Nanang Suryadi Sang Multikultural

Yatimul Ainun
http://www.beritajatim.com/

“Biar. Jika kau tak mau temani. Biar kurasakan nyeri sendiri. Di puncak sepiku sendiri”. Begitu isi penggalan bait akhir puisi berjudul Biar, dikarang Nanang Suryadi dari buku puisi yang juga berjudul Biar!.

Puisi tersebut dicipta oleh sastrawan dari Universitas Brawijaya (UB) Malang yang lahir 8 Juli 1973 di Polumerak, Serang Banten. Hadir dalam launching buku tersebut sebagai Djoko Saryono dan Yusri Fajar yang juga mengajar di Universitas Brawijaya Malang.

“Buku ontologi puisi yang ditulis Nanang Suryadi itu sangat luar biasa. Mengapa demikian, karena puisinya mampu menjelajah kemasa lampau dan yang akan datang. Penuh hiruk pikuk sosial yang mampu menjelma kata penuh bunyi dan makna,” kata Djoko Saryono.

Nanang Suryadi itu, kata Djoko, ibaratnya manusia yang sangat paradoksal. “Menjadi seorang penulis itu akan selalu dikenang karena karyanya. Namun, kalau seorang ekonom tak ada yang dikenang. Karena tak ada karyanya. Di tengah masa ke dua, sudah tidak banyak lagi yang peduli pada teks. Tetapi pada lisan semata,” katanya.

Nanang, aku Djoko, dalam mengarang puisi tak merasa terbebani dengan berbagai aliran yang kini berkembang. “Dia menulis dengan bebas dan memiliki gaya dan karakteristik tersendiri. Karena itu, Nanang adalah sosok sastrawan yang multikultural dalam mengarang puisinya ini,” katanya.

Sementara itu, menurut Yusri Fajar, Nanang dalam menulis puisi masih setia menggunakan teknik repetisi. Repetisi bisa meliputi bunyi, suku kata, kata, frasa, bentuk metrikal dan struktur sintaksis. “Dalam ontologi buku berjudul ‘Biar!’ Nanang lebih banyak terfokus pada repetisi kata, frasa dan sintaksis dalam baris,” nilainya.

Selain itu, Nanang juga sering melakukan pengulangan terstruktur dalam bait penutup. “Repetisi dalam puisi Nanang secara subtansial, saya katakan, ada kemiripan dengan gaya Sutardji. Namun, dalam buku yang dikarang Nanang itu, penuh dengan permainan indah repetisi, dan diwarnai dongeng menarik,” katanya.

Sementara menurut Nanang Suryadi sendiri, antologi puisi dan juga puisi yang ditulisnya itu tak lepas dari perjalanan dirinya, yang saat ini berada di kehidupan kota. “Semoga apa yang saya tulis mampu memberikan pencerahan bagi pembaca,” katanya singkat.

19 April 2011