yang baru saja menerima kehormatan dari tiga orang temannya. Ia bilang kehormatan karena ketiga temannya itu sudah puluhan tahun tidak bertemu. Ceritanya begini: Ketiga orang itu masing-masing baru saja pulang dari lawatan ke luar negeri. Yang satu baru pulang dari Amerika Serikat, yang satunya baru pulang dari Palestina, dan yang satunya lagi baru pulang dari Arab Saudi.

Teman yang dari Amerika itu bercerita tentang bagaimana demokrasi berjalan dengan sangat baik di negeri Paman Sam itu. Tidak ada diskriminasi, tidak ada rasisme, dan tidak ada waham yang sengaja dipelihara. Amerika Serikat yang kita pahami selama ini ternyata tidak betul. Sebab orang-orang di negara itu sangat ramah dan tulus dalam bergaul.

Teman yang dari Palestina tak mau kalah bercerita. Katanya, perang antara Israel dan Palestina selama ini bukan perang agama atau perang suci. Tapi perang antara para pemuja tradisionalisme dan modernisme. Negara Israel yang menganut agama Yahudi secara monolitik itu ternyata berbeda dari yang digambarkan oleh kebanyakan orang muslim. Negara ini ternyata justru bersesuaian dengan paham-paham dalam Islam, seperti rasionalisme, akalisme, ijtihadisme. Bedanya mungkin dari corak keberagamaan saja.

Teman yang satunya lagi baru pulang dari lawatan ke Arab Saudi setelah tinggal di sana selama satu bulan lebih sedikit. Ketika pulang ke Indonesia ia tampak menjadi pembela gerakan Wahabi yang sedikit mengejutkan. Katanya, buku-buku tentang gerakan Wahabi yang kita baca selama ini salah semua. Gerakan Wahabi tidak seperti itu.

Kalau seorang yang baru sebulan lebih sedikit menginjakkan kakinya di Arab Saudi, lalu berusaha membela gerakan Wahabi di sana, dan menyalahkan buku-buku yang pernah terbitkan tentang gerakan puritan itu, padahal tak jarang yang menulis tentang gerakan itu adalah orang-orang kompeten, sungguh ini juga dunia ilmiah. Sebab dalam dunia ilmiah, orang tidak boleh menutup mata dan telinga untuk kemungkinan-kemungkinan lain, betapa pun kemungkinan dari pendapat lain itu bertolak belakang dari pendapat mayoritas”.

Kawan saya itu mungkin tidak mengatakan persis seperti yang saya ceritakan di sini. Mungkin ia lupa bahwa banyak buku yang menyorot tentang gerakan Wahabi ditulis dengan riset bertahun-tahun, melalui sumber kepustakaan dan lapangan yang berimbang, dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengabdi pada dunia ilmiah. Dalam dunia ilmiah murni, satu-satunya hukumnya ialah kebenaran.

Nah, kalau buku-buku tentang Wahabi selama ini diragukan keilmiahannya, dianggap tidak steril dan menyebarkan prasangka untuk menghancurkan gerakan Wahabi sendiri oleh orang yang pernah tinggal sebulan di Arab Saudi, sungguh kita perlu merenung lebih jauh tentang bagaimana membedakan sebuah pengetahuan yang diperoleh cuma menghabiskan waktu sebulan dengan waktu tiga tahun.

Dulu Cak Nur begitu meragukan kalau Ibn Taimiyah itu fundamentalis dan menolak filsafat. Ibn Taimiyah itu pembaru, penganjur filsafat naturalistik, kata Ck Nur. Maka dia menulis disertasi tentang tokoh itu dengan maksud untuk ’memulihkan” nama baik sang tokoh. Tapi berhasilkah Cak Nur memikat pembaca? Tidak. Gus Dur dengan cepat berkoenmtar kala itu. Kata Gus Dur, kalau Cak Nur berhasil membuktikan bahwa Ibn Taimiyah tidak menolak filsafat secara keseluruhan, akan besar akibatnya: Arab Saudi tidak mungkin lagi melarang buku-buku filsafat masuk ke dalam negeri seperti sekarang.

Kalau memang betul Ibn Taimiyah itu pembaru yang moderat, Saya percaya, yang namanya hasil penelitian yang baik tentang suatu masalah tidak tergantung dari lamanya waktu. Tapi selama ini berkembang anggapan bahwa yang melakukan penelitian tiga tahun hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dibandingkan dengan yang hanya satu bulan.

Dalam dunia ilmiah, pendapat itu bisa jadi benar. Tapi bagaimana membuktikan bahwa pendapat teman saya itu benar dibandingkan pendapat yang lain-lain, sedangkan teman saya itu hanya menyampaikan secara lisan?

Tidak ada bukti apakah ia benar atau salah, sekaligus tidak ada bukti apakah pendapat saya ini benar atau juga salah. Karena ukuran penilaian tentang benar dan salah atau yang ilmiah dan tidak ilmiah, berpijak pada fenomena-fenomena relatif yang selalu berubah, maka sebenarnya itu tidak ada ukuran sama sekali, kan?

Maka, lupakan saja segala perbedaan antara yang ilmiah dan tidak ilmiah, dan jadikan diri kita sebagai orang yang bebas, mengalir bersama tak terhingga…
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/