Lagu “Bengawan Solo” Klaim Belanda Akhirnya Terbantahkan

Endang Kusumastuti
http://www.suarakarya-online.com/

Klaim negeri Belanda atas lagu “Bengawan Solo” akhirnya terbantahkan. Sejak pencipta lagu itu, Gesang, masih terbaring di rumah sakit di Solo, pemberitaan mengenai klaim lagu tersebut sudah beredar. Pemberitaan tersebut bahkan meluas setelah Gesang meninggal dunia, kemarin.

Terbantahkannya klaim Belanda atas lagu “Bengawan Solo” dikuatkan dengan hadirnya bukti-bukti yang diberikan PT Penerbit Musik Pertiwi (PMP), selaku perusahaan yang diberikan pihak keluarga Gesang untuk mendapatkan royalti. “Dengan bukti itu, maka klaim Belanda atas lagu “Bengawan Solo” cuma isapan jempol,” ujar pihak PT Penerbit Musik Pertiwi.

Presiden Komisaris PT PMP Hendarmin Susilo di sela-sela upacara pemakaman maestro keroncong Gesang di Pendopo Gede Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Jumat (21/5), juga mempertegas jawabannya kepada wartawan bahwa lagu “Bengawan Solo” bukan ciptaan orang Belanda, melainkan ciptaan Pak Gesang, orang Indonesia asli asal Solo, Jawa Tengah.

“Memang ada pencipta lagu yang mengklaim bahwa lagu “Bengawan Solo” merupakan ciptaan dari pencipta lagu dari Belanda. Tapi, bukan hanya satu orang, melainkan empat orang Belanda yang mengklaim lagu tersebut. Padahal, kami memiliki bukti autentik bahwa lagu itu merupakan ciptaan dari Pak Gesang,” ujarnya.

Bukti-bukti autentik tersebut telah diberikan kepada Buma Stamara selaku pihak yang mengurusi lagu “Bengawan Solo” di Belanda. Lebih lanjut Hendarmin mengatakan, bukti tersebut telah diserahkan kepada Belanda pada Mei tahun 2009, dan saat ini Belanda telah mengakui bahwa lagu “Bengawan Solo” merupakan ciptaan Gesang.

“Sekarang tinggal mengurus hak royalti, sebab selama ini royalti diterima oleh pencipa lagu dari Belanda yang mengklaim lagu tersebut,” ujarnya lagi.

Salah satu bukti yang diberikan, antara lain lagu “Bengawan Solo” tersebut diciptakan Gesang pada tahun 1940, sedangkan orang Belanda itu mengklaim lagu tersebut diciptakan pada tahun 1942.

“Dari bukti itu jelas bahwa lagu tersebut benar ciptaan Gesang. Pengakuan dari Belanda tersebut telah dikirimkan melalui surat klarifikasi dan mengaku salah,” katanya.

Untuk jumlah pasti kerugian akibat klaim dari Belanda tersebut, pihaknya belum mengetahuinya secara pasti. Untuk tahun lalu saja nilai royalti yang diperoleh Gesang mencapai Rp 100 juta/tahun. Royalti tersebut untuk beberapa lagu, termasuk salah satunya berjudul “Bengawan Solo”. Tahun ini jumlah royalti yang diterima Gesang memang menurun karena banyaknya penjiplakan dan juga lagu-lagu yang di-download lewat internet. Disinggung penerima royalti dari ahli waris Gesang selanjutnya, Hendarmin mengatakan, hal tersebut masih akan dibicarakan dengan pihak keluarga. Sebab, selama hidupnya, Gesang tidak memiliki anak.

“Sesuai dengan aturan, royalti diberikan hingga 50 tahun sejak meninggal. Tetapi, karena Gesang tidak memiliki anak, maka ahli waris akan ditunjuk secara hukum setelah prosesi pemakaman ini selesai,” ujarnya lagi.

Di sisi lain, pihak pemerintah pusat yang diwakili Menko Kesra Agung Laksono mengatakan bahwa klaim Belanda tersebut tidak benar. Karena lagu “Bengawan Solo” telah didaftarkan ke Dirjen Haki. Dan, saat ini telah ada 44 lagu ciptaan Gesang yang didaftarkan ke Dirjen Haki sejak tahun 2009.

24 Mei 2010Suara Karya