Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)

Nurel Javissyarqi

III

Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisi-nya. Di bawah ini aku petik sebagian darinya:

Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.

“Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.”…

“Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.” (Bandung, 30 Maret 1973).

***

Secara ringkas ialah sosok penggagas konsep, berkeinginan membebaskan rezim kata-kata dari penjajahan pengertian dari beban idea seperti kamus, moral kata yang ditimpakan masyarakat menemui fungsi asalnya, “mantra”. Dan sudah banyak yang mengupas puisi, cerpen, pun esainya dari kaum kritikus, para penyair seangkatan, juga setelahnya yang muncul di koran-koran dan menjelma buku.

Tapi, aku kira belum ada yang mengupas konsepnya lebih dalam (dari dalam), yakni watak “perdukunan” intelektualnya, mantranya, dari akar-akar lokalitas, sehingga mewujud karya-karyanya. Yang akhir-akhir ini aku mendengar kabarnya menyufi, itu tentu berkat kesetiaanya memegang prinsip.

Namun, bagaimana jika ternyata Tardji berfahamkan: “Secara ekstrem boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”, padahal yang aku ketahui, mantra (wabil khusus di bencah tanah Jawa) sangat sarat makna, karena dari maknanyalah, daya aura menembus segala yang dikehendaki menuju batas-batas takaran dan terketahui.

***

Pada buku himpunan kertas kerja seminar internasional dan sejumlah esai tentang Tardji, bertitel Raja Mantra Presiden Penyair terbitan Yayasan Panggung Melayu, 2007, tampak judul seakan-akan harus sangar, dahsyat, hebat, memabukkan, dan tiada tanding. Begitulah pamor Tardji di sekitar orang-orang yang dikenalnya dari jauh maupun dekat. Tidak cukup presiden, raja pun jadi. Dan diriku bersama para bidadari di atas awan, memandangnya sedikit geli.

Dari kritikus Abdul Hadi W.M., Ahmad Kamal Abdullah-Kemala, Koh. Young Hun, Harry Aveling, Maman S. Mahayana, Suminto A. Sayuti, Donny Gahral Adian, hingga penyair Amien Wangsitalaja, terpukaulah mereka. Tapi ada beberapa seakan menutupi atau tiadanya kesampaian mengupas punjernya mantra, maka yang tampak keterpesonaan. Sepertiya Tardji juga terhanyut tidak sadar diri. Dirinya tak meresapi lebih ke hakikat mantra dan hanya maujud sekadar gugusan gagasan nalar yang dilayarkan melalui karya-karyanya semata.

Sebenarnya ada beberapa rupa pembenahan tegur sapa kawan untuk Tardji mengenai tanggung jawab, mungkin jua melaksanakan. Tetapi catatan ini berangkat dari orasinya yang kukira banyak ketidaktepatan. Mungkin tergesa-gesa membuatnya atau seorang yang dilimpahi keyakinan sangat kuat, tiadalah perlu memusingkan perevisian pandang, di sanalah dianggapnya tugas dari para kritikus.

Misalkan mengetengahkan faham Arabi sebagai orasi, padahal kekaryaan Ibnu Arabi dapat dibilang menempati ruang sunyi, kamar khusyuk. Berbeda karya Al-Hallaj maupun Rabi’ah Al-Adawiyah, yang sebagian bisa menembus keramaian pasar. Tentu kita tahu, para pengupas tak lebih sepantulan pengetahuan pengupasnya, maka berbahagialah Tardji dikenali para bagawan sastra Indonesia serta Asia sebagai letak corongnya bersuara.

***

Karena ini mengudar mantra, kuminta bantuan pada roh-roh mau mengikuti atas keseluruhan alam semesta. Aku betot dari alam gelap, mungkin zaman purba prasejarah pula sebelumnya. Maka maafkan jikalau nanti bahasaku ngelantur, tetapi begitulah yang kuresapi.

Tatkala kitab waktu diturunkan, ruang terjabarkan, ditancapi pilar-pilar peradaban, sehembusan bayu menghidupi semua yang tersentuh gerak sepohon keyakinan. Di mana buah-buahnya bergelantungan itu, planet-planet mengelilingi galaksinya, kekuncup sumekar perbarui serupa ketakjuban, kesaksian dirinya di atas air telaga kehidupan. Dan daun-daun kegentingan, roh-roh ditakdirkan fahami kausalitas.

Riwayat lain berkabar, pohon keyakinan terang berkilau di jarak telah ditentukan mencipta bebayang hayati. Ada embun atau entah gerimis mematangkan dedaunannya terpelanting, bebuliran jernih menjelma makhluk hidup, mewujud bentuk sesuai kejatuhannya.

Sebagian pendapat berkata, dari ketinggian uap kekekalan menyentuh lapisan cahaya. Di sanalah derajat penciptaan. Ada pula berfaham asal roh suci ditiup dinaya kuasa, membentuk keseluruhan hayat tampak pun tidak terlihat.

Ada juga memikirkan paras ayu kehidupan ini sekembaran dunia lebih agung, entah nirwana, surga ataupun nama-nama lain, sejumlah kadar keinsafan memahami lokalitasnya. Demikian dongeng-dongeng suci mitologi, kitab-kitab kesusastraan lama memiliki penentu masanya, turun-temurun ajarannya dipelajari demi menyingkap misteri hakiki.

Jiwa-jiwa menyerapi kesadaran angan jauh serasa dekat, terdekat nyata tak terfahami. Pada gubahan lain berkumandang, cahaya membentuk daya dinaya suara perintah, pelaksanaan berkeseluruhan getar saksi hidup dan mati, misteri takdir berpasang atau berlawanan. Mulanya tiada tahu persis; apakah kata, warna, guratan, tiupan, semua yang ada kini sekadar mengikuti kecenderungan hukum-hukum dangkal.

Pada gugusan lain bersuara, kisaran peredaran alam semesta, sekilatan cahaya petir di antara mendung memadati bentuk, setirai-tirai kabut gelap, reribuan hijab pesonakan mata dan telinga. Rasa memberat sepunjer keyakinan menyerupai surya mengucurkan air mata, melayang antara kepadatan dan yang lunak, bergerombol memusar meninggi menancapi kekuatan, manusia mendapati seangin puting beliung, gempa bumi, letusan gunung berapi, lahar, banjir raksasa.

Perihal melampaui batas itu, para insan tertunduk mengakui kerumpilan jiwa, di luar pada gilirannya lebih bergema, tumbuh kewaspadaan, kejelian menyimak isyarat, pun guguran batang pohon, hewan-gemewan tiba-tiba mati, atau berteriak tak terkendali. Para makhluk bernyawa dicekam kekhawatiran, waswas mendera. Dengan pola tidak disadari sebelumnya, tercipta lengkingan menyayat ke bukit dan lembah, bertafakur, memunajat, yang belum ada sifat umpat pemberontakan.

Tubuh-tubuh didiami roh bergolak hebat atas kucurkan keringat dingin, pantai bibir-bibir berdesis, gigi-gigi gemeretak, akhirnya keyakinan pada yang gaib tertanam. Diusahakan mengikuti gejala-gejala tak wajar, terciptalah tari-tarian, kumandang musik, diikutinya bisikan lembut setiap kejadian, terjelma kesadaran berzikir, wirid, sisi lain adanya mantra atas Sang Mahakuasa.

Di semenanjung berbeda, arwah orang-orang telah tiada menempati bukit-bukit, gemunung, lelembah, pepulau terpencil, di kedalaman bumi, menyusupi hewan-gemewan menyifati kelakuan saudara-saudaranya, ini serempak. Dan di senggang masa peralihan, mereka benar-benar menyadari pergolakan, diingat sungguh demi dikisahkan ke anak-anaknya.

Adanya hal tak patut dilampaui, dipandang tajam, dipikir keras, kecuali melewati pantulan kodratnya. Waktu itulah persamaan diukur, perombakan ditakar, melayang turun penyesuaian ke titik laju perjalanan, melangsungkan pergumulan kasih tulus sejajar gelombang lautan, melingkupi bumi kesadaran berdekap sayang, sedaya gravitasi pengetahuan.

Pancangan lain berdasar takaran telah ditentukan, rasa kantuk terlelap, lupa kejadian, terlena hanyut mendiami hangat ruang-waktu meloloskan segenap perihal terhapus, diganti pilar-pilar baru oleh tekanan udara, derajat ditiupkan kepastian mendatang. Kekuasaan mutlak merombak pengertian serupa wewarna bercampur membentuk karakter anyar. Insan diombang-ambingkan ketakpastian selalu penasaran, mencari kekuatan lebih, kuasa tak terjangkau, sifat kecenderungan menempati mentalnya.

Waktu berlalu, setiap kejadian takdir mematangkan diri menempa panggung istirah, goa kemungkinan, kilasan angan bacaan ke peredaran alam, perubahan siang dan malam. Bencana, rasa senang mendadak datang, semua dipelajari, mengamati tetumbuhan mana yang berguna, hewan ancaman, di samping menghibur serta membuat kenyang.

Antara itu, ada khusyuk menyendiri, menyimak alam meneliti, mengelompokkan jauh, mengudar panjang, sehingga Sang Mahawelas merestui kasih sayang pencerah, anugerah menambah terang pandangan. Lalu terbuka hijab, rahmat ayat-ayat menyadarkan perubahan terjadi, rasa gemetar penerima tak lebih keterpesonaan kepada Yang Maha, tapi di bencah itu keraguan tambah membuyarkannya. Lalu tumbuhlah bunga di antara salah dan benar, diteruskan ataukah bergantung, bersama waswas di kepala.

Pada latar tersebut, nama-nama disematkan, diyakini fitrahnya di atas pantulan penyifatan, lelaki-perempuan berkawin, aturan dasar ditetapkan, hukum alam mengikuti jenjang pengetahuan yang mendiami orang-orang yang berpikir. Menyimak suara, dibacalah kelebatan bayang, menunggui kemungkinan berdebar atau senang, kedamaian hadir, ketenteraman menaungi kepunden-kepunden jiwa.

Sampai akhirnya, rasa tak puas didorong penasaran melahirkan penyimpangan, bentuk kembar digagas, penyelewengan menjadi aturan baru. Pada gilirannya kerusakan balik terjadi. Alam khianati penghuninya, menyebarlah wewatak curiga, saling tidak percaya memperparah keadaan, ayat-ayat suci dikhianati, puncaknya diguluk kekuasan. Sedang di senggang waktu bukan berlantas analisis, pun tidak segetaran abiogenesis, ditumbuhkan ulang sehingga kehidupan sampai gulungan terakhir.

Para utusan, orang-orang dirahmati, mendiami letak-letak genting. Hanya umat mengimani diselamatkan dari bencana besar, batu-batu terbang menghujam dari letusan gunung, lahar banjir hebat, awan panas mematikan, angin topan, semuanya menjadi pelajaran kisah-kisah di hari kemudian. Tertulis pada ingatan, daun-daun pula kulit-kulit hewan, batu-batu, ukiran kayu, sampai masa kaum cerdik pandai, tetapi selalu diserang kelupaan.

Hanya yang diizinkan Sang Kuasa menempati bencah lestari, langgeng serupa hikayat-hikayat, mitos purba kitab-kitab susastra lama, serta tak lupa disimpannya hasil-hasil tirakat memaknai kata-kata, benda, roh-roh berkisar di antara hayatnya, pada kotak-kotak dipendam, terpendam datangnya bencana longsor, dan seterusnya. Tapi Yang Asih tiada jemu terus memekarkan pengetahuan. Kepada setiap yang peduli merenungi kejadian, diutamakan hasil-hasilnya untuk warisan demi kelangsungan napas-napas peradaban.

Dan mantra, salah satu hasil tirakat manusia, menghidupi letak terpencil demi menghalau yang tidak disukai, pula meloloskan hasratnya secara di luar lelaku kewajaran. Di dalam nada-nadanya menyusup dinaya keyakinan besar, di samping ada yang berpengetahuan, mencobakan ayat-ayat kitab suci, pula dari penggalan kisah pada kesusastraan tua, dirapalkannya ulang berteguh iman memenuhi hajatnya.

Demikian diperdalam lewat menghindari jenis pantangan, bentuk berbenturan atau berlawanan dengan niatnya, demi keampuhannya bertambah atau tak batal yang diinginkan. Mulanya diucapkan dengan kekhusyukan menghadap kiblat keyakinannya. Lambat laun pengetahuan lebih maju, ucapan-ucapan mantra dituliskan dengan kadar guratan yakin pada masa-masa ditentukan, maka bersebutlah ajimat (jimat).

Di sebagian belahan bumi, jimat dikalungkan pada tubuh, tempat-tempat dianggap penting maupun genting. Ada juga pada kitiran bayu, guna angin menerpanya. Dan hembusan gelombang bayu dianggapnya pengganti ucapan seorang dukun pemberi jimat, seperti komat-kamit bermantra.

Jimat atau mantra tertulis, lebih tepatnya beristilah rajah. Rajah kadang berupa ringkasan kalimat mantra, pula jenis rumusan yang memiliki dinaya sama, ada ditulis utuh yang sejatinya terucap. Tata cara penulisannya pun memakai aturan, ritual khusus menyejajarkan peredaran lintang juga malam pasaran jika di tanah Jawa. Dan menghindari pantangan atau yang dapat menggagalkan waktu dikehendaki diguratkannya rajah, selain melaksanakan penyucian diri sebelum melangsungkannya.

Semua itu dikerjakan orang-orang yang memiliki kesaktian ampuh, minimal punya keyakinan tangguh, bahwa yang diritualkan kelak benar mewujud keampuhan. Laku ini dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. Tinta pena untuk menuliskannya dicampur minyak wangi yang juga memiliki ciri khas tertentu kewangiannya atas niat.

Di sini letak tukar pengalaman bertemu, antara ahli minyak, pembuat mantra, dan sebagainya. Media minyak wangi dapat diganti ruapan harum kembang yang direndam. Tetapi di balik itu, ada beberapa rajah kurang kuat daya pamornya jikalau tata cara serta alat-alat ritual tidak lengkap. Biasanya, pembuat rajah mengetahui kadar tingkatannya, sehingga sebelum memberikan pada yang membutuhkan, mengucapkan wejangan yang kelak dibutuhkan rajah tersebut supaya khasiatnya tetap.

Kembali soal mantra. Biasanya berasal dari bahasa asing negeri jauh ataupun kata-kata lama penduduk pribumi yang dituahkan, dianggap suci keramat. Jika tidak lama tak asing, mantra tentu berangkat dari keyakinan teguh terpegang. Di sini keyakinan menjadikan pokok, punjer musabab kejadian, hati kukuh bonggolnya keimanan sanggup menyusupi perasaan diri serta orang sekelilingnya.

Secara garis besar, mantra dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama hasil pencarian seorang waskito, insan selalu mengasah raga-batiniah, menghidupi alam tidak tampak, terlebih meneliti keseimbangan lahiriah, sedangkan jiwanya selalu mawas. Dia mendapati ucapan mantranya kadang melalui bisikan gaib saat-saat bersemedi juga melewati alam antara mimpi juga dalam mimpi.

Ruang-ruang tertidurnya badan itu kesempatan jiwa mengembarai yang digeluti di sebalik hayati sehari-hari. Orang-orang dalam keseharian menajamkan indra rangkap, mendapati temuan murni dihajati. Bagi para seniman, dapat dikatakan menyaksikan jendela inspirasi terbuka lebar di atas kesungguhan bekerja.

Kedua, mantra didapati dari ayat-ayat kitab suci pula kitab-kitab lama, sejenis karangan kesusastraan para leluhur yang diyakini bersimpankan keruhanian gaib, dibandingkan kekaryaan orang biasa. Kitab-kitab itu dipercaya mengandung kesakralan terpendam mana (kesaktian) dan dapat diamalkan.

Mengambil beberapa kalimat mantra sesuai dengan masalah yang dihadapi, untuk dirapal, dibaca ulang, ditirakati menahan haus dan lapar maupun sejenisnya, dilakukan demi kehendak dituju tercapai. Jika kalimat suci atau ayat tersebut dijadikan rajah, diambil beberapa kata pun huruf terpenting darinya maupun ditulis keseluruhan.

Sebelum mengudar jauh memahami cermat seksama hakikat mantra, yang hendak aku benturkan-konsep mantranya Tardji. Bagian ini aku ucapkan terima kasih kepada almarhum Prof. Dr. Koentjaraningrat (15 Juni 1923—23 Maret 1999) atas bukunya: Beberapa Pokok Antropologi Sosial, terbitan PT Dian Rakyat, cetakan V, 1981. Selain itu, abstraksi dari bacaan-bacaan sebelum dan sesudahnya, semisal kitab Daqooiqul Akhbar, Menyingkap Asal Mula Kejadian Mahkluk, karya Al Imam Abdurrohim Bin Ahmad Qodhi, terbitan Husaini Bandung, Februari 1992, penerjemah Abdul Ghoni Asykur, Shoib dan Slamet Ilyas, di samping Kitab Para Malaikat, terbitan PUstaka puJAngga, 2007, karyaku sendiri.

Karena ini membahas mantra, maka pokok segalanya keyakinan, sedangkan bukti keimanan merupakan penampakan dinaya supranatural. Kudunya berkenan dibuktikan, jikalau tersebut benar-benar karya pemilik rohaniah sekelas mantra.

http://pustakapujangga.com/2011/09/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-iii/