Membaca Thendra Berkaca pada Chairil

Dwi Pranoto

Kutipan dua baris pernyataan Chairil Anwar, Aku suka pada mereka yang berani hidup / Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam yang termuat di lembar halaman setelah halaman penerbit – ini berarti sebelum kita berhadapan langsung dengan puisi-puisi dalam kumpulan puisi Manusia Utama (MU) – seolah memberi tahu puisi-puisi seperti apa yang bakal kita baca setelahnya. Benarlah, walaupun tak sepenuhnya, setidaknya pilihan diksi, irama, dan suasana sejumlah puisi dalam MU mengingatkan kita pada beberapa puisi si binatang jalang itu. Continue reading “Membaca Thendra Berkaca pada Chairil”

Religiositas Kiri Camar Putih

Beni Setia *
http://www.lampungpost.com/

Lalu apa yang akan terjadi kalau cadangan minyak Brunei habis serta hibah kesimakmuran berakhir? Dengan apa dan secara apa mereka akan hidup di masa depan?

TERMIN Camar Putih itu merujuk kepada eksistensi Sheikh Mansor bin Sheikh Mohammad, sastrawan Brunei Darussalam. Termin Camar Putih (selanjutnya: CP) itu sebagai penanda kegemarannya akan pantai—biografi antoloji puisi Titik (selanjutnya: T), Neo Edition, Kuala Lumpur, 2007, bersama Adi Swara dan Z.A. Brunai—, Continue reading “Religiositas Kiri Camar Putih”

Laut

Alex R. Nainggolan
http://www.balipost.co.id/

BAGINYA, laut adalah sebuah pemandangan yang tak berujung. Terkadang, begitu luas, ia merasa lega memandangnya. Terlebih lagi di sebuah perjalanan, jarak yang terapung di dalam kapal. Ia akan keluar dari geladak, berdiri di tepi besi sambil memandang laut dari kejauhan. Perjalanan antara dua pulau, jarak yang panjang. Ini kali, sebuah pelabuhan mungkin akan terasa agak lama, sebab ia bersama perempuan, terlalu asik memandang laut. Continue reading “Laut”

Bahasa »