Babar Pujangga Sastra di Sore Hari

Dicky
http://suaramerdeka.com/

MENUNGGU waktu berbuka puasa paling cocok adalah berkegiatan. Entah mengupas kitab, jualan, baca-baca buku atau yang pas untuk kalangan muda sekarang ini adalah ngabuburit. Adanya kegiatan itu supaya badan tidak lemas, ngantuk dan agar lapar tidak terasa.

Beberapa anak muda ini paham betul, arti mengoptimalkan waktu supaya bermakna. Selepas shalat Ashar, beberapa anak remaja yang boleh dikata masuk anak baru gede (ABG) mulai memenuhi sebuah ruangan yang tak terlalu luas. Mereka pun langsung duduk di lantai, sambil sesekali bercanda dengan kawan-kawannya. Setelah itu menyempatkan diri membaca buku-buku yang tersusun rapi di rak. Tak berselang lama kemudian, datang seorang lelaki berbadan kecil, rambut kriwil langsung menyapa mereka.

Mereka mendiskusikan tentang seorang pujangga sastra baik luar negeri maupun dalam negeri. Kegiatan itulah yang dilakukan anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Lereng Medini di Pondok Maos Guyub, Jalan Raya Bebengan 221 Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kendal.

Dalam bulan Puasa ini, dari pukul 16.00 sampai 17.30, para sastrawan tersohor akan dikupas. Dari luar negeri sebut saja Ernest Hemingway, Franz Kafka, James Joyce, Haruki Murakami, Goerge Orwel, dan Orhan Pamuk. Sedangkan sastrawan dalam negeri di antaranya, Ahmad Tohari, Marah Rusli, Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta Toer, dan Chairil Anwar.

Minat Baca

Pemilik rambut kriwil itu yang juga pegiat komunitas Heri CS menuturkan, dikumpulkannya anak-anak SMP, SMA dikandung maksud untuk menggerakkan minat baca. Dengan mengenal para sastrawan diharapkan anak-anak akan lebih menyukai karya sastra mereka.

”Seperti Ernest Hemingway, kami kenalkan pada anak-anak sosok dia itu seperti apa. Kepiawaiannya dalam mengolah kalimat yang bagaimana. Pola yang kami babar ini, bukan seperti guru dengan murid melainkan kami mendiskusikan,” tandas Heri.

Mereka pun juga akan mendiskusikan tentang pujangga Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk. ”Belum lama ini beliau memenuhi undangan kami. Nantinya setiap sore tokoh-tokoh itu akan kami diskusikan,” lanjut dia.

Diakui Heri, untuk peminat tidak begitu banyak. Dan baginya jumlah bukanlah sebuah target, melainkan proses. ”Siapa tahu dalam puasa ini banyak yang berminat, kami tentunya senang. Tujuan diskusi ini supaya tahu karya-karya pujangga. Bahkan kami pun sebelum puasa melakukan reading group. Setidaknya untuk menunggu waktu berbuka supaya bermakna,” tandas Heri.

(P – 72) 02 Agustus 2011