Mahmud Jauhari Ali
Pria bertubuh ceking itu masih tertatih-tatih menggendong mayat adiknya. Ia baru saja merapat dari sungai kecil dengan sebuah perahu motor. Sudah satu jam ia meninggalkan kota. Ia diburu, jiwanya ditingkahi ketakutan teramat sangat. Hanya adiknya yang dapat ia bawa. Itu pun jasadnya saja. Kakinya berlumuran darah akibat sayatan belati di paha kiri dan telapak kaki kanannya. Tubuhnya kemudian roboh di tanah becek dekat pohon beringin yang berdiri tegak. Tak ada manusia lain yang tahu ia roboh. Diciumnya mayat adik kesayangannya yang baru berusia 15 tahun itu. Mayat wanita muda itu kini dipeluknya erat. Ia menangis, hatinya pedih, wajahnya seperti orang gila yang sedang meringis campur tawa. Continue reading “Sepasang Pencari Ikan”
