Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)

Nurel Javissyarqi

I

Tulisan ini tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair ; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut:

Peran penyair menjadi unik, karena—sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya— secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.

Dilanjutkan dengan kefahamannya mengenai Surat ke 26 Alquran, Asy Syu’ara, tapi tak mencantumkan ayatnya (Ayat 225—227 akhir), serta tidak didukung asbabun nuzul, maka tampak sekadar akal-akalan sehingga lewar dari pemahaman para ahli tafsir. Akhirnya, Presiden Penyair menutup dengan unen-unen Presiden AS John F. Kennedy: “Jika politik bengkok puisi yang meluruskan.” Dengan titik tekan akhir: “Tetapi, tentu itu hanya berlaku bagi para politikus yang memiliki tanggung jawab dan kepekaan terhadap aspirasi hati nurani bangsanya yang sering tercerminkan pada puisi-puisi yang baik, bernas, dan bermutu dari para penyairnya.”

***
Sebelum merambat jauh, perkenalkan, diriku pengelana. Kadang ngaku penulis pun ada menertawakannya, maka cukuplah pengelana. Tetapi aku yakin, ini menggetarkan setiap persendian jejiwa pembaca, seperti diriku kini tergetar dalam menjawab ketaksesuian pemahaman.

Penyair bukan anak turun kitab suci, pun sumpah-sumpah berserakan di muka bumi. Penyair tak lebih sama dengan profesi kebanyakan, manusia yang menanggung nasibnya, tidak lebih agung dari pemancing yang sabar, tidak lebih mulia dari pedagang asongan. Apalagi dalam suatu bangsa yang sangat membutuhkan tangan-tangan perlawanan, atas kaki kekuasaan yang menginjak.

Penyair bukanlah turunan pokok ruhani, apalagi jasadiah para nabi. Yang jelas, ia mencintai bahasa setulus-tulusnya dan siap bertanggung jawab atas setiap perbuatan (kata-katanya) juga kisaran hayat seperti para insan yang mempertanggungjawabkan kepada sesama serta Tuhan Yang Esa, di kala dimintai pertanggungjawaban.

Seharusnya ia tampil terbuka kala mengungkap isi jiwanya dan tiada tameng ayat-ayat atau kalimat para pendahulu, kecuali sekadar bersapa. Andai telah menyerapi kandungan kitab suci, lantunan tulisannya tentu sudah mencerminkan-menggumuli nilai-nilai yang dikunyahnya. Dengan wewarna lain mencerminkan dirinya purna bercampur bersegenap pernik hidup, ditambah daya ucap pengalamannya.

Ia harus tampilkan roh pembeda. Di sana, gemintang diidentifikasi dengan derajat kecemerlangannya. Setiap bintang memiliki poros bergantung kepada Tuhannya, keyakinannya. Demikian nabi diberi keistimewaan juga seluruh umatnya punya tugas masing-masing, tiada lebih tinggi di hadapan-Nya, sebatas pengabdian kepada sesama, peribadatannya demi kepada-Nya.

Triliunan bintang di angkasa sepadat manusia mengisi bumi. Ada yang bernapas lama, tak sedikit jua yang sesaat. Ada yang redup ada pula sang benderang. Begitu juga berjenis-jenis tumbuhan, berbagai hewan, pada mereka ada napas-napas kehidupan yang telah ditentukan-Nya, dengan sifat kodrat-iradat-Nya.

Para penyair kerap mengunggulkan capaiannya, karena di bidangnya ia berhasil menuangkan perasaan nalarnya. Karya-karya itu tentu berlainan dengan kata-kata yang dipunyai para kuli di pelabuhan yang tak terlatih membaca-tulis, tampak sederhana, kecuali angan-angannya kepada istri tercinta, mungkin. Tersebab seharian tubuhnya digerus kepayahan fisik, imajinya diperas realitas berat. Di dalam tidur merekalah puisi berbunga atau mungkin mengerikan wujudnya. Maka tak seharusnya para penyair merasa lebih tinggi dari capaian profesi lain yang tentu berbeda.

Penyair bukan insan yang berjalan ketika petir menerangi atau orang-orang yang meneruskan langkah saat hujan reda. Ia tidak lebih baik dari loper koran yang setia menjajakan puisi-puisi penyair dalam surat kabar yang dibawanya.

Kala loper koran tak mengedarkan karena hujan deras, seperti penyair yang tidak memperoleh intuisi tersebab ketidakberanian menyusuri jalan gelap gulita ke lorong nasibnya -yang bergantung perubahan zaman, pergolakan peradaban, apalagi terikat kuat sesamanya juga ayat-ayat- belumlah kemerdekaan mengungkap keseluruhan jiwanya.

Di sini, tanpa bermaksud mengatakan penyair (harus) keluar dari sejarah, tapi semisal pencipta sketsa; ekonom membuat rancangan bisnisnya, arsitektur membikin gambar, ia meniup roh kata-kata syairnya diwujudkan dalam bangunan dialog. Pada gilirannya menggerakkan peredaran darah nalar pikir para insan sekitarnya, tiada bentuk-bentuk mengabaikan zaman, tidak.

Sudah kerap kesengkarutan sengketa tanah dijanjikan, ladang telah ditancapi hak kepemilikan, dicaplok mentah-mentah oleh penguasa mengaku mampu melestarikan. Inilah hasil suara sumbang superioritas di atas yang lain. Sengaja, setengahnya atau tidak sama sekali, kesurupan pula mungkin mabuk. Hal tersebut dimanfaatkan penyair juga tokoh segala bidang yang merasa dinaungi cahaya Illahi sejenis keberuntungan.

Hingga dalam keadaan cemburu hasrat gelap yang didorong dari belakang ketaksadaran (kebalikan kenetralan, demi nikmatnya seluruh alam), dapat dipastikan terjadi bencana ulang sebelum datangnya roh penyadaran. Jika penyair dan yang lain tidak lebih berwibawa sebagaimana laku lain bermanfaat dalam putaran roda dunia.

Keunggulan bidang pengetahuan juga berpotensi membangun. Profesi penyair pun lainnya punya keistimewaan saling mengisi, menyebar pengalaman masing-masing atas sinyal getar yang dipunyai. Hanya sesosok penyair memberikan ruang kecil dalam dirinya dan memuarakan segenap hayatnya berupa kata-kata bermakna demi kelanjutan pekerti umat ke jalan selanjutnya. Tidak otomatis mereka sebagai yang dikaruniai melimpah daripada ikhtiar kerja dalam bidang lain. Hanya perasaan berlebihlah yang menganggap capaiannya yang lebih agung dari profesi lain.

Galilah kemisterian kalimatnya dengan beragam wacana menyeluruh. Cari akaran sumber inspirasinya agar tidak terhasut, terhisap hanyut ulah-pakolah karyanya. Melalui corak sejarah perpuisian zaman baheula sampai kesadaran membacanya, sehingga menjadi sampiran hidup berfaedah, tidak lebih capaian ilmu pengetahuan lain, sebagai rahim kemanusiaan di bumi.

Tahap tingkatan hukum kausalitas sekadar mempermudah insan mencerna napas hidupnya pada lapis alam yang menaungi. Maka kenabian, kepenyairan, tidak lebih tinggi dari kemiskinan. Yang mengajarkan tak lebih faham dari yang diberi pelajaran, di ruang-ruang kadang tak memungkinkan, pada derajad waktu tidak tepat, tetapi segaris nasib dicanangkan Sang Kuasa.

Semisal kemarahan sang guru didorong nafsu, kesenangan pencinta dipompa hasrat pribadi, tiada lebih dari bocah yang belum mampu mengontrol diri. Maka profesi bukanlah hak paten diterimanya amal lebih tinggi dari profesi dianggap rendah di dunia, yang tercermin dalam gerak nalar. Seperti peminta-minta sesuap nasi pengganjal lapar, tidak lebih buruk dari calon pegawai meminta bantuan untuk diloloskan menjadi pegawai.

Penisbatan seorang berpikir kepada pendahulunya, apakah para nabi, nilai-nilai, atau ajaran agama dan sebangsanya, bukan lantas menjadikan dirinya aman pada kursi yang tersedia. Sebab, insan dituntun menghidupi zaman yang dirasai. Di sanalah pengujian itu memilihnya atau sekadar pelanjut keyakinan usang yang kurang terpakai oleh tuntutan zaman yang mengharuskan bersikap.

Seperti para nabi terpilih (ulul azmi) atas ketabahan menjalani kehidupannya, pada derajat tertentu tidak dipengaruhi keduniawian yang melekati. Namun, kesabaran menempa nasib secermin keliling dan bukan patokan semata-mata. Sekadar kaca pantul bagi siapa berkaca, maka penilaian kepada ikhtiar mematangkan sikap merdeka, tidak memaksakan faham yang dicanangkannya demi suatu wacana untuk sesamanya.

Apalagi Tardji bukan sosok rasul pemilik pamor keagungan yang dapat berimbas pada sisi timpang di kemudian hari. Maka pengoreksian zaman sebelumnya ialah kewajiban bagi pengeruk nilai masa sebagai perolehan berguna yang tidak mewujud keakuan, tetapi melayarkan inovasi saling berbauran memakmurkan seluruh alam.

Kini mari kita layari khasanah karya Ibn Arabi, terutama kun fayakun. Yang tampak pada karyanya bertitel Fusus al-Hikam, menisbatkan karangan tersebut kepada Nabi Muhammad di dalam mimpinya. Secara nalar, keagungan Sang Nabi dipolitisasi demi melegitimasi karyanya menjadi pegangan umatnya yang sangat tawaduk kepada ajaran-ajaran Nabi Muhammad-sumber Islam.

Tidakkah di wilayah itu dituntut kritis demi zaman yang terus menggeliat. Penyair bukan sekadar pelaku hukum syariat dan penalarannya secorak dengan awal terciptanya ajaran yang dianut, melainkan juga mengembangkan intuisi, memperluas cakrawala jangkauan kalbu pikirannya dinamis. Seperti penggerak pengetahuan, pengolah bidang kehidupan lain diharuskan memperbarui keimanannya. Selain itu, pandangan masa depannya dalam menjalani hayat, supaya tak ada ketertinggalan, karena waktu tidak berjalan mundur. Ia melesat bersama nasib yang dibawanya.

Usaha memurnikan sesuatu akan batal kalau tidak memandang capaian sekeliling. Hanya menjadi menara gading, jauh dari dinaya yang merombak tatanan demi kebaikan bersama. Maka kekritisan pembaca membentuk laju peradaban kepada yang disinaui bertingkat kesadaran yang dimiliki. Akan ambruk total jika sekadar mengamini perolehan sebelumnya, tanpa mematangkan dirinya sederajat dari masa-masa dinapaskan. Usaha kembali kepada kuasa memusat dan sifat kedisiplinan lama makin berakar busuk, kalau tidak menginsafi manfaat kerja dulu, pada belahan bumi sekarang.

Tersebab semua, kenapa syair (lebih khusus beraliran mantra), jauh dari masyarakat? Karena mereka membangun patung-patung mitos sebagai sesembahan. Dielu-elukan sebagai warisan kenabian tanpa memiliki fungsi yang jelas bagi masyarakat, sebagaimana napas kerja lain di belahan bumi kekinian.

Tidakkah ayat-ayat diturunkan kepada para nabi dari Tuhannya, langsung pun melalui perantara, memiliki sebab-musababnya. Jika sang penyair disepakati penerus nilai-nilai keindahan, fungsi syair yang dihasilkan dari ringkasan ajaran lama tampak sekadar tontonan, tidak berimbas resap tuntunan, seperti daya guna ilmu pengetahuan lain pada masanya.

“Kekeliruan” penyair zaman dulu sampai sekarang, watak ugal-ugalannya karena merasa sudah sangat serius melakoni hayat bersastra dengan seluruh jiwa raga. Kesuntukan itu menggodanya meloloskan diri dari tanggung jawab dengan memanfaatkan ayat-ayat, nilai, dan corak lelaku sedurungnya, sehingga abai pada ikhtiar kehidupan.

Pada gilirannya, yang suka mendongak ke langit, terlupa jinjit kaki-kakinya masih menjejak bumi dan pengetahuan pancaran dirinya tidak membumi. Makanya patut dipertanyakan mereka sudah menjadi penyair atau sekadar label suka-ria mengembangkan seluruh fitrahnya dengan mengabaikan laku pengetahuan zamannya. Atau lagu pemancing sunyi membawa kailnya, tetapi tak menuju ke sungai.

Yang asyik menganalisis, menerbangkan isyarat menuntun intuisinya, mentok di titian panjang pujian tanpa pengajuan manfaat darinya. Memang sisi tertentu tidak mengelak, puisi juga doa, mantra, tapi tidakkah ada tata cara sebelum melangsungkan hajat. Kata-kata bukanlah sekadar pipo ledeng menghantar maksud tujuan, melainkan ada energi yang mampu menggerakkan lembar jiwa ikhlas menerima sebagai nilai gemilang menyerapi kebaruan.

Kekritisan itu mengelola hayat berasal dari intrik-polemik bermasyarakat, bukan hanya luapan igauan di atas kecemerlangan bersastra.

Akhirnya hukum alam-sunatullah-menghardik jauh dari yang selama ini diikhtiarkan. Mereka terbuai pesona diri sendiri, terperdaya kilauan pandangannya atas derajat ketinggian yang sulit diterjemahkan. Mengabarkan sesuatu yang lepas dari ijtihadnya, berpanjang angan-angan dan para penerusnya terbelenggu bayangnya seperti ia terjerat hari-harinya, sampai muncul kisah yang keluar dari kehidupan normal malah dielu-elukan.

Sangat disayangkan, menafsirkan ayat dalam kitab suci memanfaatkan penggalannya, tidak menelisik jauh sejarah diturunknnya ayat tersebut, juga bagi para pengikut taat, yang mewarahkan dengan suara-suara lantang di zamannya.

Jika kepenyairan Tardji bersandar pada ajaran Islam, pun ujaran nenek moyang, juga sumpah-sumpah, seharusnya membaca detail siapa saja pewarisnya yang benar setia mengugemi kesastrawian ajaran tersebut. Ini dapat ditelisik kepada karya-karya al-Hallaj, Rumi, tidak terkecuali Ibnu Arabi, Mereka tak mencipta sesuatu yang keluar dari ajaran Muhammad, dengan penyampaian kekhasan yang dipunyainya.

Sebagai penutup bagian pertama ini, kukira surat Asy Syu’ara bukanlah bentuk penghormatan kepada para penyair, melainkan titel tersebut tak lebih sebagai hardikan serupa yang ada pada Surat Al Lahab.

http://pustakapujangga.com/2011/08/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-i/