Penulis dan Masyarakat Pembaca

(Tanggapan terhadap Tulisan Syaefuddin)
Mahmud Jauhari Ali
Pernah dimuat di Radar Banjarmasin

Sejak pertengahan bulan September 2008 yang lalu banyak tulisan bermunculan di ruang diskusi tertulis ini. Tulisan-tulisan itu membahas sebuah buku yang berjudul Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan atau lebih dikenal dengan singkatan ESKS di kalangan masyarakat pembaca. Buku ini menurut saya sangat hebat karena dapat menyedot banyak penulis untuk mengupas dan membahasnya. Tercatat sudah genap sepuluh penulis mencurahkan pemikiran untuk kebaikan buku tersebut. Ada penulis yang mengkritik dan ada juga penulis yang berusaha membelanya. Dapat dikatakan buku itu sekarang berada dalam kontroversi.

Dari sekian tulisan yang pernah saya baca di ruang diskusi tertulis ini, ada satu tulisan yang membuat saya kurang berkenan menerimanya, yakni tulisan Syaefuddin. Dalam tulisan itu dikatakan adanya sikap apriori dan tersirat menghakimi serta menelanjangi ESKS dari para penulis sebelumnya. Para penulis sebelumnya bersikap apriori menurut saya tidak benar. Mengapa tidak benar? Karena, para penulis sebelumnya tidak sedang berpraanggapan terhadap ESKS, tetapi sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya dari buku tersebut. Artinya, para penulis sebelumnya sudah membedah isi buku yang diterbitkan Balai Bahasa Banjarmasin itu dan mengetahui kekurangan dan kelebihan yang ada dalam isi dan bagian lainnya. Dengan kata lain, para penulis sebelumnya tidak sedang berhipotesis dalam sebuah penelitian.

Menurut saya para penulis sebelumnya juga tidak sedang mengadili atau berlaku sebagai hakim terhadap ESKS. Mengapa demikian pula? Karena, para penulis sebelumnya hanya mengatakan sebuah kejujuran dari kebenaran yang ada dalam buku tersebut. Salah jika penulis sebelumnya mengatakan bahwa ESKS sangatlah baik karena itu perkataan yang tidak jujur. Para penulis sebelumnya bukan manusia-manusia munafik. Seandainya tidak ada tulisan yang berisi tentang kekurangan ESKS, niscaya tidak akan terungkap kebenaran dalam buku tersebut. Karena itulah, pihak Balai Bahasa Banjarmasin, khususya Syaefuddin seharusnya berterima kasih kepada para penulis sebelumnya yang telah menunjukkan sejumlah kekurangan yang harus diperbaiki tanpa harus membayar.

Sebuah buku memang harus dibedah atau ditelanjangi (saya lebih memilih kata dibedah daripada kata ditelanjangi) untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dalam buku tersebut, termasuk ESKS. Jadi, tidak salah jika para penulis sebelumnya membedah buku ESKS dan membahas kekurangannya. Mengapa kekurangannya yang dibahas? Karena, hal itu demi perbaikan buku yang dibedah tersebut. Sangat naif jika kita hanya membicarakan kebaikan sebuah buku karena hal itu akan membuat kesombongan dalam diri penulis buku yang bersangkutan. Bukankah kesombongan harus kita perangi dan berantas dalam diri kita? Jadi, sebuah buku memang harus dibedah dan karena itulah sekali lagi saya katakan para penulis sebelumnya tidaklah salah mengadakan operasi pembedahan ESKS.

Selain ketiga hal di atas, saya juga kurang berkenan menerima pernyataan Syaefuddin yang menyalahkan para penulis sebelumnya yang menulis di media (lihat paragraf delapan dari tulisan berjudul ESKS, Antara Harapan dan Kenyataan). Bahkan dalam kalimat yang sama, Syaefudiin mengatakan para penulis sebelumnya telah sedikit banyak menulis yang bemuatan pembunuhan karakter tentang ESKS. Kali ini saya benar-benar menghembuskan napas panjang membaca tulisan seorang penulis yang demikian. Duduk bersama untuk bermusyawarah guna kebaikan ESKS memang langkah yang baik, tetapi tidak berarti tulisan berupa kritik adalah hal yang buruk. Tulisan berupa kritik adalah hal yang positif.

Menulis adalah proses kreatif setiap orang untuk mencurahkan ide, pengetahuan, dan perasaannya kepada masyarakat pembaca. Dengan tulisan, kita dapat mencerdaskan masyarakat dari kebodohan. Perhatikan saja, dengan adanya tulisan tentang ESKS di ruang diskusi tertulis ini, masyarakat pembaca dapat mengetahui bahwa ESKS memiliki kekurangan yang harus diperbaiki. Dengan demikian, masyarakat pembaca dapat berhati-hati menggunakan ESKS. Kita harus sadar bahwa tulisan berupa kritik bukanlah tulisan yang harus ditanggapi dengan emosi, tetapi merupakan tulisan yang sangat berguna dan perlu ditanggapi dengan akal sehat demi kemajuan bangsa ini. Contoh lain dari kritik yang berguna bagi masyarakat pembaca dan yang dikritik adalah seperti berikut ini.

Dalam tulisan Syaefuddin terdapat beberapa kesalahan dalam hal penggunaan bahasa. Pertama, pengunaan tanda koma pada judul. Seharusnya antara ESKS dan Antara diberi tanda titik dua bukan tanda koma. ESKS merupakan judul induk dan Antara Harapan dan Kenyataan merupakan anak judul. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, antara judul induk dan anak judul dipisah dengan tanda titik dua. Kedua, pada paragraf kelima terdapat adanya penggunaan kata blog yang memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, yakni laman. Seharusnya kata yang digunakan adalah laman dan bukan blog. Ketiga, pada paragraf kelima terdapat kata nafas yang seharusnya ditulis dengan kata napas (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga hal. 774). Keempat, pada paragraf kesebelas ada penggunaan kata sapaan, yakni kata pak yang ditulis dengan Pak. Seharusnya kata sapaan untuk kata ganti orang ketiga tunggal yang bukan untuk pengacuan tidak ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada huruf awalnya. Jadi, seharusnya ditulis pak Agus Suseno.

Contoh tulisan krtitik di atas memberikan manfaat bagi masyarakat pembaca dan yang orang yang dikritik. Masyarakat pembaca akan mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi mereka seputar penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Jadi, tulisan kritik itu bermanfaat.

Saya menentang keras penyataan Syaefuddin tentang muatan pembunuhan karekter tentang ESKS dalam tulisan para penulis sebelumnya. Mengapa? Karena, tidak ada yang dibunuh. Malahan para penulis sebelumnya menginginkan ESKS menjadi sebuah buku pengetahuan sastra yang benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat. Melalui tulisanlah para penulis sebelumnya memberikan masukan untuk perbaikan buku tersebut. Menurut saya, Syaefuddin telah membalas air teh yang nikmat sekali dengan air bening yang bernoda. Kebaikan para penulis dibalas dengan tuduhan. Akan tetapi, marilah kita sebagai orang yang bijaksana memaafkan kesalahan Syaefuddin ini. Memaafkan kesalahan oang lain tentu lebih baik daripada berkata-kata yang menyakitkan perasaan sesama.

Kembali kepada kata-kata Syaefuddin tentang musyawarah di atas, kita dapat bertanya, pernahkah Syaefuddin mengundang para sastrawan, mahasiswa, penikmat sastra, guru, dosen, dan masyarakat umum untuk bermusyawarah? Sebuah buku, termasuk ESKS seharusnya ada peluncurannya sekaligus pembedahannya dalam sebuah lokakarya yang dihadiri oleh pihak-pihak yang tidak pernah diundahg tersebut di atas. Sepengetahuan kita buku itu langsung dibagikan kepada berbagai pihak tanpa adanya acara peluncuran dan pembedahan. Dengan tidak adanya peluncuran dan pembedahan tersebut, wajar saja jika tidak ada pula duduk bersama dalam satu meja, bermusyawarah, berembuk, berdiskusi demi kesempurnaan karya tersebut (sesuai kata-kata Syaefuddin pada paragraf delapan dalam tulisannya).

Syaefuddin juga mengatakan hal yang tidak enak untuk kita baca, yakni saling menjatuhkan (lihat paragraf ketiga akhir tulisan tersebut.) Sekali lagi saya sarankan kepada orang-orang Balai Bahasa Banjarmasin agar senantiasa berprasangka baik kepada para penulis yang memberikan sumbangan berupa masukan terhadap ESKS tanpa mereka bayar. Bukannya berprasangka bahwa para penulis yang memberikan masukan tersebut ingin menjatuhkan Balai Bahasa Banjarmasin. Jika saya boleh mengatakan, Syefuddin dalam tulisannya sudah melempar isu negatif seperti halnya yang dikatakan oleh Ali Syamsudin Arsi dalam tulisan berjudul Melempar Isu Negatif. Akan tetapi, sebagai orang-orang yang bijaksana, marilah kita maafkan kesalahan Syaefuddin ini. Jangan ada dendam di antara kita. Dendam hanya akan membuahkan rasa sakit berkepanjangan. Akhirnya, marilah pula kita bersama-sama memajukan sastra di Kalimantan Selatan dengan kejujuran dan kebenaran yang dilandasi iman dan takwa kepada Tuhan YME. Bagaimana menurut Anda?

Sumber: http://www.artikelkesastraan.blogspot.com/