Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)

Nurel Javissyarqi

II

Sebelum merantak, izinkan diriku keluarkan isi hati di sementara waktu. Sebenarnya aku belum cukup umur dan ilmu untuk mengupas hal ini. Tapi untuk menjawab esai Tardji dan kupasan para penyair yang pernah kubaca mengenai Asy Syu’ara, serasa ada angin menggegaskanku untuk menuliskan. Tentu tidak menutup ketetapan ulang di masa datang, demi penajaman makna usia pengalaman, sehingga yakin adanya, demikian tuturan prolog dari pengelana.

Secara glambyaran, Surat Asy Syu’ara memuat kisah nabi dan rasul, di antaranya Musa, Harun, Ibrahim, Nuh, Hud, Sholeh, Luth, Syuaib, Nabi Muhammad SAW sebagai ujung tombaknya. Titel Asy Su’ara dimungkinkan diambil dari ayat-ayatnya paling akhir (225—227) yang kerap dikupas penyair muslim dan kini kutambahkan keterangan dari Tafsir Jalalain, yaitu kata-kata dalam kurung, guna tidak lewar.

Ayat 225
Tidakkah kamu melihat (apakah kamu tidak memperhatikan) bahwasannya mereka di tiap-tiap lembah (yaitu di majelis-majelis pembicaraan dan sastra-sastranya, yakni majelis kesusastraan) mengembara (mereka mendatanginya, kemudian mereka melampaui batas di dalam pujian dan hinaan mereka melalui syair-syairnya)”

Ayat 226
“Dan bahwasannya mereka suka mengatakan (kami telah mengerjakan) apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya (artinya mereka suka berdusta)”

Ayat 227
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (dari kalangan penyair itu) dan banyak menyebut Allah (maksudnya syair tidaklah melupakan mereka untuk berzikir kepada Allah) dan mendapat kemenangan (melalui syair atas orang-orang kafir) sesudah menderita kezaliman (sesudah orang-orang kafir menghina mereka melalui syair-syairnya yang ditujukan kepada kaum mukminin semuanya).”

Dari Terjemahan Tafsir Jalalain berikut asbaabun nuzuul, jilid III, karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Penerjemah Bahrun Abubakar, L.C., penyunting Drs. Ii Sufyana, korektor H. Anwar Abubakar, L.C., penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, Cetakan ke V 2001.

***

Surat Asy Syu’ara termasuk surat Makiyah, kecuali ayat 197 dan 224 hingga akhir surat tersebut Madaniyah, yang turun sesudah surat Al Waqi’ah.

Kalau mencermati keseluruhan Surat Asy Syu’ara, yang akhir ayat-ayatnya menanggapi penyair kafir Musailamah, dan lain-lain. Membaca ulang dengan teliti karya-karya Ibnu Arabi sebagai nisbat, yang mengudar 27 nabi pada Fusus Al-Hikam, tentunya Sutardji Calzoum Bachri tidak akan mengatakan dalam orasi dengan gegabah, serupa para penyair sebagai turunan Tuhan, antek para nabi di atas anggapannya yang keliru pada paragraf 3 dan 4-nya:

Manusia sebagai mahluk imajinasi Tuhan pada gilirannya menciptakan pula imajinasi. Para penyair sebagai makhluk yang profesinya menciptakan imajinasi atau mimpi—meskipun posisinya jauh di bawah Tuhan—memiliki kesejajaran seperti Tuhan. Penyair menciptakan imajinasinya, mimpinya, lewat kata-kata sebagaimana Tuhan menciptakan mimpinya lewat firman.

Peran penyair menjadi unik, karena—sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya— secara ekstrem boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”

***

Padahal, kisah para nabi dalam surat tersebut, Tuhan bertanggung jawab di atas kehendak, firman dan perbuatan-Nya. Pun para nabi memiliki tanggung jawab menjadi pelayan bagi umatnya, pula tidak meminta-minta imbalan (upah) sama sekali atas ajaran-ajarannya. Cermati ulang, setiap ayatnya sebagai gambaran menyeluruh surat Asy Syu’ara bermakna surat para penyair. Melalui kitab-kitab ahli tafsir, sehingga tidak keblusuk tertipu dinaya nalar oleh kemauannya sendiri, nafsu belaka (wallahualam bisawab).

Kesembronoan Tardji mendedah kun fayakun melalui Ibnu Arabi, yang tidak menyebutkan sumber kitabnya (mungkin berniat menyederhanakan, tapi gagal). Maka, mudahlah meloloskan diri dan sulit terlacak, sampai menyeret para pembacanya menuju ke alam gelap gulita imajinasi, tengok dua paragraf awalnya:

Ketika Tuhan merindu memimpikan dirinya agar dikenal dan lepas dari kegelapan rahasia-Nya, Ia berfirman: Kun fayakun. Maka jadilah alam semesta ini”.

“Manusia sebagai bagian dari alam semesta serta alam semesta yang terkandung di dalam dirinya adalah bagian dari mimpi Tuhan, seperti yang dikatakan oleh sufi besar Syeh Muhyiddin Muhammad ibn Arabi. Dari mimpinya, dari imajinasiNya, Tuhan melalui kata-kata kun faya kun, menciptakan sejarah jagat raya berikut sejarah manusia di dalamnya”.

***

Dalam kitab Syajaratul-Kaun dan Hikayat Iblis (diindonesiakan bertitel Doktrin Tentang person Muhammad Saw.) karya Ibnu Arabi, diterbitkan Risalah Gusti 2001, disusun ulang di Mesir, oleh Mushthafa al Babi al Halabi wa Auladuh, 1360/1941, di sana, aku tidak menemukan pemahaman itu, pun pada Fusus Al Hikam yang lebih mendekatinya, maka aku salin ulang di bawah ini, yang mengenai Hikmah Keilahian dalam Firman Tentang Nabi Adam:

Ketika realitas ingin melihat esensi nama-nama-Nya yang Indah (al-Asma’ al Husna) atau dengan kata lain, ingin melihat esensi-Nya dalam sebuah objek inklusif yang meliputi seluruh perintah-Nya, yang didasarkan pada eksistensi. Ia akan memperlihatkan rahasia diri-Nya kepada-Nya. Penglihatan terhadap sesuatu, diri-Nya oleh diri-Nya sendiri, tidaklah sama dengan melihat dirinya pada yang lain, sebagaimana dalam sebuah cermin. Sebab, ia muncul untuk diri-Nya sendiri dalam sebuah bentuk yang ditanamkan oleh lokasi penglihatan yang hanya muncul dengan adanya eksistensi lokasi dan penyingkapan diri (tajalli) lokasinya terhadapnya”.

Realitas ini memberikan eksistensi pada seluruh kosmos, pertama kali sebagai sesuatu yang khas tanpa ruh apa pun di dalamnya, sehingga ia seperti cermin yang digosok. Dalam hakikat penentuan ilahi, Dia tidak menetapkan sebuah lokasi kecuali untuk menerima ruh ilahi, yang juga dikatakan dalam Al Quran dengan ‘Ditiupkan kepadanya’. Yang terakhir ini tidak lebih daripada terwujudnya kecenderungan bentuk khas batin untuk menerima pancaran emanasi /penyingkapan rahasia-Diri (al-fayd at-tajalli) yang tidak habis-habisnya, yang selalu, dan akan demikian. Di sana hanya menerima dan penerimaan ini hanya berasal dari limpahan-Nya Yang Tersuci (faydib al-Aqdas), dari Realitas, karena semua kekuatan untuk bertindak, atau semua inisiatif berasal dari-Nya, di awal dan akhir. Semua perintah berasal dari-Nya, bahkan sewaktu ia mulai dengan-Nya.” (Fusus Al Hikam, Mutiara Hikmah 27 Nabi, karya Ibnu Arabi, penerbit Islamika, 2004, dari buku The Bezels of Wiasdom, alih bahasa Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti).

***

Andaipun Tardji mengambil sari dari mana saja pemikiran Ibnu Arabi, tidaklah patut merombak dan membentuknya menjelma pengertian lain, yang lalu lebih menekankan imajinasinya. Padahal dalam karya Ibnu Arabi, tidaklah ada yang merujuk ke imajinasi, tetapi emanasi. Terpenting, sangatlah jauh dari benar ungkapan Tardji pada pembuka orasi budayanya itu.

Temuanku lebih sederhana soal dua paragraf Tardji di awal orasinya adalah mungkin berasal keterpukauan bacaannya pada Pengantar Penerbit buku keluaran Islamika aku sebut di atas. Lantas jiwanya girang luar biasa, sampai meluaplah kefahamannya yang kukira terlampau nekat. Di bawah ini aku cuplik pembuka buku itu sebagai perantara temuan:

Secara tak terbantahkan, ajaran-ajaran esoterik Ibn Arabi dipengaruhi oleh al-Hallaj, melalui konsep Hulul-nya. Namun berbeda dari pendahulunya tersebut, Ibn Arabi beranggapan bahwa Tuhan sebagai esensi mutlak, sebelum memanifestasi (ber-tajalli) dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidak mungkin dikenal atau mengenal diri-Nya, karena bagaimana mungkin disebut Tuhan, kalau tidak ada yang mempertuhankan-Nya? Ibnu Arabi mendasarkan pandangannya ini pada Hadits Qudsi: “Aku adalah khazanah yang tersembunyi, Aku ingin agar Aku dikenal, maka Aku ciptakan dunia”.

Bertolak dari Hadis ini, Ibn Arabi menjelaskan bahwa tatkala Allah hendak melihat esensi-Nya yang universal, mutlak, melalui nama-nama-Nya, Dia ciptakan kosmos. Laksana penglihatan dalam cermin, ketika Allah baru menciptakan kosmos, yang tidak mempunyai ruh, penglihatan awal keagungan-Nya, belum memberikan kejelasan. Maka, diciptakanlah Adam, yang mempunyai ruh, demi ‘menjernihkan’ penglihatan-Nya. Dengan demikian Ibn Arabi memosisikan realitas tunggal ke dalam dua aspek: Al Haqq dan Al Khalq. Aspek pertama merupakan Esensi yang merupakan Tuhan sendiri, yang transenden, sedangkan aspek kedua sebagai fenomena yang memanifestasikan aspek pertama, yang merupakan bayang-bayang Tuhan atau makhluk (Tuhan imanen). Jadi, keduanya pada dasarnya adalah satu, hanya saja dalam penalaran akal, keduanya tampak dua. Dalam istilah lain, Ibn Arabi berpendapat bahwa al-Khalq itu maqul sedangkan al-Haqq bersifat mahsus dan masyhud; al-Khalq eksistensinya tampak pada dunia pikir (rasio; al-ma’qul), sedang al-Haqq eksistensi-Nya hanya tampak dan dirasakan memalui intuisi (hissi dan zawqi).

***

Aku coba meringkas alur esai Tardji atas orasi budayanya pada acara Pekan Presiden Penyair, sebagai berikut:

Dengan embel-embel Ibnu Arabi sebagai cantelannya, Tardji meringkus faham kun fayakun demi menuruti hasrat tertingginya dengan melumat habis lewat doktrin yang sebelumnya tidak ada dalam ajaran Islam pula ujaran para ulama dan pujangga sufi, di mana karya-karya mereka tiada lepas dari akidah Islam, ringkasnya tidak mengada-ada.

Tardji yang berpamor Presiden Penyair Indonesia, memanfaatkan situasi itu untuk menekan nalar-imajinasi para penyair sesudahnya, sehingga lempanglah jalannya bertutur kata menaburkan wacana, lantas melunjak mengutip Asy Syu’ara sekenanya, mengikuti pedoman atau pemahaman membuta. Tidak menengok lebih dulu sebab musabab turunnya, hingga firman tersebut tak mendiami roh sesungguhnya, mungkin tersebab dorongan jiwa kepenyairannya yang melegenda.

Tardji lantas mengaku-ngaku berpendapat Sumpah Pemuda sebagai puisi yang dinaya ungkap pengulangannya laksana mantra, seperti puisinya. Priketiwi aku katakan, jika Tardji menyatakan;

Penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya.” Apalagi mematenkan perihal tersebut senada berikut; “Sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya”.

Kapan Tuhan bermimpi? Kapan Tuhan berimajinasi? Maka bacalah ulang keseluruhan surat Asy Syu’ara agar kefahaman ngawur itu kembali ke jalan lurus.

Dalam pandangan Tardji, penyair seolah-olah tugasnya berleha-leha, mengigau kata-kata indah yang memabukkan, seakan kesurupan Tuhannya, sebentuk umpatannya (tuduhannya) Fira’un dan orang-orang celaka kepada para utusan Allah, di kala kalah di dalam perdebatan (dalam Surat Asy Syu’ara, dan wallahualam bissawab).

Di atas kata tekan imajinasi, Tardji seenaknya menyorongkan kefahamannya ke sana kemari lewat daya ungkap nalar menggugah, lantas menelisiki alam kesusastraan tahun 1970-an angkatannya, dan membongkar nilai-nilai lokal, seakan ingin dapati pengesahan segala tindak tanduknya sudah sesuai dengan yang diimani selama ini, sambil mengembangkan wawasan kepemerintahan, pada: “penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya“. Itu seolah telah mewarnai derajat tertentu daripada gerak otonomi daerah [hanya Sutardji Calzoum Bachri yang lebih tahu isi hatinya].

http://pustakapujangga.com/2011/08/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-ii/