PUISI: Melayat Kemanusiaan Kita

Muhammad Rain *

Puisi dapat dinikmati dengan beragam cara. Ada dua cara di antara ragam penikmatan dan pemahaman puisi sebagai benar satu (kita tak mau salah) karya sastra sebagaimana yang disampaikan oleh M. Saleh Saad dalam Prasaran Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan miliknya yang dimuat dalam buku Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Ali, ed., 1967: 111 – 27; 128 – 51). Pertama, bersatu dan menenggelamkan diri ke dalam karya sastra itu, sehingga persoalan yang ada ialah merasakan; dan cara kedua ialah menikmatinya secara sadar dengan memanfaatkan kaidah atau kriteria tertentu untuk menganalisis karya sastra, sehingga persoalannya ialah menilai secara obyektif.

Memasuki cara pertama yang disampaikan M. Saleh Saad ini yakni bersatu, tenggelam ke dalam karya yang kita baca, maka kita selaku pembaca dihadapkan kepada penyerahan kesadaran kita secara ikhlas untuk memperoleh hasil pembacaan puisi. Keyakinan dan kepercayaan kita kepada penyair yang puisinya kita baca tak boleh sedikitpun goyah, justru karena kita sedang belajar darinya, dalam memahami kehidupan yang dikisahkan dan difikirkan oleh pemuisi. Sedangkan cara kedua, lebih menekankan pada konsentrasi mencari nilai, bahkan menilai karya sastra yang kita baca sesuai kemampuan menilai masing-masing kita. Sebab pada dasarnya pemaknaan seni puisi yang mengambil “kehidupan” sebagai tema universal tetap menjadi hak umum segala manusia. Meski pembaca awam dan minim pengalaman terhadap seni berpuisi, catatan penting di sini bahwa sesungguhnya seorang penyair atau ribuan penyair jikapun mereka dikumpulkan ternyata tak juga mampu menunjukkan kita apa sesungguhnya nilai, tujuan, hakikat adanya kehidupan itu.

Masing-masing mereka (para penyair) punya pandangan originalnya, begitu juga pembaca. Sebab itulah penilaian terhadap sebuah karya adalah hak paten setiap orang, setiap pembaca. Seperti memberikan nilai kepada dirinya. Nilai dalam suatu karya sastra sesungguhnya sangat beragam rupa. Keberagaman ini muncul akibat banyaknya kepala, isi dan pemikiran yang berlintasan di setiap penyair. Teeuw (dalam Yudiyono KS., 1990: 33) menyinggung tentang masalah nilai sastra, ia dalam buku Telaah Kritiik Sastra Indonesia ini secara singkat menyatakan bahwa kriteria utama untuk nilai sastra ialah relevansinya sebagai karya seni bagi eksistensi manusia. Robson menimpali pula dalam menilai sastra harus dapat dikembalikan kepada satu prinsip, yaitu kemanusiaan. Sebab, tidak ada seni untuk seni saja, atau tidak ada ilmu untuk ilmu saja.

Meskipun dengan dua pertimbangan nilai sastra yang ditawarkan dua ahli ini seolah saling sokong, namun untuk menafsirkan makna “kemanusiaan”, kita perlu berhati-hati, justru karena maknanya tidak menunjuk suatu konsep yang tunggal. Kemanusiaan bagi kaum Marxis boleh jadi tidak sama dengan maknanya dengan kemanusiaan di mata penganut ajaran yang lain. Hal ini selanjutnya menimbulkan beragam persepsi yang bermuara pula terhadap beragam pemaknaan nilai karya sastra (puisi). Akan tetapi sebagai pembaca, pencipta sastra, pengkritik dan peneliti luasnya dunia sastra, ternyata penafsiran nilai kemanusiaan ini tetap memiliki muara sebagai tujuan sama, yakni memanusiakan manusia. Puisi sebagai sebuah proyek raksasa kemanusiaan yang dilakukan sejak berabad-abad silam bahkan hingga berabad-abad ke depan berfungsi abadi dalam memunculkan nilai kebermaknaan kehidupan yang dijalani oleh manusia, manusia yang tak bermakna, tak memiliki arah nilai juga tak berpedoman hanya akan menyia-nyiakan fungsi akal budi yang dimilikinya.

Puisi sebagai produk demi melayat kemanusiaan kita yang seakan selalu mati oleh kondisi, oleh perombakan-perombakan yang dilakukan seiring jalannya waktu. Puisi menjadi ranah kondusif yang banyak diminati seluruh kalangan suku bangsa manusia sehingga sebagai salah satu seni yang kompleks yang selanjutnya menjadi salah satu kesusastraan penting dunia selanjutnya dijunjung tinggi lewat penghargaan Nobel segala, pencitraan tingginya nilai kemanusiaan yang berhasil dilayat oleh penyairnya, jika hari ini ada yang mengatakan puisi sebagai barang mati, nyata sekali bagi kita bahwa pengkata ini sedang mengubur nilai kemanusiaan dirinya. Bahasa puisi adalah bahasa jiwa, kendaraan yang mengantarkan pembaca kembali mengenali dirinya dan semesta, bolak-balik dari kosmos ke mikrokosmos yang melingkupi dunia replika, dunia yang menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian denyut kehidupan jiwa itu.

Lalu bagaimana jika suatu kenyataan berbeda lahir dari sebuah karya puisi yang tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga hidup dalam menkhidmati kehidupan ini? Bagaimana sebenarnya sikap bijak kita ketika membaca suatu karya puisi yang nonsens yang tidak memiliki daya dorong untuk membangun fungsi refleksifitas, revisioner, re-re- lainnya yang menghendaki pencerahan dalam tugas manusia sastra untuk mampu membaca jalan dan tumbuhnya kehidupan di dalam kesusastraan. Bagaimana ketika dunia puisi dipenuhi oleh orang-orang yang mati, mati rasa mati estetika? Kita lalu menjawabnya dengan perasaan jenuh dan sia-sia. Puisi yang gelamor belum tentu merdeka dari kebobrokan syahwat yang membelenggu dunia nafsu. Puisi tenar belum tentu bebas dari uji materil kekonyolan demi sekedar membesarkan satu dua nama.

Keterjebakan kita terhadap sastra nonsens, sastra yang fulgar, atau sastra yang malah lembek menetek kepada keindahan tanpa nilai refleksi. Seperti halnya manusia memilih makanannya, tentu cita rasa menjadi penting. Jiwa pembaca memiliki beragam cita rasa memang, tetapi ketika kita misalkan menanyakan satu demi satu pembaca itu, apa tujuan Anda membaca puisi? Nyaris secara umum mereka para pembaca itu menunjukkan suatu jawaban yang mengarah untuk memperoleh nilai kehidupan, nilai kemanusiaan yang didialokkan oleh penyair lewat puisinya.

Saudara tidak akan tertawa terpingkal khan jika ada yang begitu menggilai puisi sampai ada yang lupa makan? itu adalah suatu daya cinta pembaca terhadap cinta dirinya kepada kemanusiaan. Penyair bahkan menulis tanpa rasa lapar jika ia sejenis manusia yang tidak manja, yang tidak hanya akan menulis ketika perutnya kenyang, entah itu setelah diundang makan-makan di suatu acara sastra terkemuka lalu mulai berguyon tentang kesusatraan yang merdeka tanpa tujuan mengisi perut. Jiwa yang kita memiliki tentu membutuhkan nutrisi yang bergizi, puisi salah satu gizi yang doyan dinikmati. Gizi berfungsi memendam nilai di dalamnya, jika pada makanan bisa berupa nilai nutrisi, nilai protein dan sebagainya.

Kalau Anda menelan pil untuk mengobati sakit kepala misalnya maka dorongan perhatian dokter lewat kata-kata sugestifnya (meski tak terlalu nyastra) toch sedikit banyak membantu Anda semangat untuk sembuh. Kasih sayang suatu bahasa dapat meredakan emosi yang meluap, kekecewaan dan kepedihan selama menjalani kehidupan dapat sedikit kendur jika ketika si pesakitan mau membuka corong mata dan jiwanya demi mengenali ada ribuan dan bahkan jutaan peristiwa lebih mengerikan yang di alami banyak orang di luar sana.

Anda mungkin pernah membaca Sarajevo-nya Goenawan Mohammad, atau Anda lebih suka puisi yang ditulis penyair yang turut berperang, atau bahkan Anda tidak suka perang sehingga tidak mengenali perang sesungguhnya selalu dengan gencar terjadi di dalam diri Anda. Dalam kehidupan yang tanpa sadar kita jalani ini, kita bangga-banggakan ini, perang terus berlangsung. Perang melawan hawa nafsu, perang yang lebih besar dari perang Badar masa Rasullullah sebagaimana yang diriwayatkan kitab-kitab agama Islam, atau perang modern di film-film Star Trex misalnya, perang dunia robot.

Replika perang yang sesungguhnya sedang mengajak kita dalam memaknai kehidupan, melayat nilai-nilai kemanusiaan kita yang kerap terkubur oleh nafsu keduniaan.Penyair mengetuk lewat puisi-puisinya, kaum agamawan mengetuk dengan khutbah-khutbah dan ceramahnya, para pemimpin mengetuk dengan peraturan-peraturannya untuk seluruh rakyat yang jika ia mencintainya, para ibu mengetuk si anak yang sakit dengan dongengan tentang binatang yang kelewat licik agar si anak melupakan rasa sakit yang diderita. Seorang penyanyi justru bertanya pada rumput yang bergoyang, jika dirasa olehnya manusia sudah bukan tempatnya lagi untuk bertanya apa sesungguhnya nyanyian-nyanyian kehidupan. Sastra sangat luas, sampai begitu luasnya namun masih ada di antara jutaan ribu pembaca yang masih sesat, seperti membaca puisi yang tak bertenaga seperti berangkat naik bus di jalan mulus menembus waktu namun tak ada yang turun satupun tak ada yang sampai kemanapun, sebab puisi semacam ini nyaris lembek tanpa alamat.

Melayat kemanusiaan kita adalah ibadah hablum minnannash, banyak pahala di sana bahkan langsung terasa di dunia nyata. Orang-orang sesama pencinta sastra memiliki ketentraman yang sama sebab tak saling melanggar dan memperkosa keindahan masing-masing mereka. Keindahan yang sejatinya tidak bisa dimiliki sendiri-sendiri. Keindahan kesusastraan puisi itu. Maka menulislah agar semua selamat, tidak penyairnya saja, tidak para penerbit buku saja, pencetak majalah dan koran saja. Semua orang ingin selamat dari kematian kemanusiaan yang masih bisa ia hidupkan. Hidupkanlah kesusastraan di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Salam sastra.

*) Penulis adalah pencinta seni sastra puisi, pemerhati manusia dan pengajar kesusastraan pula di lembaga pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas, juga perguruan tinggi di daerah, Langsa dan sekitarnya.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/