Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-vi/

VI

Di buku Raja Mantra Presiden Penyair, sastrawan Taufik Ikram Jamil menulis esai bertitel Bersama Sutardji Calzoum Bachri seluas 16 halaman, dari nomor 64 sampai 79, mengisahkan keakraban dirinya dengan sosok dikenal tukang mantra itu. Ikram mengudar perjalanan Tardji sedari kanak hingga proses kreatif di tanah Pasundan, berpelukan hangat kerinduan, seperti mengetahui persis tapak langkah dengus aroma, dan gelagat rupa gemawan apa saja yang menaungi.

Atas kelembutan ke-Melayu-an, Ikram perlahan mematrikan realitas sekeliling kisah bertaburan bunga nan sedap dihirup, nikmat dipandang. Padahal sejatinya, tampak menelanjangi bulat pemantra. Atau pandanganku saja terbalik, ataukah ketakjuban lebih bermakna bumerang alias senjata makan tuannya. Tetapi, meski aku tak kenal Ikram, kukira tidak. Dia menyusup dalam kelembutan budi pekerti bahasa serupa guru mengajarkan pengetahuan ke anak-anak madrasah, melewati kesantunan irama bunyi, memereteli satu per satu pakaian kebesaran Presiden Penyair.

Entah sudah kusebut berapa kali dalam tulisan. Aku cemburu dengan orang Sumatera (sastrawannya) tempo dulu. Yang berimbas hampir tulisanku, seakan memakmurkan ke-khas-an khasanah para pujangga Melayu. Namun, karena aku lahir di bencah Tanah Jawa, maka kutiupkan bayu kepada roh kandungan alam Bumi Dwipa seraya mengharapkan berkah, pada gilirannya seolah ditimbali, demi meluruskan yang gelap gulita.

Betapa melompat ke awang-uwung dunia atas, sedari zaman-zaman terbaca memperluas cakrawala pemikiran memperkaya batin kesungguhan menimba keilmuan. Tulang-belulang nenek moyang selalu bergelayutan untuk dilahirkan yang melangkahkan kaki di bumi keselamatan. Demikian hukum tak tersangkal, tiada daya mengelak kecuali ditimpakan nasib pahit simalakama, seperti praktek jailangkung; “datang tak dijemput, pulang tak diantar.

Siapakah dia? Dialah roh-roh tak bertanggung jawab pada gurat-gemurai tulisannya, atas perintah para pemanggil iseng pun orang-orang goyah hatinya. Sedang panggilan roh moyang berpijak hukum kesentosaan, terekam di setingkap debu perjalanan, di atas kaki pengelana menganggap asing dirinya di alam kehidupan.

***

Hampir menyeluruh tulisan Ikram mbelejeti, ngelenceki, bahasa lainnya mengupas buah perawan dengan paksa mendekati pemerkosaan. Pelahan-lahan kuhanyut mengutipnya:

Maka, aku datang dalam tidurmu, dalam mati sementaramu, ketika rohmu diangkat ke Arasy. Tapi, kau lupa berwudhuk, maka engkau hanya dapat berada di pinggir. Kau lupa ucapkan ayat mantra, tak terbaca engkau seperti Al Qur’an. Pada gilirannya engkau berteriak, “Emak… Allah… Allah…” Lalu, aku sambut “Alif lam mim…”.

Dengan kata “tidur”, Ikram menaburkan butiran abu yang telah diasmak ajian sirep megananda (mantra menidurkan orang) ke ubun-ubun Tardji bermahkota kepresidenannya. Lantas mengangkatnya berdaya upaya ketaksadaran “mati sementara” berarti alam kehidupan, penuh tipu muslihat, fatamorgana, dekat halimun membiusi sikap kesejatian.

Selogis Ilahiah, Arasy hanya teruntuk Nabi Muhammad Saw., Malaikat Jibril pula tunggangannya Buruq, tidak diperkenankan-Nya. Ini kecerdikan bersimpan cerdas mengangkat lembut, aslinya tak sama sekali. Tetapi Ikram khawatir, ungkapannya tiada sampai, maka diingatkan wudunya yang batal di saat menuliskan, cepat-cepat mengambil air wudu.

Air wudu setiap tetesnya menjelma malaikat penjaga, menambah khusyuk kepada-Nya. Lalu malaikat penjaga kubur menanyakan hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan roh dalam tubuh melalui undang-undang telah ditentukan. Tardji keder tersebab mantra-mantranya hangus terbakar. Lantas ditampakkan lembar-lembar mantranya oleh malaikat, mukanya menjadi kelam, atas lelembaran Kitab Suci terbuka memancarkan cahaya sampai sulit terbaca huruf-hurufnya, silaulah pandangan. Akhirnya berteriak, Ikram dengan santun menuntunnya berdoa “Alif lam mim…“. Kata “sambut” sekadar ungkapan kawan, agar tidak melukai dalam nantinya dengan sedikit menggoda.

Sebagai kawan baik, Ikram menegurnya melewati ujaran Aisyah r.a., atau sesamar dipastikan Tardji tidak menyimak dalam. Itulah kelembutannya, kecantikan yang keluar dari mulut perempuan: “Seandainya aku dilahirkan sebagai daun…Sebab, manusia pada hakikatnya kekal dan karenanya harus bertanggung jawab di depan mahkamah paling agung dengan hakim tunggal Yang Mahaagung pula.

***

Tidak, engkau tidak bebas mencari Tuhanmu. Sebab, begitu kau mengembara dalam aorta, dalam rimba darahmu, hanya tertuju kepada-Nya, Ia menemukanmu dalam wajah yang tidak engkau ketahui, sebab tidak ada contoh pada pandanganmu, tak ada padanan dalam rasamu. Sebab itulah, engkau kemudian memandang pada berjuta-suatu angka yang dapat engkau namakan-apa pun, tak teduh dengan seribu pohon, tak jatuh pada seribu perawan, engkau tak akan bisa mengeluh….”.

Kata-kata “tertuju kepada-Nya”, sanjungan manis nan menawan, Ikram sepertinya telah menghafal rumusan matematika kaum sufi, menaik-turunkan melodi dengan tekanan kata di ujung-ujungnya mematikan berdaya filosofis sulit tersangkal, kalau tidak memeramnya. Hitungan akidah akhlak atas meteran syariat yang dipantulkan laku spiritual, mimpi benar bukan kebenaran, dan realitas benda-benda. Para makhluk bertasbih seperti malaikat hanya mengenali kesetiaan suci sejumlah penciptaan, sedangkan nada-nadanya mengikuti irama surat cahaya, kalam-kalam memakhlukkan sendi-sendi peradaban islamiyah. Sebentuk lingkaran transparan, nilai-nilai terpancar sedari kurungan, di kedalamannya cermin memantul wajah Ikram tengah bermunajad khusyuk kepada Realitas Tunggal.

Ada beberapa kalimat membongkar kebiasaan Tardji lewat lambang dari Kitab Suci, hanya pernah menjumpai saja menyaksikan. Oh keindahan memberi padanan jelas hingga kasar bagi yang sampai. Di sini aku tersadar. Kalbu lebih purba dari bahasa pikiran, olehnya tepat kaum filsuf berfaham, perihal perasaan ialah awal pengetahuan. Di sini, meski Ikram lebih muda 22 tahun darinya, ia tampak menguasai keadaan ruang lelingkup bertiupan kenangan kecil yang semua orang lekat menikmati.

Di sini dapat dijumlah, hitungan nalar matematis mudah dirunut pembentukannya, sedangkan sejarah konsentrasi pikiran batin, sulit terlacak, kecuali bijak merenungi hidup, baru mengetahui. Tidak keliru Leo Tolstoy dan lain-lain berdekatan alam perkampungan damai sebagai pondasi nilai-nilai ditancapi demi para pemikir selanjutnya.

***

Dulu, kita menyebut selat yang memisahkan Riau dengan Singapura dan Johor hanya dengan sebutan parit“. Pernyataan Ikram itu mengingatkan pada ungkapan masyarakat Jawa yang tinggal di kampung, khususnya pegunungan. Kalau ada pengembara tanya, berapa jarak hendak ditempuh, sampai ke tujuan ditanyakan, biasanya menjawab, “hanya beberapa gundukan tanah”. Seakan tampak mata, padahal jauh tidak sesuai dengan yang dibayangkan.

Lantas menjadi insaf, tenaga orang dulu lebih unggul dari keadaan kini menganggap ringan menyusuri jalan panjang selencungan, sekarang sudah dijawab kemajuan teknologi. Tapi masih ada terhilangkan; keakraban, perihal mengukur tenaga fisikal, jenjang menancapi alam, pada keseluruhan tubuh lalui pori-pori, sehembus bayu meresapi kandungan hayat.

Inikah letak menjumlah napas, menakar kebeningan peroleh kasih alam untuk insan memekarkan kelopak kehidupan ke batas sadar perjuangan. Tak melupa pinggiran hati, hingga sedikit terlewati lebih banyak perolehan, nilai-nilai sejatinya mampu membiaki fitrah, berkesahajaan ruhani dari pantulan kehakikian indrawi. Yang ditimbulkan dinaya sesal murni, bukan cepat sirna perubahan, lalu mengulang kebodohan kembali.

***

“Untunglah, belati yang selalu terselip di kaus kakimu -yang selalu engkau bawa entah untuk apa- tidak sempat “beroperasi”. Di Paris van Java, yang sekarang lebih banyak terdengar cerita-cerita miang membara, orang semula mengenalmu sebagai calon politikus gagal -benar juga, kuliahmu di Fisipol tak selesai. Engkau adalah kata-kata itu sendiri, sehingga ah…”rasa yang dalam”.

Sepintas terlihat Tardji bukanlah sosok “preman” di TIM pun di Bandung, panggungnya sebatas ruang kesenian. Watak kesenimanannya tidak berangasan keluar-masuk penjara, ialah derajat realitas menentukan corak pementasan lebih. Kegelandangannya dapat dikategorikan hangat, belum cukup nyali jikalau dikeroyok atau tak pernah disentuh tenaga lain.

Tampak di cermin ajaibku, totalitas kenyentrikannya di kota dihargai penduduk malam, tetapi keusilannya kurang tenar kecuali itu. Ah, jika Tardji dulu di Jogja, tentu sudah kugoda. Sebab di batas waswas tertentu, mudah terketahui, sejauh mana dinaya cipta terkandung darinya. Kata “beroperasi” bisa dimaknai belum menujah ke hakikat kemanusiaan.

Kata “politikus gagal” mengingatkanku akan esainya tentang pertanggungjawaban bagian akhir, kian kentara hendak menguasai panggung sosial, tetapi terjerat ruang lingkup gelap belum terkuasai alam realitasnya. Jalan lapar, mata berkunang, siap tantangan tikaman waktu tajam. Tidakkah lambaian kepal tangan pejalan kaki mengetengahkan tenaga ayunan, sekali pukul menjomplangkan lawan. Pengetahuan ini tak ada di buku-buku, tapi bukankah kita lebih suka menghirup keharuman taman daripada bunga karangan?

Ya, ibu, seseorang yang harus diabdikan tiga kali lebih utama dari yang lainnya dalam hubungan sesama manusia”. Kalimat ini merupakan benang merah kalimat sebelumnya: “Emak… Allah… Allah…” yang semestinya: Emak, emak, emak, bapak…. Di sini, aku mencium kegusaran Tardji, di sebelah keegoisan kepenyairannya seakan hendak melupakan kenangan leluhur.

“Astaga, tak serta-merta engkau diterima. Karya-karyamu dinilai bukan sajak, sebagaimana pernyataan Sutan Takdir Alisyahbana sampai akhir hayatnya yang begitu fanatik pada aliran konvensional. Betapapun, pada gilirannya engkau harus berbicara lewat kredomu bahwa kata-kata memiliki semangatnya sendiri, orang tak peduli karena mereka menganggap kata-kata hanyalah gula-gula. Tapi, Horison acuh saja dengan pandangan sinis penganut konvensional tadi. Sajak-sajakmu tetap dimuat-entah dengan alasan apa, tentulah bukan karena alasan temporer agaknya. Ketika O Amuk Kapak terbit 1981, satu generasi yang lalu, engkau telah mencari dan menemukan tempat, kata Hasan Junus.

Adanya kecenderungan, sastrawan berangasan pemiliki keyakinan kuat, meski konsepnya lemah akan diangkat sekelilingnya. Barangkali kehendaknya langkah lanjut kian matang menginsafi perolehan sebelumnya lewat bangunan lebih kokoh. Tapi kesalahan fatal para kritikus, kurangnya menyimak gejala apa saja bergelagat mengisari. Sehingga kesenjangan mencolok kegagalan besar, pondasi yang diules-elus menjulang, terlupa awal paku buminya tak sedalam penyelidikan.

Yang terpenting adalah memahami niatan. Hasratnya mekaran kuntum bunga searah kepastian, olehnya betapa kokoh jembatan penyeberangan, jika dibangun di atas rawa-rawa, mengkhawatirkan amblas ke perut kebijakan. Namun Tardji tetaplah presiden penyair, pasti menghiasi media sampai ke bangku sekolah, sedangkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, di emperan sejarah kesusastraan Indonesia, tersebab takdirnya lahir di kota kecil, Blora.

Kudengar suara, “ah tak bisa disamakan”. Menyusul suara lain, “bagaimana tak, sama-sama sastrawan”. Yang bilang tak, seperti dahan kering kaku mudah patah, tetapi sejarah tak berjalan sepuluh, dua puluh, dan seratus tahun saja. Kualitas karya bergemuruh lebih lantang ketika sama ditinggal sang empunya. Juga patut diperhatikan, propaganda membentuk takdir berbeda, sekerja perefisian hasil cipta menyegarkan ingatan. Namun, pada tataran tertentu, tetap hukum alam berlaku. Yang ampuh berkumandang, tirakat lahir-batin membetot nasib terselimuti kabut tertanda. Kesusasteraan Tanah Pertiwi begini-begitu saja, meski telah memakan banyak tumbal di mana-mana.

***

“Kawanku, Abdul Wahab dan Bayau setuju dengan pendapat beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa sajak-sajakmu berada dalam tataran transendental. Hasrat merasa adanya sesuatu yang agung, menguasai, dan sejenis dengan itu, sesuatu yang tak terjangkau, adalah naluri -fitroh. Sufi? Entahlah, sebab sufi cenderung pada menjalani suatu peristiwa dengan cara yang telah dicapainya, sementara engkau senantiasa dalam proses untuk berbagai hal termasuk cara mencapai sasaran, bahkan sasaran itu sendiri”.

Beberapa kali Ikram menyokong denyut kepenyairan Tardji lewat suara orang lain. Aku jadi ingat ungkapan sastrawan filsuf Prancis Voltaire: “Bahkan jika aku tidak menyukai pendapatmu, aku akan tetap mendukung hak bicaramu”.

Soal nyufi dan lain-lain, balik ke peta kesusastraan Indonesia, pemilik watak kecenderungan menyepadankan karya teman sendiri. Tardji disebandingkan para pendahulu agung yang tiada sekuku hitamnya menimba keilmuan dan perjuangan syiarnya. Seakan abai hikayat tertera, mendadak disejajarkan tanpa penyelidikan mendalam sejarah masing-masing tokoh yang mencerminkan capaian-capaiannya, maka bisalah dibilang sulapan.

Sebagai penutup, sastrawan yang lahir di Telukbelitung, Bengkalis, Riau; Taufik Ikram Jamil, menuliskan ungkapan Ratnawati S., seorang anak SD Jakarta, awal tahun 1980-an, yang dimuat harian Sinar Harapan, bertitel “Puisi Buat Kak Sutardji“. Ia menciptakan kesan kalau Tardji patut diteladani. Tapi jika baca keseluruah esainya, pandangan tersebut mengsle (dimengslekan) sedikit.

Memang ada beberapa kepastian suara Ikram pada Tardji, tapi lebih tepatnya demi tanah ke-Melayu-an, atau seakan tiada daya pantulan suara mendengung keras di telinganya; Tardji memang ada. Soal perayaan pengadaannya, hanyalah Yang Esa lebih tahu rahasia di kedalamannya.

Ikram menutup dengan kata-kata lembut: “Kepada Allah saya minta ampun, segala kebaikan bersumber dari-Nya, sedangkan segala keburukan maupun kekurangan berasal dari saya sebagai tanda rahmat Allah yang menunjukkan bahwa saya tidaklah memiliki kemampuan apa-apa.

Demikian pun diriku, sekadar menambal sulam adanya. Jikalau ada sebentuk dari-Nya Alhamdulillah, kalau tidak, semoga diberi pemaafan menyunggi, karena segala ikhtiar hanya berasal dari-Nya jua kembali kepada-Nya.