Ikhtiar Jiwa Melestarikan Bangsa

Muhammad Subarkah
Republika, 28 Juni 2011

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala

BAIT syair “Dengan Puisi Aku” yang pernah populer dinyanyikan Bimbo tertempel di sebuah dinding mushala mungil yang menghadap lereng Gunung Merapi dan Singgalang. Dari kejauhan, terlihat kabut yang mulai turun. Angin terus melunak. Udara berubah dingin.

“Ya inilah rumah kedua saya,” kata sang penulis syair itu, Taufiq Ismail. “Di kompleks Rumah Puisi ini ada mushala, perpustakaan, ruang pertemuan, sedangkan di sebelahnya ada Rumah Budaya milik Fadli Zon,” ujarnya lagi. Taufik bercerita tentang Rumah Puisinya pada awal Juni lalu. Lokasinya tak jauh dari kampung kelahirannya yang hanya delapan kilometer dari Kota Bukittinggi. “Istri saya, Ati, yang memeloporinya. Pada suatu hari, dia bertanya siapa yang akan membaca koleksi buku dan puisi saya setelah meninggal? Nah, dari situlah muncul ide membuat Rumah Puisi,” kata Taufiq.

Pada sisi lain, lanjut Taufiq, pendirian rumah ini juga sebagai upaya konkret untuk melawan amnesia orang Indonesia akan bahasa dan sastra Indonesia. Apalagi, dia pun mendengar bila saat ini mata pelajaran bahasa Indonesia di mata siswa sekolah menjadi ‘hantu’ dalam Ujian Nasional (UN). “Bayangkan, mereka yang tak lulus UN itu bukan karena jeblok nilai matematika atau bahasa Inggrisnya. Mereka tak lulus karena buruk nilai ujian bahasa Indonesia,” ujar Taufik sembari geleng-geleng kepala.

Pada kenyataan lain, mundurnya kemampuan berbahasa tersebut semakin nyata ketika satu per satu ikon sastra Indonesia terancam masuk ke ‘liang kubur’. Majalah sastra Horison yang sudah memasuki usia lebih dari empat dasawarsa, kini terancam gulung tikar. Taufik yang juga selalu menjadi salah satu pengelolanya menyatakan oplahnya tinggal 2.000 eksemplar saja.

“Belum lagi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang juga terancam bubar. Kita sedih sekali atas adanya kenyataan tersebut. Padahal, koleksi karya sastra yang ada di sana luar biasa. Tapi, itulah kita. Semuanya tampaknya mulai rabun akan arti pelestarian bahasa nasionalnya sendiri,” ujar Taufiq.
***

Berangkat dari kecemasan atas munculnya amnesia terhadap bahasa dan sastra Indonesia itulah, di ujung senja hidupnya, Taufiq yang juga sebagai penerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta ini memutuskan untuk membuat sesuatu di kampung halaman, yakni mendirikan Rumah Puisi. Pendirian bangunan ini didanai dari hasil kerja kreatifnya selama berkecimpung di dunia sastra. “Sebagian uangnya juga dari dana penghargaan yang didapat dari Habibie Award,” katanya.

Melalui Rumah Puisi itulah, dia kemudian membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar sekaligus mengenal khazanah sastra. Salah satu hasilnya terlihat dengan munculnya serombongan siswa sekolah dari Perguruan Putri Diniyyah Padang Panjang yang pada awal Juni lalu itu menyambanginya. Melihat kedatangan mereka, Taufiq pun terlihat begitu antusias menyambutnya.

“Assalamualaikum apa kabar?” katanya. Puluhan remaja putri itu segera menyambut salamnya dengan antusias seraya bergantian bersalaman. Taufiq kemudian mempersilakannya masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian bercerita panjang lebar mengenai berbagai karya sastra yang tersimpang di rak perpustakaannya dan aneka kutipan bait puisi yang terpasang di dinding rumahnya.

“Itu kutipan pernyataan Marilyn Monroe. Dia mengaku tak suka kepada pembuat puisi, tapi suka pada lelaki yang suka pada puisi,” kata Taufiq sembari tersenyum kecil. Dia kemudian bercerita bahwa si artis itu tak suka kepada penulis puisi karena yang dimaksudnya sebagai lelaki penyuka puisi adalah pacarnya, yakni Presiden AS John F Kennedy.

Nah, selain bertemu dengan para siswa, sehari sebelumnya Taufik juga menerima kunjungan para guru bahasa Indonesia dari Kota Padang Pariaman. Saat itu, terjadi diskusi yang hangat mengenai cara mengajar bahasa Indonesia dengan baik dan tidak membosankan peserta didik. “Tak berbeda dengan siswanya, para guru juga harus banyak membaca. Ajarilah anak didik Anda mengemukakan pikiran dengan bahasa Indonesia. Jangan terpaku pada soal tata bahasa,” katanya.

Pada kesempatan itu, dia kemudian membuka hasil penelitiannya mengenai suasana pengajaran bahasa di sekolah yang ada di Indonesia. “Di sekolah Indonesia, murid diajar tidak membaca karya sastra. Ini jauh berbeda dengan sekolah di Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Jepang, bahkan sekolah zaman Belanda kita sekalipun.”

Bagi sebagian kecil kalangan, terutama yang selama ini meminati bidang sastra, ungkapan Taufiq itu memang bukan barang baru. Tapi, sebagian besar lainnya, terutama para guru bahasa Indonesia, kenyataan ini memang sangat mengagetkan. Apalagi, dalam diskusi itu, ternyata diketahui bila di sekolah-sekolah memang masih jarang yang mempunyai perpustakaan sekolah.

Ketiadaan sarana perpustakaan yang memadai diakui sastrawan dan budayawan, Ajip Rosidi. Padahal, tersedianya buku sastra itu menjadi hal yang pokok ketika mencari acuan mengenai penggunaan bahasa yang benar. “Di sekolah-sekolah, memang kita tidak ada perpustakaan yang lengkap. Kalaupun ada, koleksinya pun bukan buku-buku sastra. Ini karena penyediaan buku oleh pemerintah untuk sekolah itu tidak berdasarkan mutu buku itu. Tapi, berdasarkan pada komisi proyek buku itu berapa besarnya?” kata Ajip.

Terjadinya kekosongan pengajaran bahasa Indonesia yang baik itulah yang dicoba disiasati oleh Taufik bersama Fadli Zon yang dengan ‘berbaik hati’ bersedia mendirikan Rumah Budaya di Kampung Aie Angek, Kecamatan Sepuluh Koto, Tanah Datar, Sumatra Barat. Keduanya terus berusaha melestarikan salah satu fondasi bangsa, yakni bahasa Indonesia.

“Selain menjadi Rumah Puisinya Pak Taufik, rumah budaya kami juga diniatkan sebagai tempat penyemaian budaya Minangkabau. Kami paham potensi di sini luar biasa. Jadi, kami tingggal memberi wadah sebagai sarana ekspresinya saja,” kata Fadli Zon.

Dengan puisi aku mengutuk
Napas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

http://cabiklunik.blogspot.com/2011/06/teraju-ikhtiar-jiwa-melestarikan-bangsa.html