Kenapa Jurnal Sajak?

Judul buku : Puisi Perempuan, Perempuan Puisi
Penulis : Jurnal Sajak
Penerbit : The Intercultural Insitute dan Komodo Books Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 148 halaman
Peresensi : Jamal D. Rahman *
http://www.balipost.co.id/

KINI adalah zaman ketika puisi bisa ditemukan di mana-mana, sekaligus sulit ditemukan di mana pun. Di era internat, facebook, twiter, blog, dan sebagainya, puisi bisa muncul dengan mudah di mana-mana. Di sana orang bisa membaca karya penyair yang diinginkan dengan cepat tanpa harus datang ke perpustakaan atau toko buku. Juga tanpa harus mengoleksi karyanya.

Ini adalah zaman ketika penyair bisa mengumumkan puisi, baik hanya kepada orang-orang yang memang mereka inginkan maupun bagi khalayak yang tidak seluruhnya bisa dibayangkan. Di sana, komentar dan apresiasi pembaca langsung dikemukakan pada penyairnya. Sajak dan pembacanya tidak berjarak.

Ini adalah zaman ketika puisi justru kerap sulit ditemukan. Di antara banjir puisi, kerap orang sulit bertemu puisi. Ini memang sebuah paradoks. Banyak dan membuat kita tenggelam di tengah ingar-bingar puisi dan dan sulit bertemu secara pribadi dan intim dengan puisi.

Ini adalah zaman ketika media untuk memunculkan puisi terbuka luas dan tersedia di mana-mana. Di zaman semacam ini, apa perlunya media khusus dan terbatas untuk puisi? Ketika tempat menjadi sedemikian terbuka, luas, dan tak terbatas, sebuah kontradiksi muncul. Ia berjumpa dengan sebuah paradoks. Tempat terbuka, luas, dan tak terbatas justru menghadirkan kebutuhan akan sebuah tempat tertentu, intim, ”terbatas”.

Saat kita berada di sebuah mall yang luas tempat segala barang terpapar di depan kita, kita justru memerlukan sebuah pojok, sebuah tempat terbatas dan intim untuk tempat sekadar minum kopi atau teh. Jurnal Sajak, jurnal cetak bagi puisi, adalah sebuah tempat intim dan terbatas di tengah ketakterbatasan dan keluasan dunia maya. Ia adalah sebuah pojok, sebuah kedai kopi bagi pertemuan yang intim dan terbatas.

Jurnal Sajak dilahirkan untuk merayakan keterbukaan bersastra di dunia maya sekaligus mengambil jarak dan membangun ruang intim. Jika perpuisian di internet adalah sebuah mall, Jurnal Sajak adalah sebuah kedai kopi. Begitu banyak bakat, begitu banyak antusiasme, begitu banyak kegairahan dalam menulis puisi sebagaimana terlihat di dunia maya dalam berbagai bentuknya. Namun, begitu sedikit ruang intim untuk saling menandai dan berapresiasi. Maka, jika perpuisian di internet menjadi penting karena ia tidak terbatas, Jurnal Sajak menjadi penting justru karena ia terbatas. Mengapa? Karena Jurnal Sajak membatasi diri hanya dan hanya untuk sajak dan dunia persajakan.

Sajak alias puisi menjadi satu-satunya yang terpenting dalam Jurnal Sajak. Nama penyair — senior atau junior, berpengalaman atau baru coba-coba, profesional atau amatir — sama sekali tidak penting bagi kami. Satu-satunya yang penting adalah mutu karya itu sendiri.

Banyak penulis pemula mengeluh karya mereka tidak diapresiasi karena belum punya nama. Beberapa penulis senior mengeluh karena justru nama mereka yang membuat mereka sulit menerbitkan karya-karya mereka. Ada sejumlah nama yang karyanya mendapat apresiasi berlebihan, dan ada sejumlah nama yang merasa karyanya terpinggirkan. Kita tidak tahu kebenaran semua ini. Namun, keluhan itu bagaimana pun perlu ditengarai dan beroleh perhatian.

Karya-karya

Jurnal Sajak memilih karya-karay untuk dimuat sama sekali tanpa mengindahkan nama penulisnya. Secara teknis, dalam proses seleksi puisi (Indonesia), redaksi akan memilih puisi tanpa registrar akan menyampaikan seluruh puisi yang masuk ke Jurnal Sajak tanpa nama penulisnya kepada redaktur.

Setelah para redaktur bersidang memilih puisi-puisi yang lolos untuk terbit dalam Jurnal Sajak, puisi yang lolos dikembalikan ke registrar. Registrar akan mengembalikan nama-nama penyair ke dalam karya mereka yang sudah lolos seleksi. Dengan demikian, lolos-tidaknya puisi dalam jurnal ini ditentukan oleh sang puisi itu sendiri, bukan oleh nama yang disandang penulis atau penyairnya. Puisi akan bersaing sesama puisi secara demokratis tanpa ”dukungan” penyairnya.

Tentu mekanisme semacam ini cukup merepotkan. Namun risiko itu kami ambil secara sadar demi puisi, agar puisi dinilai sebagai puisi itu sendiri. Lebih dari itu, sudah waktunya para penyair — baik amatir maupun profesional, pemula atau dedengkot — diperlakukan sama di majelis puisi. Nama-nama besar dalam perpuisian Indonesia akan tetap terpelihara di sana di dalam khazanah sastra Indonesia, namun para pemula setidaknya mendapat tempat untuk diperlakukan sama.

Jurnal Sajak tidak mengukuhi suatu mazhab puisi tertentu. Segala bentuk puisi, konvensional maupun eksperimental, tertib maupun menggila, mendapat peluang dan kehormatan yang sama. Puisi yang masuk ke meja redaksi, dipilih tanpa mempertimbangkan tema, nama, kecenderungan estetik, maupun muatannya. Ia dipilih sepenuhnya berdasar mutu dan pencapaiannya.

Hal ini berbeda dengan karya-karya dari mancanegara. Setiap terbitan Jurnal Sajak akan menampilkan sajak maupun esai penyair/penulis dari mancanegara sesuai dengan tema yang dipilih. Pada edisi perdana, karya para penyair perempuan terkemukalah yang mengisi sajak-sajak mancanegara. Demikian pula pada edisi-edisi berikutnya. Para penyair mancanegara dipilih sesuai dengan tema Jurnal Sajak. Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya kita semua agar pembaca perpuisian Indonesia juga bersilaturahmi dengan perpuisian dunia.

***

Kalau kami menyebut Jurnal Sajak adalah media terbatas, itu tidak berarti kami bermaksud membatasi diri. Tentu saja kami terbuka bagi kalangan apa pun, penyair mana pun, jenis puisi apa pun, pemikiran apa pun tentang puisi, dan lain sebagainya. Satu-satunya yang membatasi kami adalah mutu, sebab kami ingin memberikan yang terbaik pada Anda sekalian, juga bagi khazanah puisi Indonesia modern.

Dalam arti itu, Jurnal Sajak merupakan majelis terhormat bagi puisi. Inilah majelis tempat puisi bersilaturahmi secara intim dengan khalayaknya, saling berbisik, bertukar pikiran, merenung dalam diam, untuk mencari kedalaman demi kedalaman dan kebaruan demi kebaruan. Tentu saja puisi merupakan alat kita mencari kedalaman dan kebaruan, yakni kedalaman yang menggugah dan kebaruan yang menyegarkan. Mungkin puisi tidak mencapai kedua-duanya, tetapi puisi yang baik bagaimana pun akan menggugah, menyentuh, dan menyegarkan.

Banyak pihak telah mendukung dan membantu terbitnya jurnal ini, yang tak mungkin kami sebutkan seluruhnya. Bahkan beberapa sastrawan terlibat langsung dalam menyiapkan edisi perdana ini. Ingin kami sebut: Dorothea Rosa Herliany, Gus tf, dan Joni Ariadinata. Kepada mereka semua, kami sampaikan terima kasih sedalam-dalamnya.

Karena Jurnal Sajak merupakan media terbatas, maka ia harus sampai kepada, dan dibaca oleh orang-orang yang ”tepat”. Sekali lagi: dibaca oleh orang-orang yang ”tepat” — dan itu kiranya adalah arti penting jurnal ini. Dan, orang yang ”tepat” itu adalah Anda. Ya, Anda yang sedang membaca Jurnal Sajak ini.

* Jamal D. Rahman, kritikus sastra
Sumber: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=53895