Glonggong, Sisi Lain dari Kepahlawanan Pangeran Diponegoro

Jody Setiawan
http://www.riaupos.com/

Namanya sebenarnya Danukusuma. Tapi ia lebih suka dipanggil Glonggong. Ia tidak mengenal ayahnya, Ki Sena, yang menghilang setelah terlibat sebuah pemberontakan yang gagal pada tahun 1810. Ibunya, Wahyuningsih, menikah lagi dengan Suwanda dan kedua kakaknya beralih menjadi tanggung jawab kerabat ibunya. Ia tidak pernah bertemu kedua kakaknya.

Sejak kecil Danukusuma memiliki kegemaran bermain glonggong –tangkai daun (pelepah) pepaya, yang dibentuk menyerupai pedang. Suatu hari, ketika sedang bermain glonggong, Danukusuma mendapatkan nama baru, yang akan melekat padanya seumur hidup, dari penunggang kuda yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro. Akhirnya, bukan hanya menyandang nama glonggong, pedang tangkai pepaya itu juga membuat hidup Danukusuma berbeda (dia mengatakan: tanpa ada glonggong, aku boleh jadi akan seperti ibuku).

Di tengah-tengah keriangan masa kecil, menjalani hidup bermain dan bertanding glonggong, Glonggong diperkenalkan dengan kerasnya kehidupan. Kewarasan ibunya yang terganggu membuat ia dan ibunya tersingkir, dan mau tidak mau ibunya yang sakit menjadi tanggung jawab Glonggong remaja. Tidak ada penjelasan mengenai terganggunya kewarasan ibu Glonggong. Ia diceritakan sebagai sosok yang tidak banyak bicara yang kerjanya menembang setiap hari.

Pada tahun 1825, saat berusia 17 tahun, ketika pemberontakan yang melibatkan Ki Sena gagal dan Suwanda membawa pergi ibu Glonggong (1810), saat itu Glonggong berusia kurang dari 1 tahun), tempat tinggal Glonggong dan ibunya terbakar, ibunya meninggal, dan Glonggong hidup sebatang kara. Menyusul kejadian sedih yang menimpa Glonggong, patok-patok dipasang, sebuah jalan hendak dibuat menerobos pekarangan Nyai Tegalreja, nenek Pangeran Diponegoro. Patok-patok itu kemudian dicabut, korban berjatuhan, puri Nyai Tegalreja terbakar, dan bersama pengikutnya, Pangeran Diponegoro meninggalkan Tegalreja, menuju Selarong. Perang Jawa (Java Oorlog) pun berkobar memecahkan masyarakat Jawa ke dalam 2 kutub. Pertama, memihak Pangeran Diponegoro dan melawan kompeni Belanda; kedua, memihak Patih Danureja (pihak keraton) yang mengadakan perselingkuhan dengan kompeni Belanda.

Dalam situasi genting, huru-hara berdarah, di sela-sela usaha Glonggong menemukan saudara-saudaranya, Glonggong dijebloskan dalam penjara. Di sini ia bertemu Ki Jayasurata yang mengajaknya membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, menggantikan tugas yang pernah diemban Ki Sena dan dua kenalan Glonggong.

Dalam perjalanan menjalankan tugas, Glonggong dihadang gerombolan begal yang dipimpin oleh orang yang sangat dikenalnya. Seperti pendahulunya, Glonggong mencatat kegagalan dalam tugas yang sama.

Perjalanan Glonggong selanjutnya akan membuat ia berhadapan dengan sejumlah kenyataan yang sulit untuk ia terima. Bukan hanya pengungkapan misteri kedua kakaknya yang mengejutkan, tapi juga bagaimana para pendukung Pangeran Diponegoro meninggalkan perjuangan karena lebih memilih kehidupan yang enak dan nyaman sekalipun tetap terjajah. Saat itu, orang-orang yang dikenalnya sejak dari masa kecil hingga Perang Jawa berkecamuk, menggoreskan noda dalam jiwanya. Salah satunya, menggunakan nama Glonggong untuk membalaskan dendam masa lalu yang tak terduga.

Hanya satu yang menjadi tujuan hidup Glonggong setelah semua perkara yang disaksikannya nyaris membuatnya lantak dalam kekecewaan, bertemu Pangeran Diponegoro untuk meluruskan kesalahan yang pernah ia lakukan. 28 Maret 1830, di Magelang, di sebuah tempat yang mengingatkannya pada suatu masa dalam hidupnya yang telah lama berlalu, ia meneteskan lagi air mata yang mengering sejak kepergian ibunya. Apa yang ia saksikan di sana memberi suntikan semangat untuk menulis kisah berjudul Glonggong, yang (kemudian) kita baca dalam novel berjudul Glonggong ini. Glonggong kembali ke Tegalreja, dan baru bisa menuntaskan kisah hidupnya 25 tahun lebih setelah peristiwa Magelang itu dan hampir setahun sesudah mangkatnya Pangeran Diponegoro. Lewat kisahnya, Glonggong berharap siapa saja yang membaca tulisannya bisa memetik pelajaran berharga.

Glonggong adalah novel pertama Junaedi Setiyono, penulis kelahiran Kebumen, 16 Desember 1965. Ia juga telah menulis puisi dan cerpen, yang antara lain dapat ditemukan dalam antologi Kemuning (2005). Glonggong yang diikutkannya dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, terpilih sebagai Pemenang Harapan 1 dari 249 naskah novel yang dinilai.

Membaca novel ini, kita akan menemukan kisah berlatar masa-masa sebelum, sementara, hingga Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk dan berakhir mengenai seorang pengagum Pangeran Dipanegara. Kisah hidup Glonggong dielaborasi dengan lancar dalam plot yang menawan yang bergerak cepat di tengah kesulitan hidup, maraknya intrik politik, dan gairah serta napsu terhadap harta, tahta, dan wanita. Seluruhnya dijabarkan dalam 6 bagian yang diberi judul menggunakan bahasa Jawa, masing-masing: ?Beda-beda Pandumaning Dumadi?, ?Mikul Dhuwur Mendhem Jero?, ?Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati?, ?Cakra Manggilingan?, ?Yitna Yuwana Lena Kena?, dan ?Jer Basuki Mawa Bea?. Dengan latar Jawa yang digunakan, tak pelak lagi, dalam perguliran plot, kita akan disapa dengan sejumlah kosakata Jawa yang artinya dapat ditengok pada bagian glosari di bagian belakang buku.

Dengan plot yang bergulir cepat, dibentangkan menggunakan bahasa yang tanpa kerumitan (di luar kosakata Jawa atau Belanda), pembaca akan menikmati sajian kisah yang tidak menjadi membosankan sampai halaman terakhir berlalu. Penggunaan bahasa yang terbilang sederhana, tanpa bunga-bunga atau metafora segar yang melimpah ruah bisa dipahami mempertimbangkan kisah digelontor dari perspektif Glonggong. Meski bisa baca-tulis, Glonggong tidak pernah diceritakan mengenyam pendidikan formil pada zamannya.

Melalui Glonggong, agaknya penulis hendak menunjukkan jika ia bukan penulis yang murah hati memberikan detail. Ketika apa yang hendak ia sampaikan telah tercetus, ia akan segera melanjutkan kisah guna mencapai tujuan yang dikehendakinya. Hanya, akibat dari teknik ini, ada hal-hal terkesan mengambang, tidak jelas. Seperti keputusan ibu Glonggong menikahi Suwanda dan membiarkan kedua anaknya pergi, tidak ada detail yang sebenarnya perlu mempertimbangkan hal ini berperan penting dalam perjalanan hidup Glonggong selanjutnya. Penggunaan narator yang tidak serbatahu tentu saja bukan alasan untuk mengabaikan detail penting. Meskipun begitu, teknik ini memiliki keunggulan dari sisi lain, yaitu saat Glonggong menarasikan suara hatinya, karena tidak berpanjang lebar, pesannya tidak luncas dan tidak terjebak pada gaya menggurui yang kerap sangat menjengkelkan.***