Geliat Sastra Migran di Negeri Jiran

Anaz
http://www.kompasiana.com/anazkia

“Katakan Cinta, Dengan Aksara” begitulah, tema seminar kepenulisan yang diadakan di KBRI tiga hari lalu, sabtu 9 april 2011. Dengan pembicaranya adalah, Teh Pipiet Senja, serta dimoderatori oleh Pak Alwi Alatas. Acara yang dilaksanakan oleh FLP Malaysia, bekerja sama dengan KBRI dan SIK (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) berjalan sangat meriah. Dihadiri oleh ratusan peserta, baik dari kalangan mahasiswa, ibu rumah tangga, para siswa SIK juga sebagian di antaranya adalah para tenaga kerja, baik TKI maupun TKW.

Melihat lebih jauh tentang sepak terjang Teh Pipiet, terutama tentang kepedualiannya kepada para buruh migrant terutama ketika di Hongkong tahun lalu membuatku berharap, kalau kehdairannya mampu membius kami, para buruh migrant di negeri jiran untuk lebih giat lagi dalam menulis. Tak hanya menulis, tapi juga menerbitkan buku. Ketika acara seminar bermula dan Teh Pipiet satu demi satu membeberkan rahasia kepenulisannya sebagian di antara kami mulai serius mendengarkan. Pun ketika tanya jawab, antusiasme dari penanya datang silih berganti. Mulai dari Ibu rumah tangga, mahasiswa dan tenaga kerja.

Makalah yang diberikan Teh Pipiet tentang “Menulis Yoook” Tak menjadikan di antara kami puas begitu saja. Diskusi berjalan santai, dimoderatori langsung oleh Pak Alwi, mantan ketua FLP Malaysia, sekaligus mahasiswa PhD di salah satu Universitas Islam UIAM (Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia)

Menulis, menuliiiissss… Mengalir, mengaliiiiir!

Begitulah kata Teh Pipiet dalam makalahnya. Sayangnya, buat kita-kita yang masih belajar teori menulis dan menulis justru menjadi beban. Seolah hilang kendali, saat kita baru memulai untuk menulis. Lanjut Teh Pipiet, untuk lebih memudahkan supaya ide terus mengalir, ketika menulis kita harus sudah mempunyai gambaran, tentang apa dan bagaimana tulisan yang akan kita buat. Empati yang tinggi kepada lingkungan sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis. Karena tak hanya melihat, tapi juga membaca dengan apa yang kita lihat. Kalau melihat anak kecil sebagai pengamen, jangan cuma merasa kasihan, tapi galilah cerita di balik kehidupan pengamen cilik itu. Apa dan kenapa sebab pengamen kecil itu berada di pinggir jalan, bukan pada bangku sekolahan yang semestinya itulah yang harus digali.

Obsesi itu penting

Selain menulis, menulis dan menulis, dalam prakteknya, kita juga membutuhkan obsesi, kata teh Pipiet, inilah modal utama bagi seorang penulis. Menulis dari hal-hal kecil, yang terdekat dengan diri kita, ada kalanya lebih mudah. Tak harus menulis hal-hal yang njlimet dan nyastra yang kita sendiri tak tahu artinya. Pun untuk sekedar menulis untuk surat pembaca. karena menurut teh Pipiet, beliau mengawali tulisan-tulisannya pada rubrik surat pembaca di surat kabar.

Tiga jam bersama Teh Pipiet, sepertinya begitu cepat. ketika sesi door prize digelar, Teh Pipiet pergi ke bawah untuk mengunjungi shelter yang berada di belakang kantor KBRI. Melihat para TKW bermasalah yang ada di sana. Duh, teh Pipiet, selalu peduli dengan keadaan para tenaga kerja.

Teringat dengan tantangan Teh Pipiet, saat-saat sesi terakhir, tantangan untuk kami mengirimkan tulisan-tulisannya ke beliau, kemudian siap dibukukan. Berharap, akan ada karya-karya dari para buruh migrant di negeri jiran. Ketika selama ini kita mendengar karya buruh migrant didominasi oleh para pekerja Hongkong, Taiwan dan Singapura, semoga para buruh migrant di Malaysia dapat mengikuti jejak-jejak para buruh migrant di negara lainnya.

12 April 2011