Rorongo

Asep Yayat
http://www.suarakarya-online.com/

Hari makin beranjak siang. Tamu terakhir baru saja keluar. Sekretaris sudah menginfokan bahwa tak ada lagi tamu yang harus saya hadapi. Maka saya pun mulai memeriksa setumpuk dokumen yang tadi disorongkan sekretaris untuk saya tanda tangani.

Tapi belum juga saya menggoreskan satu tanda tangan pun, ponsel yang saya taruh di atas meja kerja menggemakan nada panggil. Dalam ruang senyap yang kini hanya dihuni saya seorang, nada panggil itu terdengar demikian nyaring.

Di layar ponsel itu tertulis nama istri saya, Noedonto, selaku pemilik nomor telepon yang memanggil. Saya memencet tombol receive calls. Dan begitu ponsel menempel di telinga, suara Noedonto di seberang sana seketika menghambur.
“Halo, Pah! Bagaimana?” “Bagaimana apanya?”
“Pak Berehan sudah nelpon?”

Saya menarik napas panjang. Tak berselera meladeni omongan Noedonto. Saya sudah bisa menebak ke mana arah bicaranya. “Belum,” kata saya kemudian. “Atau mungkin dia tidak akan menelepon.”
“Ah, coba Papah yang menelepon dong! Papah jangan cuma diam menunggu.”
Saya lagi-lagi menghela napas. “Buat apa?”
“Lha, Papah ini bagaimana? Mama kan sudah bilang, mintalah sesuatu. Pak Berehan akan mengabulkan …”
Saya diam. Oh, intimidasi itu kembali menghujam.

“Pah! Bilang sama Pak Berehan: kita minta dibelikan apartemen! Lengkap dengan perabotan luks, termasuk pesawat televisi ukuran jumbo plus home theater system. Lokasi apartemennya jangan di daerah pinggiran, tapi minta yang di daerah elite seperti Kuningan atau Senayan. Minta pula mobil terbaru. Mobilnya Alphard saja, seperti banyak dipakai orang top di Jakarta ini.”

Saya tetap diam. Dada serasa sesak. Sebagai birokrat, gaji saya sebenarnya terbilang memadai. Tapi untuk beli apartemen plus mobil mewah, saya angkat tangan. Tabungan saya tak akan mencukupi. Namun masak karena itu saya mesti menjatuhkan martabat dan integritas pribadi dengan meminta orang membelikan sesuatu yang tak mampu saya jangkau? Lagi pula, tak pernah tebersit keinginan memiliki apartemen ataupun kendaraan mewah.

“Permintaan itu tidak berlebihan kok, Pah. Proyek yang diincar Pak Berehan kan bukan kelas ecek-ecek, tapi kelas jumbo. Jadi, wajarlah kita minta apartemen dan mobil sebagai success fee,” tutur Noedonto.

Saya tetap diam. Kepala terasa pening. Noedonto dalam beberapa hari terakhir menjadi mengesalkan sekaligus memuakkan – karena omongan itu-itu terus yang dia jejalkan kepada saya. Yang membuat saya muak, Noedonto sudah tak mengindahkan lagi tata krama. Saya, lelaki yang telah menjadi suaminya selama 25 tahun lebih, kini dia perlakukan bak kacung. Dia seenaknya saja memberi perintah dan mendikte-dikte saya.
“Pah! Kok diam? Papah denger Mamah, gaaaak?”
“Hmmm …” Mau tak mau saya harus memberi reaksi agar kemarahan Noedonto tidak terpantik.

“Ingat lho, Pah. Jangan sungkan! Lumrah kok minta success fee. Apalagi Pak Berehan kan teman lama Papah. Jadi, ayolah, Pah! Jangan kecewakan Mamah ….”
Lagi-lagi saya harus bereaksi. Tapi, seperti tadi, reaksi saya cukup bergumam ala kebo kebelet: “Hmm …”

“Pokoknya Papah harus singkirkan segala keengganan. Papah harus yakin bahwa permintaan seperti itu wajar dan lumrah. Teman-teman Papah di kantor juga pasti biasa berbuat begitu.”
“Hus! Mama tidak patut ngomong begitu.”
“Lah, Papah! Apa Papah yakin bahwa kolega-kolega Papah lurus-lurus saja seperti Papah?”

Saya merasa kian pening. Noedonto sungguh menjadi rorongo. Ingin rasanya membanting ponsel atau berteriak memaki. Biar Noedonto tahu saya sungguh-sungguh muak.

* * *

Terus-terang, saya menyesal telah bercerita kepada Noedonto perihal Berehan – teman lawas yang kini menjadi pengusaha papan atas – belum lama ini menelepon saya. Berehan khusus menelepon untuk meminta bantuan saya: mengawal perusahaannya agar bisa tampil sebagai pemenang tender proyek pembangunan gedung baru di institusi tempat saya mengabdi sebagai birokrat.

Permintaan itu membuat saya kaget sekaligus bingung. Kaget, karena saya tak mengira bahwa Berehan ambil bagian dalam tender proyek bernilai hampir satu triliun rupiah itu. Saya juga bingung karena bagi saya permintaan Berehan sungguh musykil. Ya, karena proyek itu menjadi sorotan banyak pihak, sehingga sekecil apa pun “permainan” jelas menjadi sangat riskan.

Tapi riskan ataupun tidak, tindakan mengawal – atau apa pun namanya – sebuah perusahaan agar jadi pemenang tender adalah tidak patut. Curang! Tindakan itu juga jelas menuntut saya harus menggadaikan integritas yang selama ini saya bangun dengan susah-payah.

Karena itu, secara halus saya menolak permintaan Berehan. Tapi, seperti sudah saya duga, Berehan tak menyerah begitu saja. “Kamu jangan naif! Kamu punya posisi strategis. Sebagai pejabat eselon satu, kamu tentu punya akses, juga punya pengaruh kuat di lingkungan kerjamu. Omonganmu pasti didengar. Jadi, bagi kamu, panitia lelang tak sulit diatur-atur dan diarahkan!”

Saya kecewa bahwa Berehan punya pandangan seperti itu. Tapi justru itu pula, saya pun makin gigih menolak permintaannya. Berehan sendiri tetap berkukuh mendesak. Akhirnya, sampai percakapan via telepon itu berakhir pun, kami tetap bersimpang jalan. Tapi saya menduga bahwa Berehan pasti menelepon lagi dalam kesempatan mendatang. Sebagai teman karibnya di masa lalu, saya tahu persis watak dia: pantang menyerah!

Dugaan saya tidak keliru. Beberapa hari kemudian Berehan menelepon saya lagi. Kali ini dia minta saya bertemu muka dengannya di suatu tempat. Dia beralasan: “Masak kita berinteraksi melulu via telepon atau lewat facebook. Sesekali kita perlu bersua muka agar pertemanan kita tetap hangat seperti zaman kita di SMA dulu.”

Saya meyakini, ajakan itu lebih merupakan upaya Berehan untuk menaklukkan saya agar memenuhi permintaannya. Maka saya pun menyepakati ajakannya. Maksud saya, dengan bertemu muka, saya bisa lebih menegaskan sikap bahwa saya tidak sudi merecoki urusan yang bukan tanggung jawab langsung saya.

Maka setelah bersepakat, pada suatu siang kami pun bertemu di sebuah restoran. Tapi dugaan saya bahwa Berehan akan berupaya mendesak saya agar memenuhi permintaannya ternyata keliru. Sama sekali di luar perkiraan, Berehan tak menyinggung sedikit pun soal tender. Dia lebih banyak mengungkit kenangan manis kami dalam merajut persahabatan semasa di SMA dulu.

Pertemuan itu sendiri, yang hanya dihadiri kami berdua, berlangsung sekitar setengah jam saja. Dengan alasan ditunggu urusan penting, Berehan pamit ketika saya belum berkesempatan menegaskan sikap saya menolak permintaannya soal merecoki proses tender.

Nah, sebelum beranjak pergi, Berehan menyerahkan sebuah kado yang dibungkus dengan indah. “Ini tanda persahabatan kita. Tolong diterima … ” katanya.

Setiba kembali di kantor, saat kado itu dibuka, saya tercengang. Betapa tidak, karena isi kado adalah sepasang jam tangan mewah plus amplop berisi uang dalam pecahan dolar Amerika senilai 50.000. Waw!

Saya segera berkesimpulan bahwa itu pasti berkaitan dengan kepentingan Berehan menaklukkan saya. Kado itu niscaya merupakan jerat untuk membuat saya bisa dia perlakukan bak kebo dicucuk hidung.

Karena itu, dengan rasa kesal bercampur marah, keesokan harinya – ketika hari sudah larut – saya menemui Berehan di rumahnya. Kado pun saya kembalikan.

Berehan kelihatan tidak senang. Saya tak peduli. Saya tak sudi coba diperlakukan bak kebo dicucuk hidung. Meski begitu, saya tetap berusaha agar pertemanan kami jangan sampai menjadi rusak.

Boleh jadi Berehan pun berpikiran sama. Dia kelihatan segera membuang rasa tidak senangnya, kemudian mati-matian meminta saya membawa pulang kado. “Apanya yang salah aku ngasih kamu kado? Ini tanda persahabatan kita! Tolong hargai keinginan baikku,” ujarnya.

Namun saya tak mau kendur. Sikap saya tak goyah sedikit pun. Tetap menolak kado. Maka, untuk beberapa saat, kami saling berkukuh pada sikap masing-masing.

Suasana tidak enak itu akhirnya sedikit cair karena Berehan mengalah. “Tapi kapan pun perlu bantuan, kamu jangan ragu ataupun sungkan bilang kepadaku. Aku, sahabatmu, selalu siap membantumu,” katanya. Saya merasa kalimat terakhir, yang mendapat penekanan khusus, lebih merupakan sindiran atau bahkan intimidasi.

Setelah kejadian itu, Berehan sempat beberapa kali menelepon saya. Lagi-lagi dia memohon bantuan agar saya mengawal perusahaannya. Namun saya bergeming.

Rangkaian kontak dengan Berehan itu pula yang kemudian saya ceriterakan kepada Noedonto. Darinya saya berharap dukungan moral. Saya butuh peneguhan bahwa integritas pribadi memang harus dipertahankan mati-matian. Saya juga perlu masukan Noedonto untuk menjaga pertemanan saya dengan Berehan tidak menjadi rusak.

Namun ternyata saya keliru. Sikap Noedonto sama sekali di luar dugaan. Selain menyesalkan sikap saya menolak kado, dia justru meminta saya menyanggupi permintaan Berehan! Bagi dia, permintaan itu peluang emas untuk meraih mimpi yang diam-diam dia pendam: memiliki apartemen dan kendaraan mewah.

“Mantu kita belum punya mobil. Kasihan anak dan cucu kita. Ke mana-mana bisanya cuma naik motor. Jalan ke mal saja mereka harus kepanasan atau kehujanan. Jadi, mobil Terrano kita yang sudah uzur itu biar buat mereka saja. Untuk gantinya, kita minta mobil baru kepada Pak Berehan,” kata Noedonto beralasan.

Dia melanjutkan omongannya: “Mamah juga pengen kita punya apartemen. Buat investasi, Pah. Dua tahun lagi Papah pensiun. Kalau Papah pensiun, apartemen itu kita sewakan, jadi kita tetap punya penghasilan ….”

* * *

Dua minggu berlalu sejak kali terakhir Berehan menelepon. Saya merasa lega karenanya. Namun di sisi lain saya justru makin tertekan oleh sikap Noedonto yang tak bosan-bosan mengindoktrinasi saya supaya merangkul Berehan dan membangun kolusi.

Seperti pagi ini: sebelum saya berangkat ke kantor, dia lagi-lagi mengindoktrinasi. “Sudahlah, Pah. Buang keraguan itu! Mantapkan saja! Telepon Pak Berehan sekarang. Bilang kepadanya bahwa Papah siap membantu kepentingan dia. Lalu Papah katakan terus-terang: minta dibelikan apartemen plus sebuah tunggangan terbaru …”
Saya menghela napas. Kesal dan jengkel.
“Ayo, Pah! Mantapkan hati,” Noedonto mendesak.

Saya menatapnya beberapa jenak. Saya merasa sudah tidak tahan lagi. Saya ingin muntah. Saya juga ingin berteriak keras. Ingin memaki. Tapi yang keluar dari mulut saya malah nada lemah: “Baiklah ….”

Dengan perasaan sangat berat, saya kemudian mengeluarkan ponsel. Terus memencet menu phone book serta kemudian melakukan dialing.

Noedonto terlihat berbinar-binar ketika saya menunggu sambungan telepon terhubung.

“Halo …” suara di seberang sana sangat saya hapal. “Tumben nelpon pagi-pagi begini. Mudah-mudahan ini kabar gembira,” katanya lagi.

Saya menelan ludah. Sekadar memantapkan diri. Kemudian kata saya dengan suara bergetar: “Maaf, Pak. Mulai hari ini, jam ini, detik ini saya mengundurkan diri. Suratnya segera saya susulkan hari ini juga.”

Saya yakin, di seberang sana Pak Baliut, atasan saya di kantor, melongo. Bengong. Saya juga melihat Noedonto mengernyit tak mengerti. Tapi masa bodoh! Saya justru merasa lega karena terbebas dari rorongo.***

* Jakarta, 12 Juni 2011

Catatan:
Rorongo (Sunda) secara harfiah berarti laron. Tapi dalam keseharian, rorongo acap digunakan sebagai kiasan atas situasi/kondisi yang merongrong dan menekan.