Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-vii/

VII

Bagian ini menuruti angka ganjil VII, sebagai letak pemberhentian atas ketaksesuaianku dengan Tardji. Yang bermula igauannya bahwa Tuhan berimajinasi, bermimpi, hingga menggugah diriku mendatangi:

Jika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat bicara. Pengarang tidak mati karena karyanya selesai ditulis, tetapi malah harus hidup mendampingi karyanya yang “aneh” itu memberikan komentar, visi, dan penjelasan agar para pembaca yang kebingungan bisa mendapatkan bandingan dari penafsiran pengarang terhadap penafsiran pembacanya. Hal ini perlu karena pembaca tidak mendapatkan bandingan pengalaman dalam membacanya, karena karya itu adalah karya baru yang sebelumnya tidak memiliki pendahulunya.” (Esai pembuka, ihwal personal, dari buku Isyarat Sutardji Calzoum Bahri).

***

Sebuah karya dimaknai seni, dihasilkan para seniman, apakah lukisan, patung, musik, sastra dan lain-lain, hakikatnya ialah pengabdian atas hidup demi yang menghidupi. Peribadatan itu dikerjakan dengan sangat hati-hati, cermat-teliti, senantiasa mengolah kandungan nilai yang tengah dilebur dari jiwanya guna hasil-hasil di depan.

Pengarang ini berharap minim cacat, maka perevisian pandang sungguh penting, selain perbarui niatan pula daya termiliki. Hal itu dilakukan agar segar menapaki jenjang perluasan kesadaran akan tapak lelangkah menambah derajat yang dipunyai.

Di sana, usaha keras dituntut, kesuntukan direbut ruang sunyi pun keramaian mengisari. Kian matang direngkuh dalam perolehan orang-orang setelahnya. Akhirnya, kecewa terjadi oleh sikap meremehkan, abai sekitar penggarapan.

Puncak pengetahuan itu merupakan penggalian, mengeruk tanah kucurnya mata air hakiki, menaiki bukit yakin, keniscayaan takdir lekat di badan setanggung jawab, juga mencurigai hasil sebelum dan sesudahnya yang di waktunya kewaspadaan kembangkan jejaring getar menarik isyarat, firasat. Guna kemajuan bertingkat memantulkan balik kepasrahan tunggal, selepas melayarkan sampan pelita hati.

Sebab itu, suatu karya purna tak perlu dijelaskan pencetusnya, kecuali sekadar. Di sana tak menelisik dalam, hanya sejenis abstraksi bagi keliaran pembaca memperoleh kilatan cahaya, dengan sendirinya tahu keberadaan nilai-nilai tersebut dari dalam dirinya, bukan berasal pemahaman penciptanya bulat-bulat. Di sini tanggung jawab sementara itu, dan pengantar dapat dikerjakan orang lain; pengamat, kritikus, kawan, atau musuh kreatif.

Jika seniman menerangkan detail hasil karyanya, itu bukan tangung jawab, melainkan karyanya memang bobrok, sehingga butuh alat pengantar si empunya, meski karyanya dibilang cetusan baru, mazhab aneh sekalipun. Apalagi mantra, bukan asing untuk warga dunia yang membongkar makna di balik alam kebendaan.

Kalau mengudar detail, aku curiga batinnya belum ikhlas melepas. Ada penyesalan di wajah karyanya. Ternyata, ciptaannya memang tak bisa dinikmati dan tidak memuaskan batin. Itu kegagalan seniman. Tidak melempar jejaring komunikasi, wewarna dierami nan pernah disenggamai berkeseluruhan diri.

Dari itulah, pokok karya cipta ialah konsep selalu ditempa. Jika terjadi gelagat kemiringan, lekas dibenahi agar bangunan yang dicanangkan tidak buyar menimpahi penikmat juga dirinya. Nyata, karya diinginkan merentang umur panjang, ambruk sedurung menujah pembaca, tersebab cecabangnya lelaku sekadar perkiraan, belum diuji, meski di tingkatan terendah.

Ini biasanya pada seniman ambisius berkeyakinan tanggung, tapi jarang mencurigai perolehannya dan cukup puas pendapatan yang dikunyah. Padahal bisa saja kunyahan pertama berlapis racun, sebelum mencapai isi buah demi ditanam di ladang kembara.

***

Dua paragraf di bawah ini, kupetik dari esaiku bertitel Intrik Penyair dan Karyanya, dalam buku Trilogi Kesadaran halaman 284:

Puisi ialah masa-masa mati. Terhenti atas kekakuan dirinya yang telah terselubung kelenturan. Ia tidak bisa bergerak terlampau jauh, ketika “kata-kata” sudah mewakili kehadirannya. Maka penciptaan puisi, sejenis latihan bunuh diri berkali-kali”.

Siapa yang mati di sana? Penciptanya, dipermalukan kejujurannya. Meski berselimutkan kerahasiaan, tetaplah ada keinginan untuk diketahui, difahami. Mungkin ini sisi lain kebinalan puisi sebelum mati, sedurung dikubur dalam keranda kata-kata”.

***

Rasa mati itu malu, dipermalukan, karena rahasia terkandung selama ini, hakikat puisi itu terketahui khalayak, meski berselimut nada kata-kata bermakna. Penyairnya menggigil seperti saat mencipta, malu membuatnya senantiasa berkarya, sebentuk nyawa rangkap yang terbit dari api semangat.

Mati berkali-kali laksana latihan bunuh diri. Seseorang seperti menjajal kesaktian dalam mempelajari kekebalan, diuji sampai memantapkan pribadi, dan memahami sejauh tingkat keilmuan yang dipelajari.

Jika mati di awal pertarungan, masih punya ribuan pasukan yang sudah ditempa untuk menuntut balas kekalahan saudaranya. Ini termasuk bentuk tanggung jawab, bukan membantu saat tengah bertarung dengan argumentasi pendamping seperti melemparkan tameng, kalau memang sudah lepas genggaman.

Detik-detik tanggung jawab hadir mengamati kekalahan pun kemenangannya, kala dibenturkan karya lain. Itu dipikul yang demen (kayungyung) kepadanya, karena penulisnya seperti ibu melahirkannya. Tidakkah ibunda malu, jikalau anaknya cacat? Ibunda sang kesatria merelakan anak-anaknya gugur di medan tempuran dengan bangga.

Arti tanggung jawab terletak saat-saat pembuaian, pertumbuhan, wewaktu perevisian. Ketika sudah diterbitkan, anak pasukan mengikuti jalur nasibnya sendiri, sejauh ketentuan dihasrati berdaya gravitasi termiliki atas serangan udara-darat dari angin bertubi perubahan mengendarai hukum alam. Maka kurang tepat jika Tardji memahami tanggung jawab seperti ini:

Dan lebih penting lagi dengan pengarangnya angkat bicara, ia telah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pengarang. Jika ia berdiam diri bisa timbul kesan hanya sekadar beraneh-aneh, cari sensasi, atau menulis secara untung-untungan atau dengan kata lain ia kurang bertanggung jawab atas karyanya”.

Tampak di sana Tardji beraninya main keroyokan kala dilihat anak-anak karyanya diudel-udel, diburaikan isi perut rangkaian ususnya membuyar di medan perang, pembelejetan dalam pengadilan. Kalau ikut cawe-cawe, kian kentara buruk karyanya, karena membuat penikmatnya kebingungan seribu keliling alun-alun.

Jangan salahkan jika pembaca tidak faham lantas dianggap bingung. Tapi perlu juga untuk mencurigai anak karya, apakah sudah ampuh atau masih kacangan yang kalah di arena pertandingan? Watak keroyokan kuanggap bentuk tidak faham tanggung jawab sejati, lebih bobrok menggalang kekuatan demi main keroyok.

Harusnya penyair mawas diri juga pada karyanya, sehingga dinaya yang keluar tidak sia-sia, apalagi menghamburkan kalimat sugesti tanpa dilandasi filosofi. Bersiap-siaplah terjungkal dan terpental keluar sedari lingkaran pengertian yang diharapkan, sebab tidak menempati kursi nyaman di dalam menggumuli karya. Konsep gusar hanya terbit dari mental-mental tanggung. Waspadalah, buah mentah membikin sakit perut!

Lantas apa jadinya pekerjaan pensyarah kitab, penafsir pengetahuan, dan kaum kritikus, kalau seniman yang menciptakan karya, menerangkan hasilnya sampai tetek bengeknya? Sebagaimana tuturan Tardji, “Jika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat bicara”.

Aku kira itu pantulan keragu-raguan pada karyanya. Ketidakpuasan di atas merupakan hasil temuan kritikus, tidak sesuai dengan dirinya di awal penciptaan. Bisa jadi, ini termasuk bentuk terlalu yakin diri kelewat, di samping para pengudar bayang-bayang. Padahal bayangan penerjemah dapat berlainan tetapi tetap sampai jua. Tidakkah penilaian orang lain cenderung mengisi?

Sepatutnya di sini wilayah keterlepasan. Ibunda para kesatria merestui anak-anaknya ke medan laga dan hanya doa serta usaha secukupnya. Misalkan membikin karya tandingan demi persiapkan gelombang balasan untuk kemajuan wibawa senimannya.

Tidakkah seniman (sastrawan) dituntut menyegarkan pandangan, seperti setiap pagi matahari terbit diganti perubahan bulan menerus, meremaja niatan, tak terlena. Dalam proses itu, tertanam sikap rela memenggal, mengubur lengan sampai seluruh tubuh karya, jikalau tidak punya kekuatan petarung. Jiwa karya bermental kesatria akan menginspirasi karya-karya setelahnya. Oleh sebab itu, kemandirian sikap karya diharuskan hadir, tidak ditutupi dengan angkat bicara yang menambah dangkal kehadirannya, dan membikin wagu keberadaannya sebagai kesatuan utuh sebuah karya cipta.

Pengecualian jika terpaksa, dipaksa, ibunda rohaniah karya ditodong keadaan terjepit. Ini pun harus digarisbawahi. Memberi gambaran di sisinya, mengeluarkan contoh lain sebanding dengan kasus tengah dihadapi agar tidak tampak lucu dan bisa mengurangi kewibawaan karya tersebut. Serupa penyelidik membuat undang-undang dengan menimba berbagai kasus keserupaan demi menurunkan nilai bijak tetap dalam lingkup cita-cita. Hal itu demi membangun sarana penalaran menuju pencerahan yang diingini lawan bicara.

Kalau dengan itu masih menuntut tanggung jawab yang tidak pada tempatnya, anggap saja lain kelas dengan memberi jalan secukupnya. Jalan kupasan tersebut seharusnya masih ada pembatas pada karya, agar tidak seakan menghidupi karya yang dianggap mati pengkritik.