Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)

Nurel Javissyarqi

II

Sebelum merantak, izinkan diriku keluarkan isi hati di sementara waktu. Sebenarnya aku belum cukup umur dan ilmu untuk mengupas hal ini. Tapi untuk menjawab esai Tardji dan kupasan para penyair yang pernah kubaca mengenai Asy Syu’ara, serasa ada angin menggegaskanku untuk menuliskan. Tentu tidak menutup ketetapan ulang di masa datang, demi penajaman makna usia pengalaman, sehingga yakin adanya, demikian tuturan prolog dari pengelana. Continue reading “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)”

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)

Nurel Javissyarqi

I

Tulisan ini tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair ; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut: Continue reading “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)”

Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (IX)

Setelah menelisiki sumber terkait, dimungkinkan tulisan ini bertitel “Afair Manikebu, 1963-1964? karya Goenawan Mohamad (dan dengan segala maaf, pemosting membuat paragraf sendiri, karena sumbernya rapat).
http://tempointeraktif.com/

IX

DALAM perkembangannya, perdebatan antara “Manikebuis” dan para penulis Lekra, khususnya antara majalah Sastra dan “Lentera” Bintang Timur, tak meningkat ke dalam pengulasan pelbagai soal yang menurut saya mendasar. Continue reading “Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (IX)”

Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (VIII)

Setelah menelisiki sumber terkait, dimungkinkan tulisan ini bertitel “Afair Manikebu, 1963-1964? karya Goenawan Mohamad (dan dengan segala maaf, pemosting membuat paragraf sendiri, karena sumbernya rapat).
http://tempointeraktif.com/

VIII

DENGAN semangat seperti itu sebenarnya Manifes Kebudayaan menentang semboyan “Politik Sebagai Panglima”. Tentu saja pengertian “politik” bisa bermacam-macam – dan tampaknya dari kalangan Lekra sendiri tak cukup bisa ditarik konklusi yang satu. Continue reading “Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (VIII)”

Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (VI – VII)

Setelah menelisiki sumber terkait, dimungkinkan tulisan ini bertitel “Afair Manikebu, 1963-1964? karya Goenawan Mohamad (dan dengan segala maaf, pemosting membuat paragraf sendiri, karena sumbernya rapat).
http://tempointeraktif.com/

VI

SEORANG sarjana Australia, Keith Foulcher, di tahun 1986 menerbitkan sebuah monograf yang menampilkan riwayat, pandangan, dan persoalan yang dihadapi Lekra, sejak lahir di tahun 1950 sampai penghancuran PKI di tahun 1965. Continue reading “Peristiwa: Afair Manikebu, 1963-1964 (VI – VII)”

Bahasa »