Gaya Ungkap Dalam Puisi

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/node/140944

DALAM berbagai percakapan dengan penulis, penyair Wing Kardjo almarhum pernah mengatakan, bahwa menulis puisi sesungguhnya tidak gampang. Apa sebab? Karena menulis puisi tidak semata-mata berurusan dengan sejumlah pengalaman yang hendak kita ekspresikan di atas kertas dengan media kata-kata, akan tetapi juga berurusan dengan bahasa ungkap. Sehubungan dengan itu jelas sudah bahwa menulis puisi perlu kecerdasan, baik dalam mengolah kata maupun dalam mengolah pengalaman yang hendak kita ekspresikan. Pengalaman itu seringkali disebut sebagai pengalaman puitik dengan berbagai variasinya.

Pada zamannya, Wing Kardjo merupakan penyair terkenal di negeri ini. Kumpulan puisinya yang terakhir diberi judul Pohon Hayat: Sejemput Haiku (Forum Sastra Bandung, Mei 2002) ditulis di Jepang. Haiku yang ditulis dalam tiga larik (baris) ini berpola 5-7-5 suku kata setiap lariknya. Ketiga larik tersebut merupakan satu kesatuan imaji. Untuk itu, tak aneh kalau haiku disebut sebagai bentuk padat dari jenis puisi lainnya yang disebut waka atau tanka. Puisi yang demikian itu tumbuh dan berkembang di Jepang, dengan pelopornya antara lain penyair Bash?. Salah satu puisi haiku versi Wing Kardjo bisa kita baca di bawah ini:

BULAN

Kerangka bulan
atas hutan, antara
dahan, hitam!

Lepas dari soal haiku, laman Mata Kata dalam terbitannya kali ini menampilkan sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair Heni Hendrayani. Ketiga puisi tersebut menampilkan benang merah yang sama, bertema religius. Tema religius tentu saja bukan merupakan tema baru dalam penulisan puisi di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia tema yang demikian sudah ditulis orang sejak zaman dulu kala, sebagaimana bisa kita temukan dalam puisi lama yang disebut pantun. Dalam sastra Sunda puisi lama disebut dangding. Salah seorang pujangga Sunda yang terkenal pada zamannya adalah Penghulu Haji Hasan Mustapa. Ia banyak menulis dangding bertema religius yang bersumber dari agama Islam.

Sekalipun tema religius bukan merupakan tema baru dalam penulisan puisi, yang menarik dilihat atau diapresiasi adalah pada gaya ungkapnya. Gaya ungkap inilah yang menyebabkan orang tertarik membaca puisi Amir Hamzah yang lain dengan gaya ungkap pantun, meski napas pantun kita dapatkan dalam puisi Amir Hamzah. Demikian pula gaya ungkap puisi Amir Hamzah sangat lain dengan Chairil Anwar, dan seterusnya. Sebesar atau sekecil apa pun gaya ungkap itu berhasil dikreasi oleh seorang penyair dalam puisi yang ditulisnya, maka ia akan dihargai oleh masyarakat daripada hasil plagiat. Sebab sebagus apapun puisi hasil plagiat tidak akan pernah membuat seorang penyair jadi terkenal, malah tenggelam.

Dalam konteks inilah apa yang disebut dengan pengalaman itu akan menemukan wujudnya pada gaya ungkap yang ditulis oleh seorang penyair dalam puisinya. Dengan demikian maka jelas, bahwa apa yang disebut oleh Wing Kardjo bahwa menulis puisi itu sesungguhnya tidak gampang, karena ia bukan asal tulis. Di dalamnya ada persoalan logika dan kecerdasan intelektual dalam menyeleksi setiap kata yang hendak ditulisnya jadi puisi. Tentang gaya ungkap ini akan diurai lebih lanjut pada Kamis mendatang. (/?PRLM?)***

Sajak-Sajak Heni Hendrayani
JEMURAN

di mana harus aku jemur pakaian yang baru dicuci
jika hujan terus saja turun
sedang jemuran yang kemarin belum juga kering
bau apeknya menyebar ke seluruh ruangan ini

2010

PERCAKAPAN

duduklah bersamaku
agar bisa kupahami makna adaku.
bermula dari buaian,
hingga sampai di ujung waktu.
entah kau tahu atau pura-pura tak tahu
tentang perjanjianku dengan waktu.

kemari temani aku, o bayang pemilik kesetiaan.
katakan padaku tentang hari yang kulalui.
kerikil membuatku tersandung. Jalan lempang
tak membuatku lurus. Terjatuh
dan kembali berdiri, tidakkah membuatmu muak

kau dengar suara itu?
waktu yang berdetak bagai degup jantungku
mengurungku dari delapan penjuru mata angin
menghantarkan ajal dengan langkah pasti.

masihkah kau bersamaku, jika sampai di ujung waktu
sebab sudah kucium harum ajal, seperti harum
bunga rampe yang kutaburkan di pusara
ayahku, belasan tahun yang lalu

2011

SEBAB ENGKAU

sebab Engkau memilihku,
biarkan aku tersungkur di atas sajadah
kumalku. Mendzikirkan asmaMu
pada getar lidahku, pada gelepar jiwaku,
pada cinta yang Kau hujamkan di kalbuku

sebab Engkau memilihku, biarkan sisa waktu
aku habiskan bersamaMu, mengukir asmaMu
di kalbuku: dengan pena yang kucelupkan
pada tinta darahku, dengan air mata , yang aku
endapkan di palung jiwaku. Sebab Engkau

memilihku, ampuni jika kesetiaanku
Kau sangsikan hingga Engkau menguji cintaku
pada tubuh fana yang hina ini. Bukankah Engkau
akan tetap datang walau aku hanya sanggup
merangkak menujuMu diiring alunan angin subuh
yang mewirid asmaMu tiada henti di ruang ini?

2011

Heni Hendrayani lahir di Ciamis, 17 Februari 1966. Rumah Kupu-kupu (Kelir, 2001) merupakan kumpulan puisinya yang pertama. Selain itu, sejumlah puisinya dimuat dalam antologi puisi Bunga Yang Berserak (PT Angkasa, 2003). Sutardji Calzoum Bachri memuatnya di majalah Ceria. Suyatna Anirun di lembaran seni dan budaya Khazanah, HU Pikiarn Rakyat dan Bandung Pos. Saat ini aktif di Komunitas Sastra Lingkar Selatan (KSLS) Bandung.***