Bedah Buku “Surat Berdarah untuk Presiden”

http://koranmuslim.com/

Bertempat di Ruang Publik Lantai 1 Gedung Perpustakaan Kampus B Universitas Airlangga Surabaya, Senin (16/5) lalu Migrant Institute Sahabat Pekerja Migrant mengadakan acara Bedah Buku “Surat Berdarah untuk Presiden”. Tampil sebagai pembedah yakni Drs Gitadi TS, Msi (Pakar Kebijakan Publik), Dra Sastri Y Bakry, Akt, Msi (Sastrawati), Pipiet Senja (penyunting buku Surat Berdarah untuk Presiden yang juga novelis) dan Prapti Banjar (eks TKI Hong Kong).

Prapti Banjar membuka acara bedah buku dengan membacakan “Surat Berdarah untuk Presiden”, salah satu judul naskah yang ditulis oleh Jaladara mengenai penderitaan Minah, pembantu rumah tangga asal Blitar yang bertugas mengurus anjing herder sebanyak lima ekor di mana anjing itu diperlakukan lebih terhormat daripada Minah itu sendiri.

Dalam paparannya Pipiet Senja menjelaskan bahwa buku “Surat Berdarah untuk Presiden” lahir setelah diadakannya workshop menulis selama sebulan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong. Naskah yang masuk ke Dompet Dhuafa Hong Kong sebanyak dua ratus buah judul dan setelah diseleksi akhirnya terpilihlah tiga puluh enam judul yang dibukukan dalam dua bagian. Bagian pertama memuat dua puluh satu judul yang dibingkai dalam Hong Kong Negeri Seribu Kisah BMI dan bagian kedua “Surat untuk Presiden” yang memuat lima belas judul.

Sastri Bakry seorang Sastrawati datang jauh dari Padang ditengah kesibukannya sebagai Sekretaris Dewan membuktikan kepeduliannya terhadap berbagai macam persoalan yang menimpa Buruh Migran Indonesia. Uni Sastri yang ikut dalam workshop penulisan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong bersama Pipiet Senja mengemukakan bahwa dalam penulisan Buku Surat Berdarah untuk Presiden tidak menggunakan metode tertentu karena inti dari penulisan buku itu adalah menyuarakan isi hati TKI Hong Kong yang selama ini terpendam. Buku ini masuk dalam kategori Kisah Inspiratif karena cerita yang ada setelah kita membacanya akan membuat kita terinspirasi untuk melakukan sesuatu untuk TKI.

Drs. Gitadi Tegas Supramadyo, M.Si, Dosen Pasca Sarjana Universitas Airlangga yang juga Pakar Kebijakan Publik mengelompokkan isi buku dalam beberapa macam tuntutan/ gugatan / hujatan para penulis terhadap adanya berbagai kebijakan pemerintah diantaranya: Asuransi TKI, UU No 39 tahun 2004, Terminal khusus TKI, potongan gaji tujuh bulan, target pengiriman TKI ke Luar Negeri yang dicanangkan pemerintah juga mengenai permasalahan underpayment yang masih saja berjalan.

Gitadi tidak setuju menyebut pekerja rumah tangga sebagai TKW karena dari nama itu saja sudah terasumsikan hal-hal yang buruk, rendah dan merendahkan sekali martabat perempuan. Gitadi lebih setuju menggunakan istilah BMI sebagai pengganti istilah TKW.

Sumber 23 May 2011: http://koranmuslim.com/2011/bedah-buku-%E2%80%9Csurat-berdarah-untuk-presiden%E2%80%9D/