Masjid Babakan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

EYANG BABAKAN menjauhi pusat kekuasaan kadaleman ketika ambisi ingin jadi si penguasa yang direstui Belanda berubah menjadi keculasan Dajjal-dengan bersengaja memfitnah saudara. “Tak ada yang abadi selain yang dipersiapkan untuk melakoni alam keabadian,” katanya-meninggalkan hak jadi dalem, meninggalkan kadelaman, serta jadi pendakwah di udik. Mengembara di sepanjang pesisir selatan sambil setengah melarikan diri dari tuduhan orang yang berniat menentang kuasa Belanda. Sampai fitnah itu dicabut Belanda karena dalem penggantinya terbukti menyengsarakan-rakyat berontak tak tahan beban pajak berlebih.

Tapi Eyang Babakan tak mau masuk ke lingkaran kadaleman, ia memilih membuat kampung baru, Babakan, dengan membuat hamparan pesawahan baru dan sebuah rumah dengan mesjid sederhana-setengah tembok dan setengah bilik bambu. Di mana di masa tuanya ia menerima kunjungan murid-murid dakwahnya dari udik di pesisir selatan. Dan di mana ia dimakamkan di dekat masjid kecil itu-di sekitar era perpindahan abad ke-XX. Dengan banyak si anak keturunan yang memilih menjadi bagian dari struktur kadaleman, dengan gelar raden dan menjadi ambtenar, dan yang tetap bersetiap jadi orang biasa yang menempuh kehidupan sebagai petani. Sampai kampung tumbuh membesar dengan orang-orang yang entah siapa berdatangan dalam rentangan nyaris seratus tahun terakhir.

Tahun-tahun yang menyebabkan keturunan Eyang Babakan terpecah, dan berserak sebagai diaspora yang mengejar hidup yang lebih baik dengan pekerjaan mapan yang bisa meningkatkan predikat si bersangkutan dalam kemenjabatan di satu sis. Dan dengan yang suntuk bertani dan sukses sebagai si petani betanah luas-selain yang semakin kehilangan tanah dan menjadi si buruh tani atau penjaja di pasar. Tapi kami selalu dihubungkan oleh acara haul Eyang Babakan, ketika setiap orang datang buat berziarah dan aktif menjadi si yang saling mempertautkan tali silaturahmi-juga anak keturunan si murid dakwah Eyang Babakan di pesisir selatan. Bertemu serta bersitukar salam. Sampai kehidupan modern menyerap kami semua ke dalam reduktor sibuk dan transaksi.

SAAT itu rumah tumbuh di dapur serta di sisa halaman sebelah. Menjadikan Babakan kampung dengan rumah-rumah mungil, padat di gang sempit yang hanya masuk sepeda motor. Kalau berpapasan salah satu harus mengalah masuk ke cabang gang lain.

Saat pendatang lebih dominan dari penduduk trah Babakan dan merasa sebagai bagian dari trah Babakan, saat si generasi keempat trah Babakan asli meninggal sebagai orang biasa yang dimakamkan di wakaf desa di perbukitan selatan, dan saat si keturunan kelima tak ingat apa-apa selain usaha keras subsistensi mencukupi hidup. Dan masa warga yang shalat berjamaah banyak, saat masjid terasa jadi begitu sempit dan tidak mungkin diperluas lagi-tanah kosong dijejali makan keturunan kesatu, kedua dan sebagian keturunan Eyang Babakan.

Dan hal itu merangsang untuk dilakukan renovasi total, masjid itu harus dibuat dua lantai hingga jamaah wanita dan lelaki dipisahkan saat shalat tarawih dan utamanya saat Idul Fitri. Rapat-rapat diselenggarakan, kepanitiaan ditegaskan meski tak memakai acuan hukum dan pengacara, tapi sasaran sudah jelas: membangun masjid dengan tak merubah ukuran, dengan berpedoman gambar yang telah disetujui-yang mengacu kepada seorang pemborong, dan mulai mengumpulkan dana dari semua keturunan keenam dan ketujuk Eyang Babakan. Ada kontak-kontak telepon, ada rekening yang pencairan uangnya harus melewati lima tanda tangan, dan ada tenaga kasar lapangan suka rela yang bersidatangan. Terkadang dengan membawa jajan, minuman, rokok dan makan pagi dan siang sendiri-meski itu sering datang dari penghuni kampung yang lain yang tidak bisa ikut kerja bakti. Khas desa. Penuh kebersamaan trah Eyangt Babakan.

Spontanitas itu terkadang membuat beberapa panitia berani membeli bahan sendiri. Ngebon semen, besi penguat struktur beton, paku, dan entah apa lagi. Bahkan bersigerak dari rumah ke rumah di RT lain, RW lain, dan di desa lain untuk minta sumbangan uang; atau beras, lauk, dan rokok bagi si pekerja suka rela yang bersidatangan; meski hidangan atau jajan atau rokok tak bisa dihitung dan tidak pernah dihitung karena itu teramat susah dipertanggungjawabkan-terkadang panitia ada yang bersengaja menyembunyikan rokok, lauk, serta sisa apa saja karena si yang menyumbang makan atau minum atau jajan atau rokok berdatangan tak terkontrol. Saat ketika yang berpunya menyumbangkan apa yang dipunyaianya sehingga yang pas-pasan hanya menyumbangkan menu yang tak disentuh-dan karenanya bila luang mereka lebih memilih jadi tukang atrau yang bergerombol yang dimanjakan oleh penganan yang berlimpah.

“Tiga bulan begini abdi bisa kena kolesterol,” kata Karyanah, melawak. Dan semua tertawa, meski sesekali saling berbisik dan menunjuk-di belakang punggung-si panitia yang rakus menyembunyikan rokok, jajan enak, atau menu makan istimewa bagi dirinya sendiri-bahkan dibawa pulang. Saling tatap ketika mulai klemaruk menemui keturunan trah dan murid Eyang Babakan, yang tidak terinpentarisasi dan luput tak terhubungi tapi kebetulan berziarah sebelum ada belajar atau mutasi ke tempat lain. Sigap menunjukkan gambar renovasi, menunjukkan biaya, serta setumpuk kuintasi catatan tentang biaya yang telah terkumpul. Berebut akan datang mengambil uang sumbangan-tak perlu dikirimkan ke rekrning Bank yang saat mencairkamnya memerlukan lima tanda tangan-, karenanya membuat si yang berziarah itu bersikerut kening. Bukankah kirim uang ke rekening lebih cepat, bisa dengan telepon dan laptop, serta bisa dijamin pasti masuk?

Mereka berebut akan mengambil uang kontan-beberapa malah telah kreatif datang untuk mengambil uang kontan. Saat ditanyakan oleh Bendahara, mereka bilang sebagian telah dibelikan bahan, tapi mereka tak pernah menyerahkan kuantasi ketika diminta bukti pembeliannya. Cukup berkata, “Nanti-lah-percayakan sama akang!” Lantas, terkadang, ada datang minta uang kas dengan menunjukkan kuintasi-yang rasanya bukti pembelian sebelumnya-, karena telah terpaksa membeli barang tertentu dengan duit pribadi. Rumit. Dan karenanya tak bisa dibuatkan pembukuan, uang masuk tidak jelas-lewat pribadi dan tanpa tanda terima-, uang ke luar juga tak bisa dipertanggungjawabkan sebab ada barang yang dibeli tanpa kuintasi dan barang baru dengan kuintasi untuk pembelian sebelumnya.

“INI uang untuk membangun masjid, kang. Ini uang untuk memuliakan Allah SWT dan menjaga moral anak-anak kita yang akan bebas belajar mengaji di lantai dua. Jangan curang, kang!” teriak Nayakah dalam rapat terakhir. Si yang dituding balik menggeberak. Bilang kalau tidak mengerti jangan sembarang menuduh. Bilang ia pemborong-bukan si, sekedar kernet dan tukang jahit-, dan mengerti fluktuasi harga barang hingga tak pernah punya patokan (harga) tetap. “Kecuali bila beli kontan di muka untuk semua barang, dan kerugian karena fluktuasi harga tanggungan toko-kita tidak punya modal besar, bahkan terpaksa ngutang ke toko dulu, sehingga pembayarannya jadi lebih tinggi,” sergahnya lebih garang. Rapat menegang: siap jadi perkelahian karena ngotot-ngototan adu kuat.
Si seseorang bangkit dan minta rapat dibubarkan- “kita cooling down dulu-lah,” katanya.

Sudah lama orang-orang bersikelisik, bilang bahwa ada panitia yang aktip meminta sumbangan-sumbangan kecil personal untuk beli ini-itu tapi tak ada pertanggungjawaban uang masuk dan uang ke luar-tanda terima serta kuintasi. Sementara ada telepon masuk, yang menanyakan uang yang diambil si A tanggal sekian telah sampai ke kas atau belum. Ada apa? Kenapa? Uwa Kersana, si generasi kelima Eyang Babakan bilang bahwa siklus Eyang Babakan sedang terulang.

Kesimelimpahan serta kemulyaan yang gampang diraih, dan sekaligus mengandaikan ada kekuasaan dan kemuliaan yang lebih besar lagi itu akan membuat orang lupa diri, menghalalkan segala cara untuk mencapai kesimelimpahan dan hidup bersenang di dalam kesimelimpahan. Tersenyum dan pelan menggeleng-gelengkan kepalanya-menganjurkan agar kami yang mengadu ber-istigfar.

“Itu yang dihindarkan Eyang Babakan dengan tak mau memasuki balik di struktural kadaleman dan menjadi dalem-hawa serta godaan duniawi. Kini kesimudahan serta rasa saling mempercaya membuat beberapa orang tersesat-tapi maafkanlah mereka,” katanya bijaksana menengahi. Kami tersentak. Dengan tersenyum Uwa Kersana bercerita tentang hobi memancing Eyang Babakan. “Kalian tahu, kenapa?” katanya, “Itu karena bisa jadi alat untuk melatih sabar menunggu rejeki yang memang sudah disicadangkan oleh Allah SWT bagi kita-bila tidak ada rejeki yang dicadangkan-Nya maka tak akan ada ikan yang nyangkut, ataupun kalau ada hanya si ikan liar yang akan memutuskan tali kail. Sekaligus di dalam menunggu itu kita bisa total berpasrah diri dengan mempersitebal iman-dengan berdzikir atau merapal ayat-ayat Qur’an yang telah dihapal. Itu intinya: kalian paham?”

KAMI tak paham, tapi kami mengiyakannya. Setelah pamit kami bersirunding di rumah Ayakah. Karyanah bilang itu simbol, dan karenanya harus diikaitkan dengan satu pitutur Sunda-kudu leuleus joran ketika mengatasi kemelut-, dengan memilih cara halus tanpa gejolak agar bisa lembut mengendalikan kekuatan liar memberontak dari ikan yang tersipancing. “Jadi?” kata Nayakah. Pelan Karyanah tersenyum. “Kita tidak perlu ngotot,” katanya, “Kita lebih baik mundur, lantas menyerahkan semua proyek pembangunan pada ahlinya-saya kan cuma kernet, kamu cuma tukang jahit, dan yang lainnya hanya petani, kuli angkut, opas kecamatan, dan si yang tidak tahu apa-apa tentang proyek membangun masjid dan mengelola dana sumbangan proyek. Kita mundur dan menonton si para orang pintar merehabilitasi masjid Eyang Babakan.”

“Seperti Eyang Babakan, dulu?” “Seperti dipesankan Eyang Babakan: Jangan memasuki fatamorgana kekuasaan!” Semua orang tertawa. Dan sejak saat itu tak ada tenaga suka rela yang datang untuk mengerjakan hal-hal kasar di sembarang waktu, sekaligus beberapa panitia menyerahkan dana sumbangan di rekening Bank pada si panitia ahli, berbarengan dengan tidak adanya lagi sumbangan rokok, minuman, dan makanan yang biasanya melimpah. Kini, di puncak tugas penghalusan proyek rehabilitasi: hanya tinggal tiga orang panitia inti yang sibuk di masjid Babakan-bahkan tinggal dua saat si yang seorang lagi ikut mundur. Dan rasanya pembangunan masjid Babakan akan sampai pada limit: dianggap telah selesai meski masih harus dilakukan penghalusan finishing-dan semua orang tahu dananya masih ada, selain tersisa dari sumbangan yang lupa tak diberi tanda terima dan si pengeluaran yang tidak punya kuintasi atau memakai kuintasi dari pembelian sebelumnya.

Di luar itu, meski baru sampai tahap hampir selesai, masjid Babakan itu tetap ramai saat dipakai shalat Jumat-dan terutama saat berjamaah ketika Shubuh, Magrib dan Isya. Dan rasanya akan tetap ramai saat shalat Tarawih pada Ramadhan mendatang ini-seperti biasanya. Karena itu hakekat dari masjid-buat beribadat dan bukan buat ramai berlomba menyumbangkan uang sebesar-besarnya sehingga ada yang tergoda buat tak meneruskan amanah ingin ikut membangun masjid-supaya amal ibadatnya kekal di selama bangunan masjid selalu diramaikan oleh si yang beribadat. Dan justru beribadat itu yang diandalkan Eyang Babakan, seperti yang selalu ditekankan sejak awal oleh Eyang Babakan. ***

20 Agustus 2011Suara Karya Online

Catatan:
Eyang : kakek, cikal bakal dari satu trahdalem, kadaleman : bupati, kabupaten. bilik : gedeg, dinding anyaman bambu tipis. ambtenar : pegawai di zaman kolonial Belanda. abdi : aku, saya pitutur : ucapan bijak yang disampaikan turun temurun. kudu leuleus joran : harus (dengan) kelenturan lembut tangkai pancing.