Ironi Manusia Berutang

Budiawan Dwi S.
Lampung Post, 31 Juli 2011

MANUSIA tidak bisa terlepas utang. Utang membuat hidup manusia terasa terhantui, sengsara, dan memilukan. Namun, utang yang sebagian besar menjadi momok dan dijauhi oleh mereka, ternyata merupakan bagian hidup yang tidak terlepas dari mereka. Artinya, manusia sebenarnya telah mengakrabi utang.

Soren Kierkegaard, filsuf dari Denmark (1813—1855) telah mengalami hal seperti itu. Sejak kecil ia bersama keluarganya telah hidup dalam kemelaratan yang pahit. Maka, untuk mengurangi beban dari keluarga, Kierkegaard mulai meninggalkan rumah keluarganya saat berumur sekitar 24 tahun. Pada saat itu, ia tinggal dan pindah dari satu kamar sewaan ke kamar lainnya. Kehidupannya pun tidak menentu, bahkan bisa dikatakan berantakan.

Ia hidup dalam tumpukan utang.

Namun, utang yang ia tanggung sebagian besar digunakan untuk membeli buku-buku. Dari buku-buku yang ia beli, hidup Kierkegaard tidak merasa berkurang. Ia justru dapat menyelesaikan kuliahnya. Biografi utang Kierkegaard menunjukkan bahwa hidupnya tidak mengalami kekurangan atau penyusutan, tapi malahan sebaliknya. Kierkegaard menjadi kaya akan makna hidup dan keintelektualannya. Bahkan, dari kolektivitas hidupnya, ia mampu memberikan sumbangsih berupa gagasan-gagasan yang berharga bagi umat manusia.

Kisah lain dialami oleh Hussein. Hidup keluarganya sengsara dan dililit utang. Hussein sadar bahwa untuk mengurangi beban orang tuanya, ia harus bekerja. Hussein pun mendapat pekerjaan, tapi permasalahan timbul lagi. Ia harus bekerja di tempat yang jauh dari rumahnya. Ini memerlukan biaya lagi. Mau tak mau ia tetap mencari utang. Dari keadaan itu, maka ia berinisiatif untuk ke tempat kakaknya, Hasan, untuk berutang.

Lalu, Hussein berangkat ke tempat kakaknya. Setelah mengetahui tempat tinggal kakaknya dan bertemu, ketakutan melandanya. Interaksi berjalan alot, penuh kebimbangan dan rasa malu. Inilah kutukan bagi orang yang berutang. Orang akan menjadi lebih inferior. Namun, di sisi lain orang yang diutangi justru menyadari kesulitan orang yang berutang. Hal ini seperti yang terjadi pada kakaknya. Akhirnya Hasan merelakan kalung emas istrinya untuk dipinjamkan pada adiknya. Inilah kisah yang diceritakan oleh Naguib Mahfouz dalam cerpen berjudul Kalung Emas (2002).

Meskipun kisah ini fiktif, dari proses utang inilah rasa kekeluargaan, kepedulian, keakraban, dan sensibilitas seseorang justru terbentuk dan terjalin erat. Kisah Hussein menyimpan berbagai makna dalam kehidupan.

Di sisi lain, gara-gara utang, manusia bisa menjadi serakah, bahkan kehilangan eksistensinya sebagai manusia. Bila merujuk kata-kata Sartre, keadaan itu merupakan maut bagi manusia. Pernyataan itu dapat diketahui lewat sebuah roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (1889-1968).

Intisari dari roman Sitti Nurbaya mengisahkan tentang keserakahan Datuk Maringgih yang kurang suka dengan keberhasilan usaha milik Baginda Sulaiman, ayah dari Sitti Nurbaya. Maka, dengan segala upaya Datuk Maringgih menjatuhkan usaha Baginda Sulaiman dengan cara menyuruh orang untuk membakar tokonya sehingga ia menjadi miskin. Keserakahan Datuk Maringgih tak berhenti begitu saja.

Ia berpura-pura baik untuk meminjami uang pada Baginda Sulaiman dengan persyaratan, harus bisa melunasi utangnya dalam waktu tiga bulan. Namun, Baginda Sulaiman gagal melunasi utang. Ancaman penjara pun ia tujukan padanya. Sampai akhirnya Datuk Maringgih menginginkan Sitti Nurbaya untuk dijadikan istri mudanya. Ayah Sitti Nurbaya pun merelakan anaknya untuk diperistri Datuk Maringgih. Sitti pun mengikuti perintahnya, walaupun dalam keadaan terpaksa, bimbang, dan ragu.

Dari sekelumit kisah itu, dapat tergambarkan bahwa permasalahan utang membawa bencana. Pemberi utang semakin semena-mena dan serakah pada yang diutangi. Ayah Sitti Nurbaya secara tidak sadar telah menghilangkan eksistensi anaknya. Manusia telah disamakan barang. Keadaan itu juga mengidentifikasikan bahwa secara tidak sadar, Sitti Nurbaya telah menjadikan dirinya sebagai barang.

Tindakan Sitti Nurbaya itu juga mengalami kontradiksi bila dipandang secara teologis. Di satu sisi, ia merasa mendapat “pahala” karena patuh pada orang tua. Di sisi lain keraguannya itu yang membuat dia secara tidak sadar melanggar ajaran agamanya. Ini dapat diketahui sabda Muhammad saw.: “Tinggalkan hal yang masih meragukan bagimu menuju hal yang tidak meragukan bagimu.”

Kini, biografi-biografi utang telah tergantikan dengan kartu kredit. Utang yang tak berbentuk uang inilah yang telah membentuk ilusi-ilusi tidak manusiawi. Angka-angka yang tercetak dalam kartu kredit seperti menjadi daftar angka-angka kematian saja. Eksistensi manusia hilang karena tak ada interaksi. Kereligiusan angka dan sensibilitas terhadap orang telah tiada juga. Maka, biografi utang yang dulunya mengandung etis, kekuasaan, intelektualitas, filsafat, dan religiusitas, kini telah terhempas atau terhilangkan. Ironis!

Budiawan Dwi S., Pengelola Komunitas Tanda Tanya Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/ironi-manusia-berutang.html