MENULIS ITU BUKAN BANCI

[Menulis itu Banci?] Dari Jambore Satra di Kaki Kahyangan
Wina Karnie *
http://winakarnie76.multiply.com/

Kota Ponorogo memang tak asing lagi di telinga saya. Selain letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan kota Magetan. Ponorogo juga terkenal dengan icon reognya yang bagi saya tak asing sama sekali. Sejak kecil saya sudah mengenal budaya reog melalui salah satu warga yang sedang melangsungkan hajatan. Mereka mengundang untuk hiburan para tamu undangan. Tapi sekarang tradisi Itu mulai luntur di desa kami. Continue reading “MENULIS ITU BUKAN BANCI”

Negeri Kita Belum Merdeka

Wawan Eko Yulianto *
oase.kompas.com

“NEGERI KITA BELUM MERDEKA!” begitulah kira-kira bunyi headline dua koran lokal menyusul ‘pemerkosaan’ sebuah monumen kemerdekaan hasil sumbangan yang baru diresmikan.

Dua minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan, para veteran yang dulunya tergabung ke dalam tentara pelajar mengundang bapak walikota dan para wartawan ke sebuah sudut jalan di sebuah pemukiman. Continue reading “Negeri Kita Belum Merdeka”

‘Tiga Jagoan’ dan Orang-Orang Merdeka

Eep Saefulloh Fatah
http://www.bookoopedia.com/

Sastra, Kebebasan dan Peradaban Kemanusiaan; merupakan buku karya sastra yang dihimpun oleh 3 penulis berlatar pemikiran progresif, ideologis, visioner, dan humanis.

Buku himpunan esai, prosa liris, puisi, cerpen, dan esai liris; telah menegaskan fungsi sastra sebagai alat pelurusan sejarah, pembebasan dan perjuangan bagi nilai-nilai kemanusiaan. Continue reading “‘Tiga Jagoan’ dan Orang-Orang Merdeka”

Badai Puisi dari Belanda: Kiriman Heri Latief

Asep Sambodja
http://asepsambodja.blogspot.com/

Penyair Heri Latief membuka mata semua orang tentang kenyataan yang terjadi di Indonesia. Setahun sebelum kasus mafioso peradilan terungkap di Mahkamah Konstitusi pada Selasa, 3 November 2009, Hari Latief (2008) sudah bersuara lantang melalui puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka. Kenyataan yang begitu telanjang tentang bobroknya aparat hukum di negeri Indonesia ini pun telah lama diteriakkan penyair Indonesia yang tinggal di Amsterdam, Belanda, ini. Continue reading “Badai Puisi dari Belanda: Kiriman Heri Latief”

Bahasa ยป