Novelis “Pemberontak” yang Cinta Tanah Leluhur

Elly Burhaini Faizal
Suara Pembaruan, 24 Juli 2007

SUNGGUH, malang nian nasib manusia Indonesia! Sebagai manusia, ia nilainya nol di mata manusia Indonesia yang lain. Manusia Indonesia tidak berharga, kecuali jika ia punya definisi hubungan dengan sesama manusia Indonesia yang lain atau masyarakat secara lebih luas. Ismet Fanany, sastrawan asal ranah Minang yang kini bermukim di Australia, barangkali satu dari segelintir orang yang sadar betapa rendahnya nilai manusia Indonesia. Keprihatinan itulah yang tertuang pada Bulan Susut, novel terbaru Ismet yang diterbitkan belum lama ini.

“Bentuk dan tinggi rendahnya nilai manusia Indonesia ditentukan oleh kedudukan tiap-tiap manusia Indonesia, dan makna dari hubungan tiap-tiap kedudukan tersebut di dalam masyarakat Indonesia,” ungkap Ismet Fanany dalam diskusi dan peluncuran buku Bulan Susut yang digelar The Wahid Institute bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kabar Baik (LPP-KB), belum lama ini.

Manusia Indonesia, kata Ismet, seringkali tidak dianggap berharga hingga mereka memiliki kedudukan. “Orang dianggap tak berharga, hingga ia punya definisi dalam hubungannya dengan masyarakat, entah sebagai tentara, menteri, presiden ataupun konglomerat. Manusia Indonesia tidak dianggap berharga hanya dengan bersandar pada kemanusiaannya semata,” ungkap Ismet, yang kini menjabat sebagai Ketua Program Bahasa dan Kajian Indonesia di Universitas Deakin, Melbourne. Manusia Indonesia tidak akan dihargai jika belum menjadi “sesuatu”.

Manusia Indonesia, kata Ismet, juga senantiasa melihat manusia-manusia lain dari luar Indonesia seakan-akan jauh lebih baik. Pengalaman buruk itu pernah dialami ketika berkesempatan pulang kampung ke Kotopanjang, Tanah Datar, Sumatera Barat, bersama istrinya, Rebecca Fanany, yang berkebangsaan Amerika.

Tatapan mata orang-orang di sekelilingnya terasa menusuk tajam, ketika Ismet dan Rebecca pergi ke pasar. Kebetulan, Ismet hanya berkemeja lusuh dan bercelana pendek. Kakinya pun hanya mengenakan sandal jepit agar lebih nyaman berjalan di lorong-lorong pasar yang kotor dan becek. Tiba-tiba, seorang pria menyapa Rebecca, yang berdiri tidak jauh darinya.

“Maaf, apakah Bapak ini penerjemah Anda?”

Rebecca menggeleng sambil menyahut, “Bukan, Pak.” Kebetulan Rebecca fasih berbahasa Indonesia.

“Oh, kalau begitu, dia pasti sopir Anda?” kata orang itu sekali lagi. Rebecca lagi-lagi menggelengkan kepala.

“Pembantu Anda, barangkali?” Untuk kesekian kalinya Rebecca menggelengkan kepala.

Tetapi kali ini, Rebecca menggeleng sembari mengatakan, “Beliau suami saya.” Orang itu pun tercengang luar biasa. Yang lebih mencengangkan, pria itu masih dengan yakinnya mengatakan, “Saya tidak percaya!”

Meskipun tidak sepenuhnya sama, peristiwa pahit yang dialami Ismet di tengah-tengah pasar Minangkabau bertahun-tahun yang lampau cukuplah menggambarkan bagaimana pandangan manusia Indonesia terhadap orang- orang sebangsa. Manusia Indonesia senantiasa memandang manusia-manusia di luar mereka lebih tinggi. Sementara saudara sebangsa dipandang rendah jika tidak memiliki “kedudukan” apa-apa. “Ini patut disayangkan,” kata Ismet, penulis novel yang lama merantau ke negeri orang, tetapi tetap terikat hatinya dengan tanah leluhurnya di Minangkabau.

Mengapa manusia Indonesia cenderung tidak menghargai manusia Indonesia lainnya? Entahlah. “Latar belakang sosial, ekonomi, bahkan budaya, bisa bercampur-baur menjadi pemicunya,” ungkap mantan ketua jurus- an bahasa dan kajian Asia di University of Tasmania, Australia, serta dosen di jurusan kajian Melayu di National University of Singapore tersebut.

Yang jelas, kata Ismet, manusia Indonesia baru dihargai jika sudah menjadi “sesuatu”. Ironi inilah yang dituangkan cukup apik oleh Ismet dalam novel terbarunya, Bulan Susut.

Ridwan, dikisahkan dalam novel ini, sebagai seorang pria yang sejak kecil sudah dekat dengan pusat kekuasaan. Uang, perhatian, kepercayaan dan segala sesuatu yang ia inginkan, begitu mudahnya untuk didapatkan. Ridwan pun terdidik untuk dapat berbuat semaunya. Semua boleh ia lakukan, asal jangan memalukan nama keluarga. Watak yang suka bertindak semau sendiri mengendap, karena sejak kecil hidup Ridwan sudah dipenuhi persaingan untuk mendapatkan tempat terhormat di dalam keluarga dan masyarakat.

Segala kelebihan yang dimiliki ternyata masih juga tidak cukup membebaskan Ridwan dari rasa iri hati terhadap Kadir, sepupunya sendiri. Perasaan terkalahkan oleh Kadir dalam hal berebut cinta Upik tak kunjung pupus dari benak Ridwan, meski perhatian dan cinta dari wanita lain yang lebih dewasa sudah ia dapatkan.

Kekalahan, yang mengkristal menjadi dendam pada Kadir, terus membayangi pikiran Ridwan meski ia sudah terusir dari kampung halamannya karena berbuat kesalahan. Sayang, di perantauan, Ridwan malah menemukan jalan agar ia dapat lebih dekat lagi dengan kekuasaan, yang dapat membuat dia memperoleh segalanya, termasuk membalaskan dendam kepada sepupunya.

Ismet, melalui novel ini, secara tidak langsung mengkritik budaya Minangkabau, serta budaya masyarakat Indonesia secara umum, yang menurutnya banyak menyimpan segudang hipokrisi. Pelanggaran, penyimpangan dan berbagai perbuatan buruk banyak terjadi di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau, maupun masyarakat Indonesia, yang dikenal religius.

“Tidak heran apabila masyarakat Indonesia tetap terpuruk setelah dihantam badai krisis, sebab kadang-kadang agama pun dipakai untuk memperalat, membeda-bedakan orang lain, dan bukan sebaliknya dipakai untuk bagaimana lebih menghargai orang lain,” ungkap pria kelahiran Kotopanjang, Tanah Datar, tahun 1952, yang meraih gelar PhD dari Cornell University, Amerika Serikat, tahun 1990.

Kendati gagasan Ismet tentang tanah kelahirannya dinilai cenderung diselimuti nuansa yang sangat pekat akan tradisi “pemberontakan” si Malin Kundang, bapak dua anak itu mengaku latar belakang Minangkabau dalam novel dan cerpen yang ia tulis sesungguhnya refleksi kecintaan dia terhadap budaya tanah leluhurnya tersebut.

Bulan Susut, terbitan Kompas, adalah novel ke-2 novelis produktif yang menulis fiksi sejak di bangku PGA tersebut. Cerpen pertama dia dimuat di Suratkabar Haluan, Padang, sewaktu ia masih kuliah di Jurusan Bahasa Inggris IKIP Padang. Novel pertamanya berjudul Kusut, yang diterbitkan oleh Dian Aksara Press tahun 2003.

Dua novel tersebut baru saja terpilih oleh National Endowment for the Arts (NEA), sebuah badan pemberi dana nasional AS dalam bidang kesusasteraan. NEA mendanai penerbitan Bulan Susut ke dalam Bahasa Inggris, yang terjemahannya dikerjakan oleh sang istri, Rebecca Fanany.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/07/sosok-novelis-pemberontak-yang-cinta.html