Puntung Rokok Buntung *

Gandis Uka

Bulan pecah di dada Martono, Hari-hari Martono yang tidak jelas semakin suram, kesuraman itu ia rasakan bagai diskotik yang selalu lolos dari obraan Satpol PP, dalam kenikmatan itu ia isi dengan mabuk-mabukan, musik-musik koplo dan tentu saja ia mengundang Sumi sebagai bintang penari ‘Strip’ yang sensasional, jika sudah demikian ia akan tertawa bahagia bagai raja penguasa padang sahara. Tidak ada orang lain dalam diskotik itu kecuali Martono dan Sumi. Continue reading “Puntung Rokok Buntung *”

Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi

Ditulis ulang: Leila S. Chudori
tempointeraktif.com

Dalam usia 70 tahun pekan lalu, wartawan sejak sebelum perang ini mengenang banyak hal. Dari “zaman keemasan pers Indonesia”, hubungannya dengan Bung Karno, sampai bagaimana menjaga semangat dalam sel penjara.

Dialah wartawan Indonesia yang banyak memperoleh penghargaan internasional. Antara lain Hadiah Ramon Magsaysay dari Filipina, dan Pena Emas dari Federasi Pemimpin Redaksi Sedunia. Sastrawan yang juga banyak meraih hadiah ini, yang mendirikan majalah sastra Horison, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta ini bertutur tentang semua itu kepada Leila S. Chudori. Continue reading “Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi”

Kidung, Pencapaian Khas Majapahit dalam Sastra

Yurnaldi
http://ramadhan.kompas.com/

Di zaman Kerajaan Majapahit karya sastra yang digubah para pujangga-agamawan berkembang dengan semarak. Beberapa karya sastra penting yang disusun zaman itu adalah Nagarakrtagama, Arjunawijaya, dan Sutasoma.

Ada juga Pararaton, yang digubah dalam zaman yang lebih kemudian, tapi masih mengacu kepada kemegahan Majapahit. Namun, bentuk pencapaian yang khas Majapahit dalam bidang karya sastra adalah gubahan kidung. Continue reading “Kidung, Pencapaian Khas Majapahit dalam Sastra”

Saling Menghargai, Mengapa Tidak?

Mahmud Jauhari Ali
Radar Banjarmasin

Saya masih teringat dengan kata-kata guru saya di Sekolah Dasar dulu, “Kita harus saling menghargai satu sama lain!”, kalimat itu masih saja mengiang di telinga saya sampai saat ini, walaupun sudah sangat lama. Kita memang harus menghargai orang lain jika kita ingin dihargai pula oleh orang-orang di sekeliling kita. Jadi, kata-kata guru saya tadi adalah benar. Teringat dengan masa lalu saya itu membuat saya berpikir soal harga-menghargai antara sastrawan dan pemerintah di provinsi ini. Continue reading “Saling Menghargai, Mengapa Tidak?”

Bahasa »